Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kasus DBD di Blora Meningkat Dua Kali Lipat, Tembus 574 Kasus,15 Meninggal Dunia

Abdul Rokhim • Kamis, 29 Desember 2022 | 22:34 WIB
(MAHENDRA ADITYA/RADAR KUDUS)
(MAHENDRA ADITYA/RADAR KUDUS)
BLORA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Blora pada tahun ini, mengalami peningkatan. Hingga 15 Desember lalu, tercatat sudah ada 574 kasus dengan angka kematian 15 orang. Angka itu, meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni 204 kasus dengan angka kematian hanya 4 orang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P3) Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Joko Budi Heri Santoso mengatakan, adanya peningkatan kasus DBD itu, dimungkinkan karena peralihan musim yang tidak dapat diprediksi.

”DBD tahun ini secara siklus lima tahunan. Sebetulnya hitungan kami siklus itu terjadi tahun lalu, tapi ternyata meleset, malah tahun ini. Lha ini kenapa terjadi, karena musim itu tidak bisa diprediksi," ucapnya.

Dia mencontohkan, pada Januari tahun ini saja, angka kasus terhitung tinggi. Mencapai 106 kasus dengan dua orang meninggal dunia. Padahal biasanya tidak tergolong tinggi.

”Seperti contoh biasanya Januari angkanya tidak tinggi. Paling tinggi ya sekitar November dan Desember atau saat peralihan ke musim hujan," terangnya.

Dia mengaku telah menyiapkan sejumlah antisipasi untuk menekan kasus DBD di Kota Sate pada tahun depan. Di antaranya, memperbanyak edukasi kepada publik dan memperbanyak media publikasi. Hal itu untuk mengubah pola hidup masyarakat, agar terhindar dari DBD.

”Ya, mesti bagaimana mengubah pola hidup masyarakat. Kalau sepakat mau aman dari DB ya bagaimana caranya di rumah enggak ada jentik nyamuk. Di saat memasuki musim-musim berisiko, mungkin memperbanyak media publikasi. Jangan sampai masyarakat terlena saat musim hujan ada tempat-tempat penampungan air tidak dikontrol, sehingga menjadi sarang nyamuk," jelasnya.

Heri menjelaskan, dalam kasus DBD yang paling utama adalah tindakan preventif. Dengan melaksanakan pemeriksaan jentik berkala (PJB) setiap sepekan sekali di tempat-tempat yang berpotensi menyebabkan penyakit ini. Namun, apabila terjadi beberapa kasus positif dan terjadi di suatu daerah, akan dilakukan fogging.

”Karena fogging yang tidak dilaksanakan dengan baik justru bisa berimbas pada manusia. Termasuk resistensi nyamuknya juga. Nyamuk jadi kebal," terangnya.

Pihaknya juga mengaku telah berjejaring dengan dinas, rumah sakit, serta puskesmas untuk menyosialisasikan dan menekan kasus DBD di Blora.

”Screening bisa di puskesmas. Kemudian rujuk ke rumah sakit jika terjadi tanda-tanda yang mengindikasikan kasus DBD. Karena penegakan diagnosa perlu hasil laboratorium," jelasnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten, pada Januari lalu ada 106 kasus. Kemudian Februari ada 47 kasus, Maret 34 kasus, April 31 kasus, Mei 16 kasus, Juni 30 kasus, dan Juli 27 kasus.

Selanjutnya pada Agustus 50 kasus, September 46 kasus, Oktober 72 kasus, November 81 kasus, dan Desember 34 kasus. Selain itu, ada 15 kasus meninggal dunia. (cha/lin) Editor : Abdul Rokhim
#demam berdarah #kasus demam berdarah blora #blora #kasus demam berdarah #kasus db blora