Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, Donald Trump: Saya Tidak Senang

Ali Mustofa • Selasa, 10 Maret 2026 | 11:57 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

KUDUS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran.

Trump menegaskan bahwa pemerintahannya akan memantau secara serius perkembangan politik di negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara yang dikutip oleh jurnalis Fox News, Brian Kilmeade, pada Ahad (8/3).

Baca Juga: Kesehatan Tidak Datang Tiba-Tiba: Ini Faktor Internal dan Eksternal yang Menentukannya

Dalam kesempatan tersebut, Trump secara terbuka mengaku tidak menyambut baik keputusan yang menempatkan Mojtaba Khamenei di posisi tertinggi pemerintahan Iran.

“Saya tidak senang dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran,” ujar Trump.

Trump juga menyampaikan pandangan serupa dalam keterangannya kepada media Israel, The Times of Israel.

Ia mengatakan akan terus mengikuti perkembangan situasi di Iran setelah pergantian kepemimpinan tersebut.

“Kita lihat saja bagaimana perkembangannya,” kata Trump, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sebelumnya pada hari yang sama, Majelis Ahli Iran (Assembly of Experts) secara resmi mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.

Baca Juga: Keributan Massal Warnai Final Campeonato Mineiro, 23 Pemain Kena Kartu Merah

Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam gelombang awal serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut menyasar sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran, dan menimbulkan kerusakan serta korban di kalangan warga sipil.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.

Teheran menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pertahanan diri.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyatakan bahwa operasi militer tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran.

Namun kemudian muncul pernyataan yang mengindikasikan keinginan kedua negara untuk melihat perubahan kepemimpinan di Iran.

Baca Juga: Instruksi Gubernur Luthfi: Bupati dan Wali Kota Wajib Siaga Selama Lebaran

Kematian Ali Khamenei pada hari pertama serangan tersebut mengakhiri masa kepemimpinannya selama 37 tahun.

Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Sementara itu, laporan The Wall Street Journal pada Senin (9/3) menyebutkan bahwa Trump secara pribadi sempat menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa dirinya terbuka terhadap berbagai opsi terhadap pemimpin baru Iran, termasuk tindakan keras jika Mojtaba Khamenei menolak memenuhi tuntutan Washington.

Mengutip pejabat aktif maupun mantan pejabat Amerika Serikat, laporan itu menyebut salah satu tuntutan utama pemerintah AS adalah penghentian atau pembubaran program nuklir Iran.

Namun hingga kini Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Sebelumnya, Trump juga sempat menyebut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran sebagai “kesalahan besar” dan meragukan kepemimpinannya akan bertahan lama.

Hal tersebut disampaikan dalam wawancaranya dengan The New York Post.

Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun resmi menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu. (*)

Editor : Ali Mustofa
#donald trump #iran #amerika serikat #Mojtaba Khamenei