KUDUS – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada Selasa (17/2), dapur sederhana milik Toko Roti di Kecamatan Kota Kudus tak pernah sepi.
Permintaan kue keranjang melonjak tajam, memaksa tiga orang pekerja di dalamnya berjibaku dari pagi hingga malam demi memenuhi pesanan pelanggan dari berbagai daerah.
Dalam sehari, produksi bisa mencapai 200 kilogram.
Lonjakan pesanan bahkan sudah terasa sejak sebulan sebelum Imlek dan terus berlanjut hingga dua pekan setelah hari raya, mendekati perayaan Cap Go Meh.
Tradisi tahunan ini menjadi momen paling sibuk bagi usaha keluarga yang telah bertahan hingga generasi keempat tersebut.
Melani Dwi Hastiningsih, penerus usaha, mengatakan produksi kue keranjang memang hanya dilakukan setahun sekali.
Momentum Imlek menjadi satu-satunya waktu mereka mengolah penganan khas Tionghoa tersebut secara besar-besaran.
“Setiap hari kami bisa memproduksi sekitar 200 kilogram. Biasanya pesanan sudah naik sejak sebulan sebelum Imlek,” ujarnya.
Meski permintaan tinggi, jumlah tenaga kerja tidak bertambah.
Seluruh proses, mulai dari mencampur adonan, mengukus selama enam jam, hingga pengemasan, dikerjakan oleh tiga orang saja.
“Kami bertiga saja yang produksi. Mengaduk, mengukus, sampai packing juga kami kerjakan sendiri,” katanya.
Bahan yang digunakan pun sederhana, yaitu tepung beras, gula, dan air.
Dalam satu kali adonan, sekitar 10 kilogram tepung beras diolah hingga kental, lalu dicetak dan dikukus dalam waktu lama untuk menghasilkan tekstur kenyal dan lembut menyerupai jenang.
Selain varian original berwarna coklat muda, tersedia pula rasa pandan, vanila, dan coklat.
Meski berinovasi pada rasa, resep dasar tetap dipertahankan seperti warisan nenek mereka.
“Kami tetap pakai resep dari nenek. Itu yang bikin rasanya tidak berubah sampai sekarang,” tegas Melani.
Kue keranjang bukan sekadar makanan musiman.
Bentuknya yang bulat tanpa sudut melambangkan keutuhan dan keharmonisan, sementara teksturnya yang lengket dimaknai sebagai simbol eratnya persaudaraan dan rezeki yang terus melekat.
Tak hanya dipasarkan di Kudus, produk Panjunan juga dikirim ke Pati, Juwana, Tayu, Semarang, Kutoarjo, Bandung hingga Jakarta.
Pemesanan kini turut dilakukan secara daring, memperluas jangkauan pasar di tengah perkembangan teknologi.
Bagi keluarga penerus usaha, Imlek bukan hanya tentang meningkatnya omzet.
Lebih dari itu, momen ini menjadi waktu untuk menjaga tradisi, merawat resep turun-temurun, sekaligus mempertahankan cita rasa yang telah dipercaya pelanggan lintas generasi. (dik)
Editor : Mahendra Aditya