Beberapa koleksi yang tersisa di antaranya adalah Tombak Ndalem (empu dalam), Tombak Singkir Angin Brojoguno yang menurutnya bisa nembus uang logam, kalung manik-manik dengan gantungan seperti topeng, Keris Tilam Pamor Wengkon, Pedang Sabet, serta Kudi (peninggalan Budha, bentuknya seperti celurit yang berbentuk angsa).
Setiap hari dia keliling ke luar daerah untuk mencari pusaka. Sekaligus mencari barang antik. Seakan tak ada hari libur. Apalagi jika ada pameran pusaka, dia mengaku tak pernah luput.
"Setiap pagi, rasanya ingin segera keluar untuk mencari. Saat malam, rasanya nggak mau pulang. Tapi tetap pulang untuk keluarga," ucapnya saat ditemui wartawan koran ini di rumahnya.
Berapapun jarak akan ditempuh tatkala dia mendapatkan informasi keberadaan pusaka yang dimiliki seseorang. Apalagi jika barang yang diinformasikan adalah barang yang menurutnya istimewa.
"Kalau tidak ada informasi, biasanya saya datang ke warung-warung, ke mana saja. Kalau ketemu sesepuh. Tak tanyai. Ada yang punya keris atau pusaka sejenisnya atau tidak," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Dia kemudian menjelaskan cerita yang menurutnya unik. Yakni saat dia masih berusia belasan tahun. Saat itu, ada seorang dari desa lain yang seringkali datang ke rumahnya untuk bertemu ibunya. Kebetulan ibunya dianggap sebagai orang pintar di daerah tersebut.
"Orang itu nyari ibu terus. Nyari pusaka. Celana yang dipakai biasanya comprang biasa dipakai untuk ke sawah. Tak bilang gila itu. 50 kali lebih. Malah sekarang saya yang ikut-ikutan," ucapnya disertai tawa.
Meski seringkali dianggap sebagai pekerjaan yang tidak jelas, dia mengaku tetap menikmati pekerjaan yang sekaligus menjadi hobinya itu. Bahkan, menurutnya tidak ada pekerjaan yang lebih nikmat daripada hobinya itu.
"Saat berangkat bekerja. Niat saya mencari nafkah untuk keluarga. Insyaallah berkah dan akan dipermudah," ucapnya.
Sosok yang sekolah hanya sampai kelas 3 SD itu mengaku menjadi banyak kenalan dari berbagai kalangan karena hobinya itu. Mulai dari orang di perkampungan, orang kota, hingga beberapa pejabat pernah menjadi kliennya. Beli pusaka di tempatnya.
Dia menjual dengan harga yang variatif. Tergantung jenis pusaka dan bagaimana kondisinya. Semakin langka dan sulit ditemui suatu pusaka, harganya semakin mahal. Begitu juga dengan barang yang mengandung emas, juga lebih mahal.
Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini, dia mengaku beberapa koleksi kerisnya telah laku saat pameran di Semarang beberapa hari sebelumnya. Yang tersisa hanya beberapa pusaka saja. Itupun kondisinya yang masih berkarat. Belum dibersihkan dan belum dicuci. (cha/war) Editor : Ali Mustofa