Desa itu berada di daerah pinggiran hutan. Sidomulyo merupakan salah satu desa miskin yang ada di Blora. Ada 1.946 kepala keluarga. Sebanyak 1.141 menerima BPNT dari Kemensos dan 564 KK menerima PKH.
”Kita ingin Desa Sidomulyo ini menjadi percontohoan. Nantinya dalam satu kecamatan ada satu desa yang didampingi perguruan tinggi dalam hal ini IAIN Pekalongan,” terang Bupati Arief Rohman dalam diskusi secara virtual Ngobrol Bareng dengan Rektor IAIN Pekalongan Zaenal Mustakim kemairn.
Dalam pelaksanaannya, tentu bersinergi dengan kades dan para pihak. Sehingga bisa keluar dari kemiskinan. Sebelumnya, Pemkab Blora dan IAIN Pekalongan juga menyepakati program pengentasan kemiskinan. Yakni melalui penerimaan mahasiswa yang difasilitasi kedua belah pihak. ”Supaya anak-anak Blora bisa kuliah di IAIN Pekalongan,” ungkap bupati.
Selain di bidang pendidikan, bupati berharap agar IAIN Pekalongan juga dapat membimbing desa-desa yang ada di Blora. Agar mereka bisa bangkit dan lebih maju. Mengingat jumlah desa yang dikategorikan miskin di Blora cukup banyak.
Rektor IAIN Pekalongan Zaenal Mustakim menegaskan, siap mendukung Pemkab Blora dengan pendampingan di Desa Sidomulyo. Pihaknya akan membuat dua tim. Mereka diterjunkan ke Desa Sidomulyo. Diperkirakan mulai turun pada Agustus atau September. Terdiri dari dosen dan mahasiswa.
”Kita mencoba akan mengimplementasikan MoU yang kedua. Yaitu untuk penelitaian dan pengabdian masyarakat,” ungkapnya
Rencananya, untuk mahasiswa akan ada KKN tematik di desa tersebut. Sementara untuk dosen ada pengabdian masyarakat. Rencananya pendampingan akan dilakukan secara berkelanjutan.
”Yang ini tidak akan cukup dalam satu tahun. Mungkin bisa dua hingga tiga tahun berturut-turut di sana” jelasnya.
Setelah ini timnya akan survei pendahuluan ke lapangan untuk pemetaan sosial dan potensi-potensi desa. Baru kemudian melakukan treatment. ”Kedepannya kalau pandemi ini mereda, kita bisa kirim mahasiswa secara kontinyu ke desa tertinggal yang kita pilih,” ungkapnya. Editor : Ali Mustofa