
Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Penulis buku “Membaca Zaman Menulis Makna”
Ada satu pesan menarik dari High Level Meeting Evaluasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Selasa (8/9/2026).
Bupati Blora Arief Rohman meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) mengubah paradigma. OPD jangan hanya berpikir bagaimana anggaran terserap, tetapi juga bagaimana mencari dan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan baru.
Pesan ini sederhana. Tetapi sesungguhnya sangat fundamental. Sebab selama bertahun-tahun ukuran keberhasilan birokrasi sering terjebak pada satu pertanyaan: berapa persen anggaran sudah terserap?
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dihasilkan dari uang yang sudah dibelanjakan itu? Apakah ekonomi tumbuh? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah investasi masuk? Apakah UMKM naik kelas? Apakah kemiskinan berkurang? Dan pada akhirnya, apakah kapasitas fiskal daerah ikut menguat? Pemkab Blora sendiri menyebut tantangan fiskal ke depan semakin berat.
Di sinilah perubahan paradigma harus dimulai. Ketika berbicara tentang PAD, jangan sampai memperlakukannya sebagai tujuan akhir pembangunan. PAD hanyalah alat.
Tujuan akhirnya tetap masyarakat: pelayanan publik yang lebih baik, infrastruktur yang lebih berkualitas, pendidikan dan kesehatan yang semakin kuat, ekonomi yang tumbuh, serta kesejahteraan yang meningkat.
Ciptakan ekosistem ekonomi yang membuat sumber PAD tumbuh secara alamiah. Hotel bertambah karena wisatawan meningkat. Restoran tumbuh karena daya beli masyarakat naik. UMKM berkembang karena pasar membesar.
Investasi masuk karena perizinan mudah. Industri tumbuh karena infrastrukturnya tersedia.
Desa produktif karena potensi ekonominya dikembangkan. Ketika ekonomi bergerak, PAD akan mengikuti. Maka sesungguhnya yang harus dikejar bukan sekadar PAD, tetapi pertumbuhan ekonomi.
