Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Penggalian Fosil di Patiayam: Dari Balung Buto Menuju Warisan Nasional, Upaya Lestari Moerdijat Dorong Situs Patiayam Jadi Situs Purbakala Nasional

Zainal Abidin RK • Sabtu, 14 Juni 2025 | 15:45 WIB
MISI BESAR: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat hadir dalam diskusi bersama para pakar Situs Patiayam dan Mahasiswa PPL Penggalian Situs Patiayam dari Universitas Indonesia (UI) dalam diskusi Melesta
MISI BESAR: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat hadir dalam diskusi bersama para pakar Situs Patiayam dan Mahasiswa PPL Penggalian Situs Patiayam dari Universitas Indonesia (UI) dalam diskusi Melesta

KUDUS — Kunjungan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ke sebuah toko barang antik di Bali pada tahun 2022 menjadi awal kisah keinginannya untuk menjadikan Situs Patiayam jadi situs Purbakala Tingkat Nasional.

Di toko tersebut, Lestari Moerdijat menemukan beragam barang antik yang diperdagangkan, termasuk potongan fosil yang disebut berasal dari kawasan Patiayam, Kudus, Jawa Tengah.

Temuan ini memicu keprihatinan sekaligus rasa ingin tahu dari Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI yang mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah II, mencakup Kudus, Demak, dan Jepara.

"Sebagai wakil rakyat, saya terdorong untuk melihat lebih jauh apa yang terjadi di kawasan Patiayam," ujar Lestari Moerdijat dalam diskusi “Melestarikan Cagar Budaya Memperkokoh Kebangsaan” yang dilaksanakan di Balai Desa Terban Bersama para pakar arkeologi dan mahasiswa PPL Universitas Indonesia yang juga melakukan misi menggali situs Patiayam.

Kalimat itu juga diutarakan dalam pengantar buku hasil penelitian di situs tersebut. Dengan judul Patiayam, Perjalanan Masa Silam dan Cerita Kekinian yang diterbitkan Kerjasama MPR RI, CPAS (The Center for Prehistroy and Austronesian Studies), dan Yayasan Dharma Bhakti Lestari.

Masyarakat sekitar Patiayam ternyata sudah akrab dengan keberadaan fosil. Bahkan mereka memiliki istilah khas untuk menyebut fosil temuan mereka: balung buto.

Temuan semacam itu bukan lagi hal baru bagi warga, namun dengan terbukanya akses informasi, perhatian terhadap dinamika yang terjadi pun menjadi penting.

Namun, fenomena perburuan fosil oleh pihak luar mulai meresahkan. "Dari cerita warga, kini banyak orang datang mencari fosil, dan transaksi antara penduduk yang menemukan dengan pemburu fosil tidak terhindarkan," jelas Lestari.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian situs jika tidak segera dikendalikan.

Dengan bantuan Prof. Dr. Truman Simanjuntak dari The Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS), BRIN, serta dukungan dari Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL), dilakukan penelitian terbatas di situs purbakala Patiayam pada 8–24 Januari 2024.

”Kondisi inilah yang kemudian mendorong saya untuk dapat melakukan sesuatu sebelum kondisi menjadi tidak terkontrol dan terlambat,” jelasnya.

Salah satu temuan penting terjadi pada hari ke-11 penggalian di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Tim berhasil menemukan fosil Elephas utuh. Temuan ini menguatkan keyakinan bahwa kawasan Patiayam menyimpan warisan prasejarah penting yang harus dilindungi.

Namun, kondisi di lapangan memperlihatkan tantangan serius. Situs Patiayam kini dikelola sebagai lahan pertanian, membuka risiko besar terhadap kerusakan fosil. "Dampaknya sangat nyata, kawasan kaya temuan fosil ini jadi terancam," ungkap Lestari.

Hingga saat ini, situs Patiayam belum ditetapkan sebagai situs purbakala tingkat nasional. Oleh karena itu, Lestari menegaskan pentingnya langkah konkret untuk mendorong pengakuan tersebut.

"Ribuan bahkan jutaan fosil yang diperkirakan ada di situs Patiayam harus mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah, untuk diselamatkan," tegasnya.

Lestari berharap hadirnya buku ini sebagai hasil penelitian bisa menjadi bagian dari upaya pelestarian dan perlindungan kawasan tersebut. Ia juga mengajak masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama menjaga warisan leluhur.

“Temuan peradaban manusia di masa lalu adalah lentera bagi generasi masa depan,” pungkasnya. (zen)

 

Editor : Zainal Abidin RK
#kudus terkini #patiayam #yayasan lestari #arkeologi #Patiayam Kudus #situs purbakala