RADAR KUDUS - Tren olahraga lari dan aktivitas fisik intensitas tinggi di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, di balik manfaat besar olahraga bagi kesehatan, terdapat risiko serius yang perlu diwaspadai, salah satunya gangguan irama jantung atau aritmia yang dapat berujung pada kematian mendadak.
Hal ini disampaikan dalam diskusi kesehatan yang menghadirkan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia, dr. I Made Putra Swi Antara, yang menyoroti pentingnya skrining jantung sebelum mengikuti olahraga dengan intensitas sedang hingga berat.
Menurut dr. I Made Putra Swi Antara, aritmia adalah kondisi ketika irama jantung tidak berdetak secara normal, bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.
Penyebab aritmia secara umum terbagi menjadi dua faktor utama, yakni genetik atau bawaan lahir serta faktor non-genetik seperti ketidakseimbangan elektrolit akibat aktivitas fisik ekstrem.
“Penyebab terbanyak aritmia yang berbahaya adalah faktor genetik. Banyak kasus tidak menunjukkan gejala apa pun dan baru terdeteksi saat terjadi kolaps atau kematian mendadak,” ujar dr. I Made Putra Swi Antara.
Salah satu gangguan genetik yang sering menjadi pemicu kematian mendadak adalah Brugada Syndrome dan Long QT Syndrome.
Kedua kondisi tersebut dapat terdeteksi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) sederhana tanpa perlu tes fisik berat.
Berbeda dengan faktor genetik, ketidakseimbangan elektrolit umumnya terjadi pada olahraga ketahanan seperti maraton atau trail run, terutama bila tidak diimbangi dengan asupan cairan dan elektrolit yang cukup.
Meski pada individu sehat kondisi ini biasanya hanya menyebabkan pingsan sementara, risikonya meningkat tajam bila disertai kelainan jantung tersembunyi.
Dr. I Made Putra Swi Antara menegaskan bahwa pingsan saat berolahraga tidak boleh disepelekan, terutama jika disertai hilang ingatan atau tidak sadar sepenuhnya. Kondisi tersebut merupakan tanda bahaya karena menunjukkan terhentinya aliran darah ke otak.
“Jika seseorang tiba-tiba tidak sadar dan tidak mengingat kejadian sebelumnya, itu red flag dan harus segera diperiksa secara medis,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, dr. I Made Putra Swi Antara merekomendasikan agar setiap individu yang akan mengikuti olahraga publik dengan intensitas sedang hingga berat, seperti lari 5 kilometer ke atas, wajib menjalani skrining EKG minimal satu kali dalam hidupnya. Pemeriksaan ini dinilai murah, mudah, dan sudah tersedia di seluruh puskesmas di Indonesia.
Berdasarkan data internasional, penerapan skrining EKG massal pada atlet di Italia sejak awal 2000-an berhasil menurunkan angka kematian mendadak saat olahraga secara signifikan, dari 2–7 kasus per 100.000 orang menjadi sekitar 0,6 per 100.000 orang.
“Dengan EKG, sensitivitas deteksi risiko kematian mendadak bisa mencapai 90 persen, jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan wawancara gejala,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan sinyal tubuh yang tidak biasa saat berolahraga, seperti nyeri dada, sesak napas, atau penurunan performa secara tiba-tiba. Menurutnya, banyak kasus fatal sebenarnya didahului oleh gejala ringan yang diabaikan.
Meski demikian, dr. I Made Putra Swi Antara menekankan bahwa olahraga tetap sangat dianjurkan karena manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan risikonya.
Kunci utama adalah mengenali kondisi tubuh, melakukan skrining jantung, serta tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan.
“Olahraga jangan ditinggalkan karena takut. Yang penting adalah pencegahan, skrining, dan kesadaran terhadap kesehatan jantung,” pungkasnya. (Ghina)
Editor : Mahendra Aditya