Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sule Klarifikasi dan Minta Maaf Karena Ngonten di Rumah Duka Vidi Aldiano

Anita Fitriani • Kamis, 12 Maret 2026 | 10:00 WIB

Sule (Foto: tangkapan layar YouTube HAS Creative)
Sule (Foto: tangkapan layar YouTube HAS Creative)

RADAR KUDUS - Komedian sekaligus presenter Entis Sutisna atau yang dikenal dengan nama panggung Sule menjadi sorotan publik setelah vlog kunjungannya ke rumah duka dan pemakaman Vidi Aldiano diunggah ke kanal YouTube miliknya. 

Dalam video tersebut, Sule tampak merekam perjalanan menuju rumah duka hingga situasi di sekitar lokasi saat suasana.

Unggahan itu kemudian viral dan memicu kritik warganet yang menilai tindakan ngonten di tengah duka keluarga tidak peka dan kurang menghormati privasi.

 

Protes di media sosial membuat Sule akhirnya angkat bicara dan menyatakan permohonan maaf secara terbuka.

Vidi Aldiano, musisi bersuara khas yang dikenal lewat sejumlah musik hits pop, meninggal dunia di usia 35 tahun setelah sekitar enam tahun berjuang melawan kanker ginjal. 

Kabar wafatnya Vidi disampaikan secara resmi pada Sabtu, 7 Maret 2026, dan langsung menimbulkan duka mendalam di kalangan keluarga, sahabat, dan para penggemar.

Sejumlah tokoh publik dan rekan sesama musisi datang melayat, termasuk nama‑nama besar di industri hiburan tanah air.

Di tengah suasana duka itulah, kehadiran Sule terekam dalam sebuah video yang kemudian diunggah ke kanal YouTube SL Media miliknya.

Konten tersebut tidak hanya menampilkan perjalanan dirinya menuju rumah duka di tengah hujan, tetapi juga memperlihatkan suasana di sekitar lokasi saat pihak keluarga dan pelayat lain tengah berkumpul. 

Publik menilai perekaman momen melayat dan suasana rumah duka untuk kebutuhan konten hiburan sebagai tindakan yang tidak sensitif terhadap perasaan keluarga yang baru saja kehilangan.

Komentar kecewa dan kritik pun bermunculan di media sosial, menyebut bahwa ruang privat keluarga seharusnya lebih dihormati, apalagi dalam kondisi berduka.

Menanggapi kasus tersebut, Sule menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf.  Ia mengaku menerima masukan dari publik dan tidak menutup mata terhadap kritik yang dialamatkan kepadanya. 

Sule menyampaikan bahwa tidak ada niat buruk ataupun indikasi mencari sensasi di balik pembuatan vlog tersebut, dan ia menyampaikan permohonan maaf secara luas kepada semua pihak yang merasa terganggu.

Dalam keterangannya, Sule menjelaskan bahwa dirinya hanya berada di bagian luar rumah dan tidak masuk ke area privat keluarga saat proses perekaman berlangsung. 

Meski demikian, ia menyadari bahwa keputusannya untuk tetap merekam dan mengunggah suasana duka ke media sosial telah menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. 

Beberapa warganet disebut tetap memberikan apresiasi karena merasa bisa mengetahui suasana di sekitar rumah duka, namun tidak sedikit yang menilai konten tersebut melampaui batas kepantasan. 

Sule pun menyatakan bahwa kontroversi ini menjadi bahan evaluasi dirinya dalam memproduksi konten di kemudian hari agar lebih mempertimbangkan etika dan sensitivitas publik.

Kasus yang menimpa Sule juga memunculkan kembali perbincangan soal batas antara konten dan privasi, terutama di tengah maraknya budaya berbagi segala hal di ruang digital.

Merekam momen pribadi di ruang publik, seperti di rumah duka dan pemakaman, dinilai perlu diiringi dengan pertimbangan etis, mulai dari izin keluarga hingga dampak emosional terhadap pihak yang ditinggalkan. 

Permintaan maaf Sule dipandang sebagai pengakuan akan pentingnya rasa empati dan penghormatan ketika menyentuh ranah yang sangat personal seperti kematian dan proses berduka.

Konten melayat yang menyeret nama Sule pada akhirnya menjadi cermin bahwa di era industri kreator, tidak semua momen layak dijadikan tayangan. 

Permintaan maaf Sule menunjukkan adanya kesadaran bahwa popularitas dan kebutuhan konten tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan etika, terutama di tengah duka keluarga sahabat sendiri. 

Ke depan, kasus ini diharapkan menjadi pelajaran bersama bagi para kreator dan publik figur agar lebih peka membaca situasi.

Menimbang batas privasi, dan mengedepankan rasa hormat ketika berada di ruang‑ruang yang sarat emosi dan kesedihan.

Dengan demikian, penghormatan kepada almarhum Vidi Aldiano tidak hanya diwujudkan lewat kehadiran fisik di rumah duka, tetapi juga melalui sikap dan pilihan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. (*)

Editor : Ali Mustofa
#vidi aldiano #Sule minta maaf #sule #Entis Sutisna