
Oleh: Rosidi
Pegiat literasi, praktisi pendidikan dan pemerhati pendidikan anak usia dini serta mentor Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Ma’had Aly TBS Kudus
“ ... Betapa hebatnya menjadi guru di sekolahan yang membentuk akal dan jiwa anak-anak, karena masa depan manusia ada di tangan guru”. (Ir Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, 1965)
Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia saat ini, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi lembaga pendidikan yang sangat menarik mendapatkan perhatian. Tidak sekadar lantaran lembaga itu yang kian membumi di kalangan masyarakat, tetapi juga karena peran dan kontribusinya.
Disadari atau tidak, di era 1980 – 1990-an, PAUD adalah lembaga pendidikan yang kurang begitu populer, karena anak-anak rerata masuk bangku pendidikan dasar (SD/ MI) tanpa melalui jenjang PAUD terlebih dahulu.
Sepanjang pemahaman penulis, lembaga pendidikan ini (PAUD), mulai mendapatkan perhatian serius masyarakat itu setelah bergulirnya era reformasi 1998. Sejak itulah, lambat laun PAUD mengalami perkembangan yang sangat luar biasa.
Hal itu bisa dilihat dari banyaknya PAUD yang berdiri di daerah-daerah, mulai dari Pos PAUD di desa-desa, Taman Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), hingga Taman Kanak-kanak (TK).
Fakta tersebut menunjukkan, masyarakat sudah memandang bahwa PAUD merupakan salah satu lembaga pendidikan yang sangat penting, sehingga nyaris sangat sulit saat ini mencari anak di bawah usia 6 tahun yang tidak dimasukkan PAUD oleh orang tuanya.
Urgensi Pendidikan
Tak ada yang menyangkal, bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi pertumbuhan anak dalam menyongsong masa depannya, dan sebagai bekal meraih kesuksesannya.
Ki Hajar Dewantara, misalnya. Tokoh pendidikan tanah air yang dikenal dengan Taman Siswa yang didirikannya pada masanya, ini menegaskan, bahwa pendidikan adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat dan bangsa. (Darsiti Soeratman, 1986)
Perpesktif menarik soal urgensi atau pentingnya pendidikan, juga disampaikan oleh ulama besar tanah air, Hadlratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Bagi KH M Hasyim Asy’ari, pendidikan merupakan sarana mencapai kemanusiaan, sehingga menyadari siapa sesungguhnya penciptanya, untuk apa diciptakan, melakukan segala perintah-Nya, untuk berbuat baik di dunia dengan menegakkan keadilan, sehingga layak disebut makhluk yang lebih mulia dibanding makhluk-makhluk lain yang diciptakan Tuhan. (Muhammad Rifai, 2010)
Dua tesis dari tokoh besar bangsa Indonensia di atas, cukup menjadi penegas, betapa pendidikan adalah hal terpenting yang mesti mendapatkan perhatian dan diprioritaskan dalam mengawal pertumbuhan anak menuju kedewasaannya.



