BLORA – Shelter lapak pedagang kaki lima (PKL) di Alun-alun Blora dikeluhkan pedagang.
Kondisinya sudah tidak layak karena mulai lapuk dan berkarat, sehingga butuh perbaikan.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, beberapa shelter PKL di bagian selatan dan timur memang rusak.
Baca Juga: Ini Dia Tiga Jenis Pesawat Milik Akademi Penerbangan Banyuwangi Mendarat di Bandara Ngloram Blora
Beberapa di antaranya tak lagi memiliki atap.
Sehingga para pedagang menggantinya dengan terpal.
Selain atap, kerusakan shelter bisa dilihat dari tiang-tiang sudah dan banyak berkarat hingga nyaris putus.
Untuk tetap bisa berdiri, para pedagang menggantinya dengan bambu.
Baca Juga: Begini Potret saat Ratusan Warga Blora Gelar Aksi Dukung Palestina hingga Ajak Boikot Produk Israel
Seorang PKL yang sudah berdagang sejak 2010 Ngadiyanto menjelaskan jika sudah setahun belakangan ini kondisi shelter memprihatinkan. Karena sudah banyak yang rusak. Baik atap hingga tiang.
Kondisi tersebut mengakibatkan pedagang kesulitan saat hujan. Karena bocor.
Sementara saat siang kepanasan.
Sehingga membuat pembeli dan pedagang tak nyaman.
Baca Juga: Kabar Baik! Bandara Ngloram Blora Mulai Layani Penerbangan Jamaah Umroh ke Halim Perdana Kusuma
Atas kerusakan-kerusakan itu sebenarnya para pedagang tak tinggal diam.
Mereka sudah mengajukan proposal perbaikan kepada pemerintah. Namun sejauh ini belum mendapatkan respon.
"Padahal kami ya rutin membayar retribusi. Tiap malam Rp 2 ribu," katanya.
Menurutnya total ada 27 PKL yang terfasilitasi oleh shelter tersebut.
Tetapi di luar shelter ada pula pedagang yang berjualan di area alun-alun. Total menurutnya hampir seratus.
"Ini kan andai semua ditarik retribusi, ya harusnya ada pemasukan. Dan harusnya kami juga mendapatkan fasilitas yang layak," tambahnya.
Ia pun mencontohkan beberapa daerah dengan fasilitas lapak PKL di alun-alun dengan kondisi yang jauh lebih baik. Misalnya di Alun-alun Purwodadi.
"Padahal kemampuan APBD-kan ya mirip-mirip. Masak Blora tidak bisa membangun alun-alun," imbuhnya. (tos/ali)
Editor : Abdul Rokhim