Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kembangkan Potensi Siswa melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Ali Mustofa • Rabu, 3 November 2021 | 22:01 WIB
Siti Patimah, S.Pd., M.Pd.; Guru SMP Negeri 2 Doplang-Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
Siti Patimah, S.Pd., M.Pd.; Guru SMP Negeri 2 Doplang-Blora (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
SETIAP anak dilahirkan dengan membawa potensi diri masing-masing. Terdapat keragaman atau perbedaan potensi yang dimiliki baik dalam jenis potensi maupun kualitas potensi. Dalam pembelajaran guru harus mampu memberikan pelayanan maksimal kepada mereka. Bukan mereka yang harus menyesuaikan strategi pembelajaran guru, tetapi gurulah yang harus mampu memberi pelayanan sesuai bakat, minat dan kemampuan intelektualnya. Guru harus memahami karaktristik siswa asuhannya dan bagaimana cara mengembangkan potensinya.

Pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu solusi dalam menghadapi keberagaman potensi siswa. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Menurut Tomlinson (dalam Bayuni dkk, 2021), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Guru merancang pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa. Namun demikian bukan berarti guru harus mengajar dan memberi tugas yang berbeda untuk setiap siswa. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan siswa, dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, hal pertama yang dilakukan oleh guru adalah memetakan kebutuhan belajar siswa. Guru dapat memetakannya berdasar pada kesiapan belajar. Kesiapan belajar merupakan kapasitas siswa untuk mempelajari materi baru. Kesiapan belajar dapat diukur dengan melihat apakah siswa di kelas berada pada level belajar secara abstrak atau konkret. Guru akan lebih mudah menyajikan materi pembelajaran, karena tingkat kesukaran materi dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.

Guru dapat juga melakukan pemetaan berdasarkan pada minat siswa. Minat ini berkaitan dengan produk atau karya yang dihasilkan siswa. Siswa yang memiliki minat pada olahraga dapat membuat tulisan tentang bagaimana cara menggiring bola dalam permainan sepak bola. Siswa yang suka prakarya membuat tulisan tentang bagaimana cara membuat rumah-rumahan dari stik es krim.

Pemetaan kebutuhan belajar siswa dapat juga dilihat dari profil belajar. Guru mengamati apakah siswa lebih tertarik pada hal yang sifatnya visual, auditori atau kinestetik. Siswa dengan ketertarikan pada visual, guru dapat menggunakan banyak gambar atau alat bantu visual untuk mempermudah belajar mereka. Guru menyediakan sumber belajar yang dapat didengarkan siswa secara lisan bagi yang memiliki ketertarikan auditori. Guru membuat beberapa sudut belajar atau display yang ditempel di tempat berbeda untuk siswa yang memiliki ketertarikan kenestetik.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah jawaban dari perbedaan minat dan kemampuan siswa dalam memperoleh pengalaman belajar yang berbeda. Guru menggunakan beragam cara agar siswa dapat mengeksplorasi isi kurikulum. Guru menggunakan beragam kegiatan atau proses sehingga siswa dapat mengerti dan memiliki informasi. Guru juga menggunakan beragam pilihan sehingga siswa dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu siswa mencapai hasil belajar yang optimal karena produk yang dihasilkan sesuai dengan potensi mereka. (*) Editor : Ali Mustofa
#siti patimah #potensi siswa #pendidikan #pembelajaran