RADAR KUDUS – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menempatkan sistem rudal Patriot pada peluncur berbasis truk di pangkalan udara Al Udeid, Qatar, seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Informasi tersebut disampaikan Reuters pada Selasa (10/2) setelah menganalisis citra satelit terbaru.
Penempatan rudal pada kendaraan bergerak dinilai memberi fleksibilitas lebih besar bagi Washington dalam mengoperasikan sistem tersebut.
Baca Juga: Enam Korban Tewas Akibat Pesta Miras Oplosan di Jepara, Berikut Daftarnya, Polisi Dalami Kasus
Dengan peluncur mobile, sistem pertahanan itu dapat dengan cepat dipindahkan untuk kebutuhan serangan maupun pertahanan jika terjadi potensi serangan dari Iran.
Berdasarkan citra satelit tertanggal 1 Februari, AS juga diketahui menambah kekuatan militernya di pangkalan tersebut dengan memindahkan empat pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker, sehingga jumlah totalnya menjadi 18 unit. Selain itu, tujuh pesawat angkut C-17 turut dikerahkan.
Gambar satelit yang sama juga memperlihatkan keberadaan pesawat pengintai RC-135, tiga unit pesawat angkut C-130 Hercules, serta hingga 10 sistem pertahanan udara Patriot MIM-104 yang dipasang pada peluncur berbasis truk di Al Udeid.
Penguatan militer AS tidak hanya terjadi di Qatar. Dalam periode 25 Januari hingga 2 Februari, Washington juga mengirimkan satu pesawat C-17, satu C-130, serta empat pesawat perang elektronik EA-18G Growler ke pangkalan Muwaffaq di Yordania.
Per 2 Februari, pangkalan tersebut juga menampung sejumlah armada tempur lain, di antaranya 17 pesawat tempur F-15E, delapan pesawat serang A-10 Thunderbolt, empat pesawat C-130, serta empat helikopter yang belum diketahui jenisnya.
Sementara itu, citra satelit pada 2 Februari menunjukkan kehadiran pesawat angkut berat C-5 Galaxy dan satu pesawat C-17 di pangkalan Prince Sultan, Arab Saudi.
Selain itu, terpantau pula penambahan tujuh pesawat di Diego Garcia, Samudra Hindia, serta peningkatan jumlah pesawat di pangkalan Dukhan di Oman.
Baca Juga: Kasus Korupsi Ekspor CPO, Kejagung Bongkar Rekayasa Klasifikasi Komoditas, 11 Orang Jadi Tersangka
Sebelumnya pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sebuah “armada besar” tengah menuju Iran.
Ia juga mengungkapkan harapannya agar Teheran bersedia melakukan perundingan dan mencapai kesepakatan yang dianggap adil serta seimbang.
Trump juga menegaskan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, maka serangan AS di masa mendatang terhadap negara tersebut akan jauh lebih besar dibandingkan operasi militer sebelumnya.