RADAR KUDUS - Fenomena brain rot kini kian mendapat perhatian karena tidak hanya menyerang anak atau remaja, tetapi juga orang dewasa yang memiliki jadwal padat dan intensitas penggunaan gawai yang tinggi.
Brain rot merujuk pada kondisi menurunnya fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang repetitif, dangkal, dan berlebihan.
Pada orang dewasa, kondisi ini sering berkembang perlahan tanpa disadari, namun efeknya dapat terasa signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang Psikolog menjelaskan bahwa brain rot muncul ketika otak terus-menerus dipaksa menerima konten cepat, instan, dan menghibur, sehingga kapasitas fokus, regulasi emosi, serta kualitas tidur menjadi terganggu.
Gejala umumnya berupa dorongan untuk selalu scrolling, kebutuhan mengecek notifikasi saat sedang bersosialisasi, menurunnya daya konsentrasi, mata mudah lelah, hingga munculnya insomnia dan tanda depresi ringan.
Konten pemicu brain rot biasanya tidak memiliki nilai informatif. Meski begitu, sifatnya yang ringkas dan mudah dikonsumsi membuat banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Ketika kebiasaan ini berlanjut, kemampuan untuk menikmati aktivitas nyata di dunia offline melemah. Hal ini dapat memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, serta kesehatan emosional.
Untuk mencegah brain rot berkembang lebih jauh,individu disarankan untuk membangun rutinitas sehat yang tidak melibatkan layar.
Kegiatan sederhana seperti memasak, membaca buku, membersihkan rumah, atau berolahraga mampu membantu otak kembali seimbang.
Menetapkan batas penggunaan gawai juga diperlukan, misalnya dengan mengatur durasi screen time harian, membatasi notifikasi, atau mengurangi jumlah aplikasi hiburan yang berpotensi membuat kecanduan.
Menekankan bahwa salah satu pemicu utama brain rot adalah kurangnya aktivitas fisik.
Tubuh yang jarang bergerak menciptakan rasa malas dan memengaruhi kondisi mental. Karena itu, aktivitas apa pun yang membuat tubuh lebih aktif sangat dianjurkan.
Jika brain rot sudah menimbulkan gangguan pada rutinitas, hubungan sosial, atau kestabilan emosi, penting bagi individu untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini.
Ketika upaya mandiri tidak lagi efektif, bantuan profesional dari psikolog dapat menjadi langkah penting untuk memulihkan keseimbangan mental.
Kesadaran diri menjadi kunci utama dalam menangani brain rot. Tanpa kesadaran bahwa ada yang tidak beres, perubahan perilaku sulit dilakukan.
Namun, ketika seseorang memahami kondisinya dan bersedia dibantu, proses pemulihan bisa berjalan lebih efektif dan terarah.
Fenomena brain rot semakin sering muncul pada kalangan dewasa yang terlalu lama terpapar konten digital dangkal, memicu penurunan fokus, gangguan tidur, hingga masalah psikologis.(rani)
Editor : Ali Mustofa