REMBANG - Fenomena fogging mandiri di Kabupaten Rembang kini menjadi perhatian serius.
Dalam beberapa bulan terakhir, sampel jentik dan nyamuk yang diambil dari sejumlah kecamatan menunjukkan bahwa penggunaan insektisida secara sembarangan dapat menyebabkan resistensi pada nyamuk.
Hal ini berpotensi memperburuk upaya pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semakin meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang, Maria Rehulina, mengungkapkan bahwa banyak masyarakat yang lebih memilih melakukan fogging secara mandiri dengan membeli obat-obatan sendiri.
Sayangnya, penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai prosedur ini justru menciptakan masalah baru yakni nyamuk menjadi kebal terhadap insektisida.
"Beberapa tahun lalu, fenomena serupa sempat terjadi, dan kami terpaksa mengganti insektisida dengan golongan yang berbeda untuk mengatasi masalah resistensi ini," kata Maria.
Untuk mendalami masalah ini, Dinas Kesehatan Rembang bekerja sama dengan laboratorium di Banjarnegara untuk meneliti sampel jentik dan nyamuk dari beberapa kecamatan, antara lain Rembang, Sluke, dan Pamotan.
Hasilnya, ditemukan bahwa semua wilayah yang diperiksa memiliki potensi resistensi terhadap insektisida, dan yang lebih mengkhawatirkan, nyamuk resisten terhadap insektisida sudah ditemukan di Kecamatan Rembang.
Maria Rehulina mengingatkan pentingnya penanggulangan DBD yang lebih terstruktur dan terencana.
Ia menekankan, selain fogging yang dilakukan secara fokus dan terjadwal, upaya pengendalian DBD harus mencakup Program Satu Rumah Satu Jumantik (PSN) dengan 3M (Menutup, Menguras, Mengubur), penyuluhan, serta larvasidasi.
Fogging pun sebaiknya dilakukan dalam dua siklus, dengan radius 100 meter, dan interval satu minggu.
Hingga akhir tahun 2024, Kabupaten Rembang tercatat mengalami 325 kasus DBD.
Wilayah dengan kasus tertinggi berada di Puskesmas Pancur dengan 82 kasus, diikuti Puskesmas Sale dengan 47 kasus, Sumber dengan 30 kasus, dan Sarang 1 dengan 27 kasus.
Sementara itu, Puskesmas Sarang 2, Sluke, dan Rembang 1 masing-masing melaporkan kasus DBD paling sedikit, dengan dua hingga tiga kasus.
Maria Rehulina menegaskan bahwa penanggulangan DBD harus dilakukan secara komprehensif dan tidak bisa hanya mengandalkan fogging semata.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan insektisida dan mengikuti petunjuk yang ada guna mencegah resistensi yang dapat memperburuk kondisi. (vah/khim)
Editor : Abdul Rokhim