RADAR KUDUS - Drama Cristiano Ronaldo di Arab Saudi kembali memanas. Masa depan megabintang asal Portugal itu di Al Nassr kini diselimuti tanda tanya besar setelah namanya tak masuk dalam skuad saat menghadapi Al Riyadh pada lanjutan Liga Pro Saudi, Senin (2/2/2026).
Media Portugal, melaporkan bahwa Ronaldo menolak bermain karena mulai tidak puas dengan cara klub dikelola oleh Public Investment Fund (PIF), lembaga investasi milik pemerintah Arab Saudi yang juga mengendalikan sejumlah klub elite di negara tersebut.
Al Nassr dan Al Hilal sama-sama berada di bawah kendali PIF. Namun, menurut berbagai sumber, Ronaldo merasa Al Nassr tidak mendapatkan perlakuan dan dukungan investasi yang setara dengan rival-rivalnya, khususnya Al Hilal yang dikenal sebagai klub tersukses di Arab Saudi dengan 19 gelar liga.
Ronaldo bergabung dengan Al Nassr pada 2022 usai meninggalkan Manchester United. Kepindahan itu langsung memecahkan rekor, menjadikannya pesepak bola dengan gaji tertinggi sepanjang sejarah, mencapai sekitar £177 juta per tahun.
Meski demikian, selama membela Al Nassr, koleksi trofinya masih sangat minim.
Dari sekian banyak kompetisi, satu-satunya gelar yang berhasil diraih Ronaldo bersama Al Nassr hanyalah Arab Club Champions Cup 2023. Situasi ini jelas tidak sejalan dengan mental juara sang pemilik lima Ballon d’Or.
Padahal, pada Juni 2025 lalu, Ronaldo baru saja meneken kontrak baru berdurasi dua tahun.
Sebelum perpanjangan kontrak itu disepakati, rumor hengkang sempat menguat, termasuk kemungkinan pindah dengan status pinjaman ke rival langsung, Al Hilal.
BBC Sport mengungkapkan bahwa ketertarikan Al Hilal terhadap Karim Benzema menjadi salah satu pemicu utama kekecewaan Ronaldo.
Benzema, mantan rekan Ronaldo di Real Madrid, resmi bergabung dengan Al Hilal setelah kontraknya dengan Al Ittihad diputus.
Striker Prancis berusia 38 tahun itu sebelumnya bahkan harus berlatih sendiri akibat konflik dengan manajemen Al Ittihad terkait kontrak baru. Kepindahan Benzema ke Al Hilal kian menegaskan dominasi sang rival di bursa transfer.
“Ronaldo itu sangat kompetitif. Dia tidak suka melihat klub lain semakin kuat, sementara timnya stagnan,” ujar seorang sumber yang dekat dengan situasi internal Al Nassr.
Situasi ini tentu memicu spekulasi liar di Riyadh. Banyak pihak bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat Ronaldo begitu frustrasi di Al Nassr?
Tajam di Lapangan, Sepi Trofi
Dari sisi performa, Ronaldo sejatinya masih luar biasa. Sejak bergabung, ia langsung produktif dengan 14 gol di musim 2022/2023 meski datang di tengah musim.
Dalam dua musim terakhir, ia selalu menjadi top skor Liga Pro Saudi dengan catatan 35 gol dan 25 gol.
Pada Desember lalu, Ronaldo bahkan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Timur Tengah di ajang Globe Soccer Awards.
Ia secara terbuka menyatakan ambisinya untuk menembus 1.000 gol sepanjang karier.
Gol ke-17 musim ini yang dicetak ke gawang Al Kholood membuat total gol kariernya mencapai 961, hanya terpaut 39 gol dari target legendaris tersebut.
Namun, ketajaman individu itu tidak sejalan dengan prestasi tim.
Al Nassr dua kali finis sebagai runner-up liga, lalu terperosok ke posisi ketiga musim lalu, tertinggal 13 poin dari Al Ittihad.
Mereka juga kalah dramatis dari Al Hilal di final King’s Cup 2023/2024 lewat adu penalti.
Di level Asia, Al Nassr tersingkir di semifinal Liga Champions Asia Elite dan musim ini hanya tampil di kompetisi kasta kedua Asia.
Sebaliknya, rival domestik seperti Al Ahli justru sukses menjadi juara Asia dengan skuad bertabur bintang.
Yang makin menyakitkan, Ronaldo harus menyaksikan Karim Benzema dan kompatriotnya, Ruben Neves, mengangkat trofi liga bersama klub masing-masing.
Kalah Saing di Bursa Transfer?
Meski masuk dalam “empat besar” klub elite Saudi bersama Al Hilal, Al Ahli, dan Al Ittihad, posisi Al Nassr dinilai mulai tertinggal dari sisi investasi.
Sejak pengambilalihan PIF pada 2023, ketiga rival tersebut sukses meraih trofi besar, sementara Al Nassr masih jalan di tempat.
Dalam dua bursa transfer terakhir, belanja Al Nassr bahkan kalah dari klub promosi seperti Neom SC dan Al Qadsiah.
Meski sempat mendatangkan nama besar seperti Joao Felix dan Kingsley Coman, Al Nassr relatif pasif di bursa Januari, padahal sedang bersaing ketat di papan atas.
Sebaliknya, Al Hilal kembali agresif dengan merekrut Pablo Mari dan talenta muda Prancis, Mohamed Kader Meite.
Era Ronaldo Mulai Berakhir?
Situasi ini juga tak lepas dari menurunnya gelontoran dana besar di sepak bola Saudi. Setelah menghabiskan lebih dari £1,1 miliar sejak 2023, pemerintah Arab Saudi mulai mendorong model pengelolaan klub yang lebih berkelanjutan sejak pertengahan 2025.
Pemangkasan investasi di sejumlah proyek ambisius, termasuk kota futuristik Neom, disebut-sebut menjadi sinyal bahwa era belanja tanpa batas mulai mereda.
Kini, bola panas ada di tangan Ronaldo. Sejarah menunjukkan, ketika CR7 sudah merasa tidak nyaman, dampaknya bisa besar.
Yang menjadi pertanyaan, apakah drama ini akan berujung rekonsiliasi, atau justru menjadi awal perpisahan paling kontroversial Ronaldo di Timur Tengah?
Editor : Mahendra Aditya