Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jemput Bulan Suci dengan Tari Sufi, 38 Santri Putarkan Cinta di Pelataran Masjid Al-Makmur Kriyan

Fikri Thoharudin • Minggu, 15 Februari 2026 | 16:29 WIB
LARUT: Para santri menampilkan tari sufi di pelataran Masjid Al-Makmur Desa Kriyan pada Jumat (13/2) sore.
LARUT: Para santri menampilkan tari sufi di pelataran Masjid Al-Makmur Desa Kriyan pada Jumat (13/2) sore.

JEPARA — Langit jingga di atap Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan perlahan berubah. Memutih.

Seiring dengan puluhan tubuh berjubah putih yang mulai berputar lembut. 

Ratusan pasang mata warga dan pengunjung tenggelam.

Larut dalam pusaran cinta, yang ditampilkan puluhan penari kolosal pada Jumat (13/2) menjelang petang.

Sebanyak 38 santri menampilkan tari sufi kolosal, pada Jumat terakhir di bulan Syaban tersebut. 

Bertempat di pelataran Masjid Al-Makmur Kriyan, pertunjukan itu menjadi pamungkas rangkaian Baratan 2026 sekaligus penutup Pekan Budaya Kriyan.

Anak-anak muda hingga dewasa larut dalam irama. Putaran demi putaran seperti menyibak batas antara langit dan bumi. 

Kostum yang dikenakan para penari sarat makna. Mereka mengenakan Tennur yang melambangkan kain kafan.

Di kepala, topi tinggi Sikke menyerupai batu nisan. Rompi dan jubah putih (Hirqa) melambangkan nafsu duniawi yang dikibaskan, dikubur.

Pesan yang hendak disampaikan sederhana namun dalam, menjemput “Mati di dalam hidup." Mematikan ego dan hawa nafsu, agar jiwa lebih siap menyambut bulan suci.

Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah Kriyan, Gus Muhammad—yang akrab disapa Gus Mad—menyebut tema kegiatan tahun ini adalah “Sambut Ramadhan dengan Cinta”.

“Berbahagialah atas datangnya bulan Ramadhan. Sebab, barang siapa yang bahagia atas datangnya bulan ini maka jasadnya haram tersentuh api neraka. Ini searah dengan keterangan Kitab Durrotun Nashisin yang menerangkan, man fariha biduhuli Ramadhan harramallahu jasadahu ‘alan niran,” ungkapnya.

Menurutnya, Ramadhan tak semestinya disambut dengan beban, melainkan dengan kegembiraan. “Sambut Ramadhan dengan cinta, bukan dengan rasa berat,” tambahnya.

Sebelum berputar, para santri lebih dulu berwudu dan melakukan tawasul kepada para guru sebagai mata rantai ajaran. Tradisi itu menjadi penanda bahwa tari sufi bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi laku spiritual.

Tari sufi sendiri dikenal berasal dari tradisi Timur Tengah dan dalam praktiknya di negeri asal disebut Sema, bagian dari ajaran Thoriqoh Maulawiyah. 

Namun di tangan para santri Kriyan, tarian ini menjelma menjadi warna khas Indonesia. Lentur berkolaborasi dengan berbagai jenis musik dan menyatu dengan denyut budaya lokal.

Bagi warga, penampilan kolosal ini bukan hanya hiburan. Ia menjadi penanda bahwa bulan Syaban hampir berakhir dan Ramadhan sudah di depan mata. 

Sekaligus mencitrakan Kriyan sebagai desa santri yang tak hanya menjaga nilai keagamaan, tetapi juga merawat kesenian.

Ketika putaran terakhir berhenti dan jubah-jubah putih kembali diam, senja telah sepenuhnya turun. Namun rasa haru masih menggantung di udara. Di pelataran masjid itu, Ramadhan seolah sudah hadir. Disambut dengan cinta, dipeluk dengan sukacita.

"Perasaan bahagia itu menular. Kami berharap masyarakat juga demikian. Menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan," tandasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#kalinyamatan #jepara #Kolosal #tari sufi