GROBOGAN – Program rehabilitasi sekolah dasar (SD) di Kabupaten Grobogan tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah paket perbaikan menyusut drastis.
Pada 2026 ini, Pemkab Grobogan hanya mengerjakan 118 paket perbaikan SD dengan total anggaran sekitar Rp 24 miliar dari APBD.
Meski demikian, Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan memastikan perbaikan tetap menyasar sekolah-sekolah dengan kondisi paling mendesak.
Saat ini, seluruh paket masih berada pada tahap survei lapangan sebelum masuk proses pelaksanaan konstruksi.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Grobogan, M. Irfan, mengatakan pelaksanaan fisik ditargetkan mulai berjalan pada Maret hingga Mei mendatang.
“Sekarang masih tahap survei. Kalau sesuai rencana, pelaksanaan konstruksi mulai Maret sampai Mei,” jelas Irfan.
Ia merinci, dari total paket yang ada, rehabilitasi ruang kelas menjadi pekerjaan paling dominan.
Sebanyak 48 ruang kelas SD direhabilitasi dengan pagu anggaran mencapai Rp 11,2 miliar.
Selain itu, terdapat pembangunan ruang kelas baru di enam SD dengan total anggaran sekitar Rp 1,5 miliar.
Perbaikan fasilitas penunjang pembelajaran juga tetap dilakukan. Rehabilitasi perpustakaan menyasar tiga SD dengan pagu Rp 629 juta.
Sementara rehabilitasi ruang kepala sekolah dan ruang guru dilakukan di dua SD dengan anggaran sekitar Rp 390 juta.
Tak kalah besar, program rehabilitasi dan pembangunan sarana prasarana sekolah juga menjangkau 59 SD, dengan total pagu anggaran mencapai Rp 10,28 miliar.
Secara keseluruhan, rata-rata nilai pekerjaan per sekolah berkisar antara Rp 200 juta hingga Rp 660 juta, menyesuaikan tingkat kerusakan bangunan dan kebutuhan di lapangan.
Irfan mengakui, jumlah paket perbaikan tahun ini memang jauh lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai lebih dari 150 paket.
Keterbatasan anggaran menjadi faktor utama sehingga penanganan belum bisa menjangkau seluruh sekolah yang membutuhkan.
“Kalau dibandingkan tahun lalu memang turun. Padahal dari usulan Musrenbang, masih ada ratusan SD yang mengajukan perbaikan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat Disdik Grobogan harus melakukan skala prioritas, dengan memfokuskan anggaran pada sekolah-sekolah yang dinilai paling rawan dan berpotensi mengganggu keselamatan serta proses belajar mengajar.
Pemkab Grobogan berharap, meski jumlah paket berkurang, kualitas pekerjaan tetap optimal dan mampu memberikan dampak nyata bagi kenyamanan serta keamanan siswa dan guru di sekolah-sekolah penerima manfaat.
Salah satu sekolah yang masuk daftar prioritas rehabilitasi tahun ini adalah SDN Kecil Karangasem, sebuah sekolah dasar yang berada di tengah kawasan hutan wilayah timur Kabupaten Grobogan. Sekolah tersebut berada di Dusun Sidorejo, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari.
Setelah bertahun-tahun luput dari sentuhan perbaikan, SDN Kecil Karangasem akhirnya mendapat perhatian pemerintah daerah.
Tahun ini, sekolah tersebut memperoleh alokasi rehabilitasi dari APBD Kabupaten Grobogan senilai Rp 660 juta.
Keberadaan SDN Kecil Karangasem dinilai sangat vital bagi masyarakat setempat. Meski kecil dan terpencil, sekolah ini menjadi satu-satunya akses pendidikan dasar bagi anak-anak di dusun tersebut.
Dengan adanya rehabilitasi tahun ini, Disdik Grobogan berharap kualitas sarana belajar mengajar di SDN Kecil Karangasem dapat meningkat, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa serta guru yang selama ini bertahan mengajar di tengah keterbatasan. (int)
Editor : Ali Mustofa