BLORA - Pemilik sumur bor di Desa Pilang, Randublatung, mendapat berkah dari musim kemarau.
Mereka dapat pesanan air dari warga baik Blora maupun luar kota. Dalam sehari mereka bisa meraih omzet Rp 3 juta.
Saat wartawan Jawa Pos ini ke lokasi sumur bur, ada dua tempat penampungan air yang ditaruh pada terpal. Air yang dialirkan ke terpal itu berasal dari dua sumur bor di dekat lokasi.
Setelah dalam penampungan terpal, air itu kemudian dialirkan dengan pompa air ke truk-truk yang memuat torn yang sudah terparkir.
Pemilik depot air itu ialah Sukarjo alias Joid warga Desa Pilang. Ia mengaku memiliki dua sumur bor di wilayah tersebut.
Dua sumur dengan kedalaman masing-masing 100 dan 60 meter itu semula difungsikan untuk kebutuhan pertanian.
Namun perlahan, seiring kemarau panjang tahun ini, kini berubah fungsi. Yakni membantu pemenuhan kebutuhan air bagi warga di berbagai desa sekitarnya.
"Kalau untuk kebutuhan sosial seperti pemadam kebakaran, bantuan air bersih memang gratis," jelasnya.
Namun bila orang yang mengambil untuk kebutuhan komersil seperti dijual maka dikenakan biaya. Yakni sekali pengambilan untuk 4.000 liter dikenai biaya Rp 25 ribu.
"Sehari sejak dua bulan terakhir bisa 100-130 kali truk yang bolak balik ambil air. Kalau diglobalkan ya 500.000-600.000 liter setiap harinya," jelasnya.
Artinya bila dinominalkan omzet dari penjualan air itu dalam sehari mencapai Rp 3 juta.
Menurutnya, tahun ini jumlah para pengambil air terbilang banyak. Itu semenjak empat tahun terakhir.
"Yang mengambil air ini dari Kecamatan Jati, Randublatung hingga perbatasan Blora-Grobogan," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung Wahyudi menjelaskan ia terpaksa mengambil air ke depot milik Joid lantaran warganya kekurangan air. Dalam sehari ia bisa bolak-balik hingga 20 kali.
"Ini saya sopiri sendiri. Saya bagikan ke warga gratis," imbuhnya. (tos/zen)
Editor : Ali Mustofa