Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Perang Ukraina Konsolidasikan Kekuasaan Putin atas Elite Ekonomi Rusia

Ali Mustofa • Selasa, 30 Desember 2025 | 18:29 WIB

Presiden Rusia Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin

RADAR KUDUS – Konflik Rusia dan Ukraina bukan hanya menggeser peta geopolitik Eropa, tetapi juga membentuk ulang struktur kekuasaan di dalam negeri Rusia.

Di tengah perang yang berkepanjangan, muncul sebuah ironi: jumlah miliarder Rusia justru mencapai rekor tertinggi, sementara pengaruh dan suara politik mereka nyaris lenyap.

Mengutip laporan RBC Ukraine, Senin (29/12), selama 25 tahun kepemimpinan Vladimir Putin, kelompok ultra-kaya yang dahulu dikenal sebagai oligarki bertransformasi.

Baca Juga: Kediaman Dinas Putin Diserang Drone, Rusia Salahkan Ukraina

Dari aktor politik dengan pengaruh besar, mereka kini menjadi elite ekonomi yang patuh dan memilih diam.

Perbedaan ini mencolok jika dibandingkan dengan negara-negara Barat.

Di tingkat global, figur bisnis seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, hingga Bill Gates kerap menyampaikan pandangan politik dan ikut memengaruhi kebijakan publik.

Sebaliknya di Rusia, kekayaan tidak lagi identik dengan kebebasan berekspresi.

Sanksi Barat yang semula diharapkan memicu perlawanan dari elite bisnis Rusia justru tidak membuahkan hasil.

Kremlin dinilai berhasil menjaga kesetiaan para miliarder melalui kombinasi insentif ekonomi dan ancaman hukuman.

BBC menyoroti pola tersebut lewat kasus Oleg Tinkov, mantan miliarder sektor perbankan.

Baca Juga: Serangan Ukraina ke Kediaman Putin Akibatkan Menlonjaknya Harga Minyak Dunia

Sehari setelah Tinkov menyebut invasi Rusia ke Ukraina sebagai tindakan “gila” di media sosial, Kremlin disebut langsung menghubungi manajemen Tinkoff Bank.

Ancaman nasionalisasi disampaikan jika seluruh keterkaitan perusahaan dengan Tinkov sebagai pendiri tidak segera diputus.

“Saya tidak punya posisi tawar. Situasinya seperti disandera—saya hanya bisa menerima apa yang ditawarkan,” ujar Tinkov kepada The New York Times.

Tak lama berselang, bank tersebut diambil alih oleh pihak yang terhubung dengan Vladimir Potanin, salah satu orang terkaya di Rusia dan pemasok nikel penting bagi industri pertahanan.

Nilai transaksi disebut hanya sekitar tiga persen dari harga pasar wajar.

Baca Juga: Cek Daftar Harga BBM Terbaru Sabtu 27 Desember 2025 di SPBU Pertamina, Ini Rinciannya

Akibatnya, Tinkov kehilangan hampir USD 9 miliar atau sekitar Rp150,75 triliun (kurs Rp16.750 per dolar AS), sebelum akhirnya meninggalkan Rusia.

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, oligark Rusia memiliki daya tawar politik yang besar karena kekayaan mereka membuka akses langsung ke pusat kekuasaan.

Salah satu tokohnya adalah Boris Berezovsky, yang pernah mengklaim berperan dalam mengantarkan Vladimir Putin ke kursi presiden pada 2000.

Klaim tersebut kemudian berubah menjadi penyesalan mendalam.

Dalam tulisan pada 2012, Berezovsky mengaku tidak pernah membayangkan akan lahir sosok pemimpin yang mengekang kebebasan dan menghentikan pembangunan Rusia.

Setahun kemudian, ia ditemukan meninggal di pengasingan di Inggris, menandai berakhirnya era oligarki sebagai kekuatan politik independen.

