Pertanyaan:
Saat ini kami pelaku UMKM batik menghadapi masalah serius pada sumber daya manusia.
Anak muda semakin sedikit yang mau membatik karena prosesnya lama dan dianggap kurang menjanjikan.
Bagaimana cara kami menjaga keberlanjutan (sustainability) usaha batik di kondisi seperti ini?
Apakah ada strategi lain agar usaha batik kami tetap berkelanjutan meski SDM terbatas?
Jawaban:
Permasalahan keterbatasan sumber daya manusia memang menjadi tantangan utama yang dihadapi UMKM batik saat ini.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan preferensi generasi muda, membatik kerap dipandang sebagai pekerjaan yang berat, membutuhkan ketelatenan tinggi, serta kurang menjanjikan secara ekonomi.
Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin keberlanjutan usaha batik yang selama ini menjadi identitas budaya dan sumber penghidupan masyarakat akan semakin terancam.
Untuk menjaga sustainability, UMKM batik perlu menerapkan kombinasi strategi jangka pendek dan jangka panjang.
Salah satu langkah paling mendasar adalah melakukan regenerasi SDM berbasis nilai.
Membatik perlu diperkenalkan bukan semata sebagai aktivitas produksi, melainkan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, sekaligus potensi ekonomi yang nyata.
Kesadaran ini penting agar generasi muda melihat batik sebagai peluang, bukan sekadar pekerjaan tradisional yang ditinggalkan zaman.
Upaya regenerasi tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama dengan sekolah, pesantren, maupun komunitas kreatif lokal.
Kegiatan seperti kelas membatik, ekstrakurikuler, workshop kreatif, atau program magang di UMKM batik dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pengenalan dunia usaha sejak dini.
Dengan pendekatan ini, anak muda tidak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga memahami nilai budaya dan peluang ekonomi di baliknya dan terdorong untuk terlibat dan melanjutkan usaha batik secara berkelanjutan.
Untuk pertanyaan terkait strategi lain agar usaha batik tetap berkelanjutan bahwa UMKM batik perlu memperkuat kolaborasi dan diferensiasi produk.
Kolaborasi dengan desainer, akademisi, atau UMKM lain dapat memperluas pasar.
Sementara itu, diferensiasi produkmisalnya batik ramah lingkungan atau batik dengan cerita budaya local akan meningkatkan nilai jual, sehingga usaha tetap sustain meski kapasitas produksi terbatas.
Oleh: Nafi' Inayati Zahro, S.E., M.Si., CTT. (Dosen Akuntansi FEB UMK)
Editor : Ali Mustofa