RADAR KUDUS - Ketegangan Iran–Amerika Serikat memasuki babak baru setelah tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, secara terbuka memuji Presiden AS Donald Trump atas operasi militer yang disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X pada Minggu (1/3/2026), putra mendiang Shah Iran itu menyebut operasi militer bertajuk “Epic Fury” sebagai titik balik sejarah bagi rakyat Iran.
menilai langkah Washington dan Tel Aviv sebagai jawaban atas “seruan lama rakyat Iran” yang menginginkan dukungan dunia bebas untuk mengakhiri kekuasaan Republik Islam.
Sebut Rezim Telah Berakhir
Reza Pahlavi menegaskan bahwa wafatnya Khamenei secara de facto menandai runtuhnya fondasi Republik Islam yang telah berdiri sejak Revolusi 1979.
Menurutnya, setiap upaya elite Teheran untuk menunjuk pengganti Khamenei akan gagal karena hilangnya legitimasi moral dan politik rezim.
Dalam pesannya, ia menyebut Khamenei sebagai “diktator haus darah” dan menuduhnya bertanggung jawab atas kematian ribuan warga Iran selama puluhan tahun pemerintahan teokratis.
Pahlavi juga mengutip pernyataan Trump yang menyebut “saat kebebasan kalian telah tiba”, sebagai sinyal bahwa momentum perubahan telah datang.
Ultimatum untuk Militer dan Aparat Keamanan
Tak hanya menyasar publik sipil, Reza Pahlavi juga menyampaikan pesan langsung kepada militer, kepolisian, dan aparat keamanan Iran. Ia meminta mereka berhenti membela rezim yang disebutnya sedang runtuh.
Pahlavi bahkan menawarkan “jalan keluar terhormat” bagi aparat yang bersedia berpihak pada rakyat demi memastikan transisi kekuasaan yang stabil dan menghindari kekacauan berkepanjangan.
“Ini kesempatan terakhir untuk bergabung dengan bangsa dan membangun masa depan Iran yang bebas dan makmur,” tegasnya.
Seruan Aksi Massa
Meski menyambut kabar kematian Khamenei sebagai “awal kemenangan”, Pahlavi mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.
menginstruksikan para pendukungnya di dalam dan luar negeri untuk tetap siaga dan bersiap menggelar aksi besar-besaran di jalanan.
Seruan tersebut muncul di tengah laporan meningkatnya penjagaan keamanan di berbagai kota besar Iran.
Sejumlah pengamat menilai seruan mobilisasi massa dapat mempercepat dinamika politik domestik, terutama jika terjadi perpecahan di tubuh elite keamanan.
Reaksi Global dan Risiko Eskalasi
Sementara itu, situasi regional terus memanas. IRGC sebelumnya menyatakan akan meluncurkan operasi balasan besar terhadap Israel dan kepentingan AS di kawasan.
Beberapa laporan menyebutkan adanya peningkatan serangan rudal dan drone lintas wilayah dalam 24 jam terakhir.
Sejumlah negara, termasuk anggota Dewan Keamanan PBB, menyerukan de-eskalasi dan kembali ke jalur diplomasi.
Namun hingga kini, belum ada indikasi kuat bahwa ketegangan akan segera mereda.
Momentum Perubahan atau Awal Konflik Lebih Besar?
Pernyataan Reza Pahlavi menambah dimensi politik baru dalam konflik yang sebelumnya didominasi konfrontasi militer.
Jika dukungan domestik terhadap oposisi benar-benar menguat, Iran bisa menghadapi fase transisi yang penuh ketidakpastian.
Namun di sisi lain, mobilisasi internal di tengah ancaman eksternal juga berpotensi memicu respons keras dari struktur kekuasaan yang masih tersisa.
Dunia kini menanti: apakah ini benar-benar awal perubahan besar di Iran, atau justru awal dari gejolak yang lebih dalam dan berkepanjangan di Timur Tengah?
Editor : Mahendra Aditya