Gambaran tersebut semakin nyata hampir satu dekade kemudian. Beberapa jam setelah memerintahkan invasi penuh ke Ukraina pada 24 Februari 2022, Putin mengumpulkan para miliarder di Kremlin.

Pertemuan itu berlangsung tanpa ruang perbedaan pendapat.

Baca Juga: Harga Pertamax hingga Dexlite Naik, Ini Rincian BBM Pertamina per 30 Desember 2025

“Saya berharap dalam kondisi baru ini kita tetap bisa bekerja sama secara efektif,” ujar Putin kala itu. Seorang jurnalis yang meliput menggambarkan para pengusaha hadir dengan wajah pucat dan terlihat kelelahan.

Secara ekonomi, dampak awal perang memang cukup besar.

Forbes mencatat jumlah miliarder Rusia menyusut dari 117 orang menjadi 83 orang hingga April 2022, dengan total kehilangan kekayaan mencapai USD 263 miliar atau sekitar Rp4.405 triliun.

Namun fase berikutnya justru menunjukkan kebangkitan ekonomi yang ditopang industri perang.

Lonjakan belanja militer mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia melampaui 4 persen sepanjang 2023–2024.

Baca Juga: Wacana Pilkada Lewat DPRD Menguat, Gerindra Kudus Angkat Soal Stabilitas Daerah

“Lebih dari separuh miliarder Rusia terlibat langsung dalam rantai pasok militer atau memperoleh keuntungan dari invasi,” ujar Giacomo Tognini dari tim Kekayaan Forbes.

Ia menambahkan kepada BBC bahwa menjalankan bisnis di Rusia kini hampir mustahil tanpa kedekatan dengan pemerintah.

Hasilnya, Rusia tahun ini mencatat 140 miliarder dengan total kekayaan mencapai USD 580 miliar, hanya sedikit di bawah rekor sebelum invasi.

Dalam sistem ini, loyalitas menjadi aset utama. Pembangkangan berujung hukuman, sebagaimana dialami Mikhail Khodorkovsky yang dipenjara selama satu dekade setelah mendukung gerakan pro-demokrasi.

Tekanan internasional justru memperkuat kendali Kremlin. Alexander Kolyandr dari Center for European Policy Analysis menilai, penyitaan aset, pembekuan rekening, dan sanksi properti membantu Putin memusatkan kekayaan elite untuk menopang ekonomi perang.

Kekosongan akibat hengkangnya perusahaan asing kemudian diisi oleh pelaku usaha yang dekat dengan kekuasaan.

Dengan demikian, di tengah perang dan tekanan global, Vladimir Putin justru berhasil mengonsolidasikan elite ekonomi Rusia.

Para miliarder tetap mempertahankan kekayaan mereka, namun memilih—atau dipaksa—untuk bungkam, menjadi penopang senyap bagi mesin perang dan stabilitas kekuasaan negara.

Baca Juga: Dapur MBG Tetap Beroperasi, SPPG Winong Pati Bagikan Soto dan Jajanan Gratis di Pasar Desa Saat Libur Sekolah

Sementara itu, ketegangan kembali meningkat setelah Rusia menuding militer Ukraina berupaya menyerang kediaman dinas Presiden Putin di Novgorod menggunakan drone jarak jauh.

Tuduhan ini mencuat tak lama setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Mar-a-Lago, Florida, Minggu (28/12/2025), dalam pembahasan upaya mengakhiri perang.

Ajudan Kremlin, Yuri Ushakov, mengatakan Putin telah menyampaikan informasi tersebut langsung kepada Trump melalui sambungan telepon.

Rusia mengklaim 91 drone ditembakkan dan seluruhnya berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.

Namun Presiden Zelensky membantah keras tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan yang bertujuan membenarkan serangan lanjutan Rusia ke Ukraina.

Ia mengingatkan warga Ukraina untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi serangan ke ibu kota Kiev.

Editor : Ali Mustofa
#rusia #ekonomi #ukraina #kekuasaan #drone #vladimir putin