JAKARTA — Menjelang kick-off putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/2026, dinamika persaingan di wilayah timur bergerak ke fase yang lebih keras dan taktis. Bursa transfer paruh musim memang telah ditutup, tetapi dampaknya justru baru terasa sekarang.
Sejumlah klub memilih bergerak senyap, sementara yang lain tampil agresif demi satu tujuan: tiket promosi dan keselamatan klasemen.
Empat nama mencuat dalam peta persaingan ini: Persipura Jayapura, Barito Putera, PSIS Semarang, dan PSS Sleman. Keempatnya datang dengan pendekatan berbeda, namun saling terkait dalam satu arena: perang kedalaman skuad.
Persipura: Dari Guncangan ke Konsolidasi
Sebagai pemuncak klasemen sementara Grup Timur, Persipura Jayapura justru memulai fase ini dengan kabar tak ideal.
Kepergian Matheus Silva, mesin gol utama tim, sempat memicu kekhawatiran besar di kalangan pendukung.
Striker asal Brasil itu meninggalkan lubang signifikan. Dari 15 pertandingan, Matheus menyumbang 11 gol—angka yang bukan sekadar statistik, melainkan fondasi produktivitas Persipura musim ini. Kehilangannya ke Liga Irak berpotensi mengganggu stabilitas serangan.
Namun, alih-alih larut dalam krisis, manajemen Persipura bergerak cepat. Klub berjulukan Mutiara Hitam itu memilih jalur pragmatis: mencari pengganti yang sudah kenyang pengalaman di sepak bola nasional.
Nama Viktor Mansaray kemudian muncul sebagai solusi. Pemain yang pernah membela PSM Makassar dan Malut United itu didatangkan bukan untuk meniru Matheus, melainkan mengubah pola serangan. Persipura tak lagi bertumpu pada satu penyerang, melainkan kolektivitas.
Tak berhenti di situ, Persipura juga memperkuat lini tengah dengan mendatangkan Williams Lugo di sektor gelandang serang serta Bima Ragil sebagai jangkar.
Kombinasi ini mengindikasikan perubahan orientasi: kontrol permainan lebih diutamakan ketimbang sekadar agresivitas depan.
Di tangan pelatih berpengalaman Rahmad Darmawan, transfer ini terasa sebagai upaya konsolidasi, bukan kepanikan.
Barito Putera: Menantang dengan Kedalaman
Di posisi runner-up Grup Timur, Barito Putera tak mau tertinggal dalam perlombaan senyap ini. Klub berjuluk Laskar Antasari justru menjadi salah satu tim paling aktif di bursa.
Barito mendatangkan Basajum Latuconsina, Cornelius Stewart, Ricky Cawor, hingga Roni Sugeng. Empat nama ini memberi sinyal jelas: Barito ingin mempertebal lapisan skuad, bukan sekadar memperbaiki starting eleven.
Di bawah komando Stefano Cugurra (Teco), Barito dikenal sebagai tim dengan organisasi rapi dan transisi cepat.
Tambahan pemain ini memperluas opsi rotasi—faktor krusial ketika jadwal kian padat dan margin kesalahan semakin tipis.
Berbeda dengan Persipura yang berusaha menjaga keseimbangan, Barito memilih meningkatkan intensitas persaingan internal. Strategi ini berisiko, namun bisa menjadi pembeda saat memasuki fase penentuan.
PSIS Semarang: Menata Ulang Tanpa Riuh
Sementara dua pesaing utamanya bergerak cukup mencolok, PSIS Semarang memilih jalur berbeda. Klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tidak melakukan belanja besar, tetapi fokus pada penyempurnaan struktur tim.
PSIS sadar betul bahwa masalah mereka di dua putaran awal bukan semata kualitas individu, melainkan konsistensi dan kedalaman. Karena itu, langkah transfer lebih diarahkan pada efisiensi peran ketimbang popularitas nama.
Pendekatan ini mungkin tak menarik perhatian besar, namun justru memberi ruang bagi PSIS untuk tampil sebagai kuda hitam. Dalam kompetisi panjang, stabilitas sering kali lebih menentukan daripada gebrakan sesaat.
PSS Sleman: Menjaga Asa di Tengah Tekanan
Di sisi lain, PSS Sleman juga berada dalam persimpangan penting. Tim Super Elja menghadapi tekanan ganda: menjaga peluang promosi sekaligus menghindari terpeleset dari papan atas.
Meski tak seagresif Barito, PSS melakukan penyesuaian skuad yang lebih selektif. Fokus mereka jelas: memperbaiki sektor yang rapuh tanpa mengganggu kerangka utama tim.
Langkah ini menunjukkan kehati-hatian, namun juga kepercayaan diri bahwa skuad yang ada masih cukup kompetitif untuk bersaing di putaran penentuan.
Klub Papan Bawah: Belanja sebagai Jalan Bertahan
Jika klub papan atas bicara soal promosi, cerita berbeda datang dari zona bawah. Di sinilah bursa transfer berubah menjadi alat bertahan hidup.
Nama Persipal FC Palu menjadi contoh paling ekstrem. Tim juru kunci ini melakukan perombakan besar-besaran dengan mendatangkan sekitar 10 pemain baru.
Dari Kadek Lanang (Bali United), Hasan Husen, Joshua Isir, hingga Fauzan (Madura United), hampir seluruh lini disentuh.
Langkah serupa juga dilakukan oleh tim-tim seperti Persiku Kudus dan beberapa kontestan lain yang merasa skuad awal mereka gagal memenuhi ekspektasi.
Namun, belanja besar di paruh musim menyimpan dilema klasik: adaptasi versus urgensi. Waktu yang singkat membuat setiap kesalahan rekrutmen bisa berakibat fatal.
Putaran 3: Bukan Lagi Soal Nama
Yang menarik, putaran ketiga Championship musim ini memperlihatkan pergeseran tren. Klub-klub mulai meninggalkan pendekatan berbasis nama besar, beralih ke fungsi dan kecocokan sistem.
Persipura fokus pada keseimbangan pasca-kepergian bintangnya. Barito memperdalam skuad untuk menjaga intensitas. PSIS dan PSS memilih stabilitas. Sementara tim papan bawah berjudi dengan perombakan total.
Semua strategi itu akan diuji dalam waktu singkat, ketika jarak antar tim semakin rapat dan tekanan hasil kian tinggi.
Putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/2026 bukan sekadar lanjutan kompetisi. Ia adalah fase pemurnian—di mana keputusan transfer paruh musim akan menentukan arah klub: naik kelas, bertahan, atau tenggelam.
Tak ada lagi ruang untuk eksperimen. Setiap rekrutan kini membawa makna lebih dari sekadar tambahan pemain. Mereka adalah penentu nasib.
Editor : Mahendra Aditya