JEPARA — Tragedi kebakaran hebat yang melanda Jepara pada 2025 lalu meninggalkan luka mendalam bagi banyak pihak.
Namun, dari peristiwa itu pula, lahir sebuah inovasi yang kini memberi harapan baru dalam pencegahan kebakaran rumah tangga.
Adalah Vreshita dan Hasan, dua siswa kelas XI SMA Negeri 1 Jepara, yang berhasil mengubah keprihatinan menjadi karya teknologi. Mereka menciptakan STOVIX, alat pengaman kompor gas berbasis Internet of Things (IoT) yang terhubung langsung dengan smartphone.
Karya inovatif tersebut mengantarkan keduanya meraih Juara I Jepara Innovation Award (JIA) Volume 2, yang digelar di Fakultas Komunikasi dan Desain Unisnu Jepara, Selasa (10/2/2026).
“Awalnya kami terpukul melihat kebakaran di tempat parkir karyawan pabrik sepatu tahun 2025. Kerugiannya besar, dan ternyata disebabkan kelalaian penggunaan kompor,” tutur Vreshita mengenang awal mula ide tersebut.
Peristiwa pada 5 Mei 2025 itu menimbulkan kerugian hingga miliaran rupiah. Dari situlah, Vreshita dan Hasan mulai memikirkan solusi sederhana namun berdampak besar: menciptakan sistem pengaman kompor yang bisa dikontrol dari mana saja.
Didampingi guru pembimbing M. Taufiq Muslih, keduanya merancang STOVIX khusus untuk kompor gas dua tungku. Perangkat ini terhubung dengan aplikasi di ponsel pintar, sehingga pengguna dapat mematikan api dari jarak jauh.
Tak hanya itu, STOVIX juga dilengkapi fitur pengatur waktu dan sensor pendeteksi aktivitas di sekitar kompor.
“Kalau tidak ada orang di dekat kompor dalam waktu tertentu, sistem akan otomatis mematikan api,” jelas Hasan.
Fitur ini, lanjut Hasan, dapat diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai kebutuhan pengguna. Tujuannya untuk mencegah risiko kebakaran sejak dini, terutama akibat lupa mematikan kompor.
Keunggulan lain STOVIX adalah kemudahan kontrol. Meski sedang berada di luar rumah, pengguna tetap bisa memantau dan mengendalikan kompor melalui telepon pintar.
“Harapannya, masyarakat jadi lebih sadar pentingnya keselamatan saat menggunakan gas LPG,” imbuhnya.
Perjalanan menciptakan STOVIX tentu tidak mudah. Di tengah padatnya aktivitas sekolah, keduanya harus membagi waktu antara belajar dan riset teknologi.
“Kami sering mengerjakan setelah pulang sekolah atau di akhir pekan. Capek, tapi senang karena bisa selesai,” kata Vreshita.
Kini, perjuangan itu membuahkan hasil. Selain meraih prestasi tingkat daerah, Vreshita dan Hasan juga berencana mengembangkan STOVIX ke tahap lebih lanjut.
Mereka akan mengikutkan inovasi tersebut pada ajang Kreativitas dan Inovasi (Krenova) serta meningkatkan sistem server agar bisa digunakan secara lebih luas.
“Target kami, STOVIX bisa dipakai masyarakat di berbagai daerah, bukan hanya di Jepara,” ujar Hasan optimistis.
Bagi dua pelajar ini, STOVIX bukan sekadar alat teknologi. Lebih dari itu, karya mereka menjadi bukti bahwa kepedulian, kreativitas, dan semangat belajar dapat melahirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Editor : Mahendra Aditya