SEMARANG – Musim belum selesai, tetapi alarm bahaya sudah lama berbunyi di Stadion Jatidiri.
PSIS Semarang terjebak di zona degradasi Liga Championship 2025/2026. Poin seret, performa tak stabil, dan pergantian pelatih yang beruntun membuat Laskar Mahesa Jenar seperti kehilangan arah.
Namun Februari 2026 menjadi titik balik yang tak bisa ditawar.
Manajemen baru di bawah CEO Datu Nova Fatmawati memilih langkah ekstrem: mendatangkan 19 pemain anyar sekaligus.
Bukan sekadar tambal sulam, ini adalah operasi penyelamatan total.
Langkah ini menjadi pernyataan tegas bahwa PSIS belum menyerah. Mereka ingin bertahan, apa pun risikonya.
Baca Juga: LAGA UJI COBA: PSIS vs UAD FC, Menang Telak 9-0 Alfredo Vera Uji Formasi dan Mental Pemain
Posisi Kritis di Klasemen
Dari 18 pertandingan yang sudah dijalani, PSIS baru mengoleksi 11 poin. Rinciannya tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan 13 kekalahan.
Angka itu menempatkan mereka di papan bawah Grup B, dalam posisi yang sangat rawan turun kasta.
Setiap pekan terasa seperti final. Setiap laga adalah pertaruhan nasib. Jika tidak segera bangkit di putaran ketiga, ancaman degradasi akan semakin nyata.
Manajemen sadar, waktu tidak lagi berpihak. Karena itu, jendela transfer Januari dimanfaatkan secara agresif.
Revolusi Skuad: 19 Nama Baru
Perombakan besar dilakukan hampir di seluruh lini. Total 19 pemain direkrut, kombinasi pemain asing dan domestik, baik berstatus kontrak permanen maupun pinjaman.
Nama-nama seperti Otavio Dutra, Beto Goncalves, Esteban Vizcarra, hingga Denilson Rodriguez menjadi sorotan. Ada pula Aldair Simanca, Rafael Rodriguez, Mario Londok, M Hidayat, M Rio Saputro, Wawan Febrianto, Fahmi Al-Ayyubi, Tegar Infantrie, Ocvian Chanigio, Gustur Cahyo, Alwi Fadilah, Ibrahim Sanjaya, Thaufan Hidayat, Fridolin Kristof Yoku, dan Rangga.
Ini bukan perekrutan biasa. Ini restrukturisasi.
PSIS mencoba memadukan pengalaman pemain senior dengan energi pemain muda. Ada pemain yang sudah kenyang jam terbang di Liga 1 dan Liga Championship, ada pula talenta yang diharapkan meledak di momen krusial.
Tiga Kali Ganti Pelatih, Arah Baru Dimulai
Krisis performa membuat PSIS tiga kali mengganti pelatih sejak November 2025. Kahudi Wahyu, Ega Raka, hingga Jefri Sastra silih berganti datang dan pergi. Hasil belum juga membaik.
Setelah pencopotan Jefri Sastra, manajemen menunjuk Angel Alfredo Vera sebagai Direktur Teknik. Sosok berlisensi UEFA Pro ini bukan nama sembarangan di sepak bola Indonesia. Ia pernah menangani Persela, Persipura, Persebaya, hingga Madura United.
Kehadiran Alfredo Vera menjadi harapan baru. Ia ditugasi memperkuat fondasi teknis tim sembari menunggu pelatih kepala definitif.
Training Camp di Yogyakarta
Sebagai bagian dari persiapan putaran ketiga Liga Championship 2025/2026, PSIS menggelar training camp di Yogyakarta. Di sinilah fondasi baru coba dibangun.
TC bukan sekadar latihan fisik. Ini ruang untuk membangun ulang chemistry tim yang hampir seluruhnya berubah wajah. Dengan 19 pemain baru, adaptasi menjadi tantangan utama.
Asisten Manajer PSIS, Reza Handhika, memastikan bahwa Alfredo Vera terlibat langsung dalam proses pemantauan pemain. Sementara pelatih kepala baru akan segera menyusul untuk menyempurnakan racikan taktik.
Datu Nova dan Taruhan Reputasi
Masuknya Datu Nova Fatmawati sebagai CEO membawa warna berbeda dalam manajemen PSIS. Sebagai keluarga pecinta sepak bola Semarang, ia tak ingin melihat klub kebanggaan kota ini terdegradasi.
Langkah berani dilakukan. Pergantian pelatih, perekrutan massal, hingga restrukturisasi internal manajemen menjadi bukti keseriusan.
Ia menegaskan bahwa masih ada peluang untuk keluar dari zona degradasi. Kompetisi belum berakhir, dan setiap poin di putaran ketiga akan sangat menentukan.
Baginya, bertahan di Liga Championship bukan hanya soal prestasi, tetapi harga diri kota.
Tantangan di Putaran Ketiga
Putaran ketiga akan menjadi ujian sesungguhnya. Di fase ini, tekanan meningkat. Tim-tim papan bawah akan saling sikut demi bertahan. Margin kesalahan semakin kecil.
PSIS tidak punya ruang untuk adaptasi terlalu lama. Integrasi 19 pemain baru harus berjalan cepat. Sistem permainan harus segera solid. Konsistensi wajib ditemukan.
Jika tidak, revolusi ini bisa menjadi bumerang.
Namun jika berhasil, PSIS bisa menjadi tim kejutan yang bangkit dari keterpurukan.
Bertahan atau Tersingkir
Apa yang dilakukan PSIS Semarang saat ini bukan langkah biasa. Jarang ada tim melakukan perombakan sebesar ini di tengah musim.
Ini pertaruhan besar. Dari sisi finansial, teknis, hingga psikologis. Tetapi dalam situasi terdesak, keputusan ekstrem sering kali menjadi satu-satunya jalan.
Bagi suporter Mahesa Jenar, harapan itu kembali menyala. Dengan komposisi baru dan arahan teknis Alfredo Vera, ada optimisme bahwa tim ini belum habis.
Zona degradasi memang masih menghantui. Namun dengan 19 wajah baru dan manajemen yang agresif, PSIS mengirim pesan tegas: mereka belum menyerah.
Putaran ketiga bukan sekadar lanjutan kompetisi. Ini adalah pertarungan hidup mati untuk tetap berdiri di Liga Championship 2025/2026.
Editor : Mahendra Aditya