Karang tersebut dianggap keramat oleh warga sekitar. Pasalnya, bagi siapapun yang mandi di sekitar batu karang itu, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. ”Itu sudah jadi kepercayaan sejak zaman dahulu. Orang sekitar sini, kalau badannya kurang enak mandi di situ. Juga sembuh,” ungkap Suwignyo, Ketua RT 1/RW 4 Kelurahan Bulu, Jepara Kota.
Suwignyo mengetahui itu karena dia termasuk trah asli di komplek tersebut. Dari kakek hingga ayahnya merupakan juru kunci batu Karanggenuk tersebut. ”Dahulu banyak sekali yang menginap di rumah. Selanjutnya pagi harinya mandi di sekitar karang tersebut,” jelas Suwignyo.
Khasiat Karanggenuk dipercaya manjur saat Senin pagi setelah subuh. Dari keterangannya pula, karang tersebut diduga memiliki pasangan berupa batu karang serupa. Lokasinya di tengah jembatan dermaga di belakang KOP. Di bibir pantainya terdapat sebuah batu karang besar dengan diameter sekitar 2 meter berdiri di sana. ”Dahulu yang dianggap keramat hanya karang yang di sisi barat. Namun setelah ada seuatu kejadian, kami mengira karang tersebut ada berpasangan,” imbuh Suwignyo.
Kejadian itu terjadi saat Suwignyo masih remaja. Sebelum Pantai Kartini dibangun seperti saat ini, di areal pantai masih banyak batu-batu karang. Banyak masyarakat yang mengambil bebatuan itu untuk jadi pondasi. Saat itu masyarakat menganggap yang dianggap keramat hanya Karanggenuk. Berjarak sekitar 100 meter dari karanggenuk terdapat karang besar itu. Oleh salah satu warga dicoba untuk dipecah. Karena saat itu dianggap tidak berkaitan dengan Karanggenuk. ”Tapi belum sempat hancur, yang mecah ini pingsan. Saat sadar, dia jadi gila. Akhirnya diobatkan ke jurukunci sini. Dan dibilangi batu karang itu jangan di-ulik-ulik,” paparnya.
Selama dia besar di sekitar Karanggenuk, Suwignyo mengaku tak menemukan hal aneh maupun menyeramkan. Hanya saja, ia berpesan agar para pengunjung sopan saat di sekitar dua batu karang besar yang ada di Pantai Kartini. Ia menjelaskan sebenarnya batu karang itu boleh dinaiki. Namun tidak diperkenankan berbuat yang tidak-tidak. ”Takutnya terjadi hal yang tidak-tidak. Dahulu ada yang berpacaran di atasnya. Terus jatuh. Yang jatuh itu mengaku merasa ada yang mendorongnya,” tegas Suwignyo. (rom/zen) Editor : Ali Mustofa