Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengapa Perasaan Manusia Bisa Berubah-ubah? Ternyata Ini Faktor yang Mempengaruhinya

Ali Mustofa • Senin, 9 Maret 2026 | 16:07 WIB

Ilustrasi menilai emosi orang lain. (freepik)
Ilustrasi menilai emosi orang lain. (freepik)

RADAR KUDUS – Perasaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dari sanalah seseorang merasakan bahagia, sedih, marah, takut, atau tenang.

Perasaan bukan sekadar reaksi spontan, tetapi hasil dari proses yang kompleks di dalam diri manusia dan pengaruh dari lingkungan di sekitarnya.

Banyak orang mengira emosi muncul begitu saja tanpa sebab. Padahal, perasaan dibentuk oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.

Ada faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, dan ada pula faktor yang datang dari luar melalui pengalaman hidup serta lingkungan sosial.

Dalam pandangan Islam, kemampuan merasakan juga merupakan bagian dari fitrah manusia.

Allah SWT menciptakan hati agar manusia mampu merasakan kasih sayang, empati, dan ketenangan, sekaligus menjadi alat untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan.

Allah SWT berfirman: "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami?" (QS. Al-Hajj: 46)

Ayat ini menunjukkan bahwa hati, yang menjadi pusat perasaan, memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.

Faktor Internal yang Membentuk Perasaan

Faktor internal adalah unsur yang berasal dari dalam diri individu.

Unsur inilah yang sangat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan emosi, mengelolanya, serta mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kondisi Biologis dan Fisiologis

Perasaan manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh.

Sistem saraf pusat, terutama bagian otak yang dikenal sebagai sistem limbik, berperan besar dalam mengatur emosi.

Keseimbangan hormon seperti serotonin, dopamin, oksitosin, dan kortisol juga berpengaruh terhadap kondisi emosional seseorang.

Ketika hormon-hormon tersebut berada dalam keadaan stabil, seseorang cenderung merasa lebih tenang dan bahagia.

Namun ketika keseimbangannya terganggu, emosi dapat menjadi lebih sensitif, mudah cemas, atau bahkan mudah marah.

Selain itu, kesehatan tubuh, pola makan, serta kualitas tidur juga berpengaruh terhadap kondisi emosional.

Kurang istirahat atau kelelahan berkepanjangan dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung dan sulit mengendalikan perasaan.

Faktor genetik serta perubahan hormonal dalam fase kehidupan, seperti masa pubertas, kehamilan, atau menopause, juga dapat memengaruhi dinamika emosi seseorang.

2. Aspek Psikologis

Selain faktor biologis, kondisi psikologis juga memainkan peran penting dalam membentuk perasaan. Kepribadian seseorang, misalnya, sangat memengaruhi bagaimana ia merespons berbagai situasi.

Ada individu yang secara alami lebih sensitif terhadap emosi, sementara yang lain cenderung lebih stabil dan tenang.

Temperamen emosional, daya tahan mental, serta kemampuan menghadapi tekanan juga menentukan bagaimana seseorang mengelola perasaannya.

Mekanisme koping atau cara menghadapi masalah juga berbeda-beda.

Ada yang mampu menghadapi stres dengan sikap tenang dan rasional, namun ada pula yang lebih mudah merasa tertekan ketika menghadapi situasi sulit.

Kemampuan bertahan secara psikologis atau resilience menjadi faktor penting yang membantu seseorang bangkit kembali setelah mengalami kesulitan hidup.

3. Riwayat Emosi dan Pengalaman Masa Lalu

Perasaan seseorang tidak terlepas dari pengalaman emosional yang pernah dialami.

Kenangan masa lalu sering kali meninggalkan jejak yang memengaruhi bagaimana seseorang merasakan sesuatu di masa kini.

Trauma, luka batin, atau pengalaman pahit yang belum terselesaikan dapat membentuk pola emosi tertentu.

Sebaliknya, pengalaman kasih sayang dan dukungan juga dapat membangun rasa aman dan ketenangan dalam diri seseorang.

Sejak masa kanak-kanak, seseorang telah belajar bagaimana mengekspresikan atau menahan perasaan. Kebiasaan ini kemudian membentuk pola emosional yang terbawa hingga dewasa.

4. Cara Berpikir dan Penilaian terhadap Situasi

Perasaan juga sangat dipengaruhi oleh cara seseorang memandang suatu kejadian.

Dua orang yang menghadapi situasi yang sama bisa merasakan emosi yang berbeda karena cara mereka menafsirkan peristiwa tersebut tidak sama.

Pola pikir positif atau negatif, ekspektasi terhadap sesuatu, serta dialog batin yang terjadi dalam pikiran dapat memengaruhi intensitas emosi yang dirasakan.

Dalam psikologi dikenal pula berbagai bias kognitif, yaitu kecenderungan berpikir yang dapat memengaruhi penilaian seseorang terhadap suatu keadaan.

Bias ini sering kali membuat seseorang melihat situasi secara tidak objektif.

5. Konsep Diri

Cara seseorang memandang dirinya sendiri juga memengaruhi perasaannya.

Harga diri, rasa percaya diri, serta citra diri yang dimiliki seseorang dapat menentukan bagaimana ia merespons pujian, kritik, atau kegagalan.

Seseorang yang memiliki penerimaan diri yang baik cenderung lebih stabil secara emosional.

Sebaliknya, individu yang memiliki citra diri negatif lebih mudah merasa rendah diri, cemas, atau tersinggung.

Identitas personal yang kuat membantu seseorang merasa lebih mantap dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai tantangan.

6. Nilai, Moral, dan Spiritualitas

Nilai hidup dan keyakinan spiritual juga memberikan warna pada perasaan manusia.

