Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menggagas Museum Literasi di Blora

R
Penulis: Redaksi❯
Rosidi,Penulis adalah pegiat literasi, staf pengajar MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan mentor BCB BAZNAS Ma’had Aly TBS Kudus.
CATATAN OLEH: ROSIDI, Penulis adalah pegiat literasi, staf pengajar MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan mentor BCB BAZNAS Ma’had Aly TBS Kudus. 

Advertisement

KENDATI hanya pernah menetap di Blora sekira tiga tahun, namun kabupaten di ujung timur Jawa Tengah ini memberikan kesan yang sangat mendalam dengan segala kearifan dan “keistimewaan” yang belum tentu dimiliki banyak daerah lain.

Banyak kalangan menyebut Blora sebagai “Bumi Samin Surosentiko”. Ki Samin Surosentiko adalah tokoh perlawanan petani Blora melawan penguasa kolonial pada masanya, yang mengajarkan arti hidup keluarga Sikep (Taufik Rahzen et al, 2007).

Ada yang menyebutnya “Kota Jati” lantaran luasnya hamparan pohon jati yang berada di wilayah Kabupaten Blora.

Advertisement

Di sisi lain, adanya Museum Mahameru yang menyimpan berbagai benda bersejarah masa lalu, baik pada masa Hindu - Budha hingga Islam, Kabupaten Blora juga sebenarnya layak disebut sebagai “kota budaya”.

Dan yang mesti dipahami publik, terutama generasi muda di Kabupaten Blora saat ini, bahwa kabupaten tersebut juga sebenarnya sangat layak “disebut” dan dikembangkan sebagai “Kota Literasi”. 

Pasalnya, setidaknya ada dua tokoh penulis hebat yang sangat dikenal di tanah air dari Kabupaten Blora yang kelak juga disebut sebagai “Kota Mustika”. Dua penulis hebat kelahiran Blora itu adalah Mas Marco Martodikromo (lahir di Cepu, Blora, 1890) dan Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925). 

Advertisement

Mas Marco Martodikromo dalam buku “Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia” Taufik Rahzen et al, 2007) tokoh luar biasa yang mengawali karier kepenulisannya dengan belajar kepada Mas Tirtho Adhi Soerjo di Medan Prijaji. 

Di masa perjuangan, dia antara lain juga dikenal menulis di beberapa media lain seperti Pantjaran Warta, menyunting Sinar Hindia, menerbitkan Soero Tomo dan menulis novel Student Hidjo.

Sedang Pramoedya Ananta Toer, adalah penulis besar yang masyhur dengan karya monumentalnya, yakni Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca). 
Selain karya monumental Tetralogi Pulau Buru yang diterjemahkan ke puluhan Bahasa di dunia itu, ia juga menulis di antaranya Gadis Pantai, Panggil Aku Kartini Saja, Jalan Raya Pos Jalan Deandels (JLK), Keluarga Gerilya, serta Arus Balik.

Motivasi Generasi Muda 
Jejak kepenulisan dua tokoh asal Kabupaten Blora tersebut, yakni Mas Marco Martodikromo dan Pramoedya Ananta Toer, tentu tidak sekadar menjadi kebanggaan an-sich, kiranya. 

Advertisement

Artikel Terkait

Indeks Literasi Blora Tertinggi Ketiga di Jateng, Skor Tembus 74,37 Persen

Indeks Literasi Blora Tertinggi Ketiga di Jateng, Skor Tembus 74,37 Persen

Kabupaten Blora menempati posisi ketiga sebagai daerah dengan indeks literasi tertinggi di Jawa Tengah.

Festival Literasi Blora Mendunia: Membangun Budaya Baca, Menggerakkan Ekonomi Kreatif

Festival Literasi Blora Mendunia: Membangun Budaya Baca, Menggerakkan Ekonomi Kreatif

Festival Literasi Blora 2026 bertema “Nyalakan Cerita, Literasi Blora Mendunia” yang berlangsung pada 14–17 Oktober 2026 merupakan momentum penting untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan, kreatif.

Festival Literasi Jepara 2026 Hadirkan Workshop Zine, Ruang Berkreasi Generasi Muda

Festival Literasi Jepara 2026 Hadirkan Workshop Zine, Ruang Berkreasi Generasi Muda

Melalui “Make Your Zine: Release Your Feelings”, pesan itu hadir dalam bentuk yang sederhana, di mana setiap orang memiliki cerita, gagasan, dan perasaan yang layak untuk diekspresikan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer