Baehaqi: Gus Umam ini kan sama-sama didik oleh bapak (KH Nursalim). Tapi kok mengambil jalur berbeda dengan Gus Baha’?
Gus Umam : Sebetulnya gak beda. Bapak ibu sering meminta ke putra-putranya untuk berbagi tugas. Gus Baha’ di pesantren. Saya membantu. Kami diminta saling melengkapi.
Baehaqi : KH Nursalim memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya?
Gus Umam: Iya, termasuk pendidikan. Kalau pesantren ya pesantren, kalau formal ya formal. Kaya saya dulu di SD. Terus mondok full di pesantren sarang. Walaupun tempatnya di pesantren fokusnya di pendidikan formal.
Baehaqi: Pada saat masih kecil, siapa yang masih menonjol?
Gus Umam: Sebenarnya sama, bapak ibu tidak ketat sama putra-putranya. Sama kaya masa-masa anak kecil. Kalau gak ngaji ya dibiarin. Bapak kalau guyonan sama ibu (bilang) mengko pinter-pinter dewe lah (nanti juga pintar-pintar sendiri lah, Red).
Alhamdulillah, saat kami dewasa muncul kemauan sendiri untuk belajar mendalami beberapa disiplin ilmu.
Baehaqi: Kabarnya Gus Baha’ masa kecil juga sama seperti anak-anak biasa?
Gus Umam: Ya sepak bola, ya mencari ikan di sungai, itu dipondokpun sama lah. Mancingnya sama Gus Kamil (almarhum), putranya Mbah Mun yang (mantan) Ketua DPRD Rembang itu.
Saya waktu kecil diajak ke sungai nyari ikan. Ya saya masih umur sekitar lima sampai tujuh tahun.
Baehaqi: Setahu Gus Umam, Gus Baha’ menempuh “jalur langit” itu sejak kapan?
Gus Umam: Memang Gus Baha’ sejak di pesantren, setelah SD langsung ke Al Anwar Sarang, memang beliau fokusnya ilmu-ilmu salaf.
Tapi tidak menanggalkan beliau belajar otodidak. Beliau juga Komputer. Di keluarga kami tidak menanggalkan walaupun belajar di formal juga di pesantren. Kami mendalami kitab-kitab salaf. (vah/ali) Editor : Abdul Rokhim