Ketika seseorang memiliki prinsip moral yang kuat serta keyakinan kepada Tuhan, ia cenderung memiliki ketenangan batin yang lebih dalam.

Spiritualitas memberikan makna pada berbagai peristiwa hidup, termasuk ketika seseorang menghadapi kesulitan atau kehilangan.

Allah SWT berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa hubungan spiritual dengan Allah dapat menjadi sumber ketenangan dan kedamaian emosional.

7. Motivasi dan Kebutuhan Emosional

Perasaan manusia juga dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan emosional yang ada dalam dirinya.

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk dicintai, diterima, dihargai, dan merasa aman.

Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, seseorang cenderung merasakan kebahagiaan dan kepuasan batin.

Namun ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, perasaan kecewa, sedih, atau marah dapat muncul.

Selain itu, dorongan untuk berprestasi, rasa takut kehilangan, serta harapan terhadap masa depan juga memengaruhi dinamika emosi seseorang.

Faktor Eksternal yang Membentuk Perasaan

Selain berasal dari dalam diri, perasaan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor dari luar.

Lingkungan sosial, hubungan dengan orang lain, serta pengalaman hidup memiliki peran besar dalam membentuk kondisi emosional seseorang.

1. Hubungan Antarindividu

Kualitas hubungan dengan orang lain merupakan salah satu faktor yang paling kuat memengaruhi perasaan manusia.

Hubungan keluarga, pasangan, maupun persahabatan dapat menjadi sumber kebahagiaan sekaligus sumber konflik emosional.

Dukungan emosional dari orang terdekat dapat memberikan rasa aman dan ketenangan.

Sebaliknya, penolakan, pengkhianatan, atau konflik berkepanjangan dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam.

2. Lingkungan Sosial

Lingkungan pergaulan juga berpengaruh terhadap kondisi emosional seseorang.

Tekanan sosial, penilaian orang lain, serta ekspektasi masyarakat sering kali memengaruhi perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri.

Status sosial serta penerimaan dari lingkungan juga dapat membentuk rasa percaya diri maupun rasa tidak aman.

3. Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar memahami dan mengekspresikan perasaan.

Pola asuh orang tua, cara anggota keluarga berkomunikasi, serta suasana emosional di rumah akan membentuk karakter emosional seseorang.

Lingkungan keluarga yang hangat dan penuh dukungan dapat membantu seseorang tumbuh dengan emosi yang sehat.

4. Budaya dan Norma Sosial

Budaya juga menentukan bagaimana seseorang mengekspresikan perasaan.

Dalam beberapa budaya, ekspresi emosi secara terbuka dianggap wajar, sementara dalam budaya lain emosi lebih sering disimpan atau dikendalikan.

Nilai-nilai seperti rasa malu, hormat, atau gengsi juga memengaruhi cara seseorang menunjukkan perasaannya di hadapan orang lain.

5. Pendidikan dan Lingkungan Kerja

Tekanan akademik, beban pekerjaan, serta hubungan dengan guru, atasan, atau rekan kerja juga berpengaruh terhadap kondisi emosional seseorang.

Lingkungan kerja yang suportif dapat meningkatkan rasa nyaman dan motivasi, sedangkan lingkungan yang penuh tekanan atau konflik dapat memicu stres emosional.

6. Kondisi Ekonomi

Masalah ekonomi sering menjadi salah satu sumber tekanan emosional dalam kehidupan manusia.

Ketidakstabilan finansial, beban kebutuhan hidup, serta ketimpangan sosial dapat menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran.

Sebaliknya, stabilitas ekonomi sering kali memberikan rasa aman yang berpengaruh positif terhadap kondisi emosional.

7. Media dan Arus Informasi

Di era digital, media massa dan media sosial juga memengaruhi perasaan manusia.

Paparan berita negatif, perbandingan sosial di media sosial, serta pencarian validasi melalui like dan komentar dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Informasi yang terus-menerus mengalir dapat memperkuat emosi tertentu, baik positif maupun negatif.

8. Lingkungan Fisik

Tempat tinggal, kondisi lingkungan, tingkat kebisingan, serta kepadatan penduduk juga berpengaruh terhadap kenyamanan emosional seseorang.

Lingkungan yang aman dan nyaman membantu menciptakan ketenangan batin, sedangkan lingkungan yang penuh tekanan dapat meningkatkan stres.

9. Peristiwa Kehidupan

Berbagai peristiwa besar dalam hidup juga dapat memicu perubahan emosi yang kuat.

Kehilangan orang tercinta, sakit, kegagalan, maupun keberhasilan besar sering menjadi titik balik dalam perjalanan emosional seseorang.

Perubahan hidup seperti menikah, pindah tempat tinggal, atau menghadapi krisis juga dapat memengaruhi kondisi perasaan seseorang.

10. Sistem dan Struktur Sosial

Faktor yang lebih luas seperti kebijakan publik, sistem hukum, struktur organisasi, serta kondisi politik juga dapat memengaruhi emosi masyarakat secara kolektif.

Ketidakadilan sosial atau ketidakpastian situasi sering kali memicu kecemasan dan ketegangan emosional di tengah masyarakat.

Perasaan sebagai Hasil Interaksi Banyak Faktor

Pada akhirnya, perasaan manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia merupakan hasil interaksi antara tubuh, pikiran, pengalaman hidup, serta lingkungan sosial yang terus saling memengaruhi.

Karena itu, menjaga kesehatan emosional tidak hanya berarti mengelola perasaan di dalam diri, tetapi juga memperhatikan lingkungan, hubungan sosial, serta memperkuat nilai spiritual.

Rasulullah SAW bersabda: "Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi merupakan tanda kekuatan sejati dalam diri manusia. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#eksternal #Kehidupan #perasaan #Allah SWT #Internal #manusia