Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Melihat Sanggar Dolanan Tradisional di Pati Bertekad Hidupkan Kembali Kesenian Tradisional

Andre Faidhil Falah • Sabtu, 15 Juni 2024 | 03:06 WIB
BERLATIH: Dua anak dari Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, Pati memperagakan tarian Gong Cik di Sanggar Dolanan Tradisional Pati belum lama ini.
BERLATIH: Dua anak dari Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, Pati memperagakan tarian Gong Cik di Sanggar Dolanan Tradisional Pati belum lama ini.

PATI - Salah satu sanggar di Kabupaten Pati punya cara sendiri melestarikan kearifan lokal.

Namanya, Sanggar Dolanan Tradisional Pati.

Di sana anak-anak bisa memainkan permainan tradisional hingga menari dengan gratis. 

Sanggar itu dibangun oleh Muhammad Toyyib. Lokasinya di depan rumahnya di Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, Pati. 

Berbagai anak bermain di halaman seluas 20x30 meteran itu.

Ada yang bermain lompat tali, sepakbola, bahkan ada yang latihan menari. 

Di sanggar tersebut tersedia juga ada berbagai macam jenis alat permainan tradisional.

Misalnya lompat tali, engklek, gundu, gasing, egrang, dan lainnya.

Anak-anak bisa bermain sepuasnya tanpa dipungut biaya.

Pada 2022 lalu Toyyib membangun sanggarnnya.

Waktu itu, ia tak terpikir membuat sanggar.

Awalnya, hanya membuat beberapa mainan untuk anaknya.

Tapi, makin ke sini bocil-bocil juga ikut main. 

”Awalnya hanya buat mainan untuk anak. Kemudian anak-anak tetangga ikut main. Akhirnya saya buat sanggar ini,” katanya.

Di samping itu, Toyyib juga prihatin dengan kondisi anak-anak zaman sekarang atau generasi milenial ini.

Kebanyakan dari mereka jarang yang bermain dolanan tradisional. 

Dia lantas membuat Sanggar Dolanan Tradisional di rumahnya.

Setiap hari banyak anak-anak yang bermain di sanggarnya itu.

Tak hanya permainan tradisional, Toyyib juga turut melestarikan tari Gong Cik yang hampir punah itu.

Tak banyak daerah yang memainkan kearifan lokal Bumi Mina Tani itu. 

Terlihat anak-anak berusia 10 tahunan itu berlatih.

Kisaran 7-10 anak belajar di halaman sanggar itu.

Remaja desa pun sukarela mengajar mereka bagaimana cara menari Gong Cik itu.

Tari Gong Cik ini sebenarnya tarian seni bela diri lokal Kota Mina Tani.

Ceritanya, Pada masa penjajahan Belanda, bela diri Gong Cik menjadi benteng perlawanan masyarakat Pati.

Sebagai dasar pertarungan melawan penjajah. 

Waktu itu tidak boleh belajar bela diri. Mungkin takut menjadi lawan berat Belanda.

Lalu masyarakat atau sesepuh mengemas bela diri dengan tari yang diiringi dengan gong. 

Nama Gong Cik sendiri berasal dari kata 'gong' dan 'cik.

Yang mana GONG berarti berasal dari gamelan. Sementara cik berasal dari encak-encik yang dipraktekkan dalam silat Jawa.

“Yang belajar anak-anak berusia 9-12 tahun. Tarian Gong Cik termasuk tarian seni bela diri lokal asal Kota Pati,” jelasnya. 

Tak hanya belajar tari dan bermain gratis, Toyyib juga memberikan hadiah kepada mereka.

Misalnya seragam tari gratis.

”Biar anak-anak ikut dan aktif lataihan. Mereka saya undang dan berikan hadiah seragam gratis,” jelasnya.  

Jarang kalangan anak muda yang tahu soal tarian itu.

Apalagi saat ini anak-anak identik dengan bermain gadget.

Meski begitu, segelintir orang masih melestarikan tarian tersebut.

Melalui cara itu, Toyyib terjun di kalangan masyarakat untuk nguri-nguri budaya.

”Biar anak ini tak melulu bermain HP. Dampaknya kurang bagus kalau bermain HP terus,” pungkasnya. (adr).

Editor : Dzikrina Abdillah
#Sanggar #kebudayaan #dolanan #kearifan lokal #pati #tradisional