Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Misteri Larangan Mendaki Gunung Lawu: Sumpah Prabu Brawijaya V yang Masih Dipercaya Warga Blora, Cepu dan Bojonegoro

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 28 Februari 2025 | 00:25 WIB
Illustrasi Prabu Brawijaya V yang moksa di Gunung Lawu.
Illustrasi Prabu Brawijaya V yang moksa di Gunung Lawu.

RADAR KUDUS - Gunung Lawu, salah satu gunung tertinggi di Jawa, tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan cerita mistis yang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar.

Salah satunya adalah larangan bagi warga Cepu, Blora, dan Bojonegoro, khususnya keturunan Adipati Cepu, untuk mendaki gunung ini.

Larangan ini berakar dari sumpah yang diucapkan oleh Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit, yang hingga kini masih diyakini oleh sebagian masyarakat.

Asal Usul Larangan: Kisah Prabu Brawijaya V dan Kerajaan Demak

Pada akhir abad ke-15, Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran di bawah pemerintahan Prabu Brawijaya V.

Saat itu, putranya, Raden Patah, mendirikan Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.

Raden Patah berusaha mengajak ayahnya memeluk Islam, namun Prabu Brawijaya V menolak.

Ketegangan antara ayah dan anak ini memuncak ketika Raden Patah menolak tunduk pada Majapahit.

Untuk menghindari konflik yang lebih besar, Prabu Brawijaya V memilih melarikan diri ke Gunung Lawu bersama pengikut setianya. Namun, pelariannya tidak berjalan mulus.

Adipati Cepu, yang setia kepada Raden Patah, mengejar Prabu Brawijaya V hingga ke puncak Gunung Lawu.

Di puncak gunung, tepatnya di Hargo Dalem dan Hargo Dumilang, Prabu Brawijaya V mengucapkan sumpah yang hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat.

Sumpah Prabu Brawijaya V: Larangan Mendaki Gunung Lawu

Sumpah yang diucapkan Prabu Brawijaya V berbunyi:
"Sawi jining ono anggone wong Cepu utawi turunane Adipati Cepu, tinarak sajroning Gunung Lawu bakale cengeng nasib ciloko, lanagawe bisa lungoing Gunung Lawu."

Artinya:
"Jika ada orang dari daerah Cepu atau keturunan Adipati Cepu yang naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu."

Sumpah ini diyakini sebagai penyebab mengapa banyak warga Cepu, Blora, dan Bojonegoro enggan mendaki Gunung Lawu.

Mereka percaya bahwa melanggar sumpah ini akan membawa malapetaka, mulai dari kecelakaan hingga kematian.

Mitos dan Kejadian Mistis di Gunung Lawu

Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Karanganyar (Jawa Tengah) dan Magetan (Jawa Timur), dikenal sebagai tempat yang sarat dengan nuansa mistis.

Banyak pendaki melaporkan pengalaman aneh, seperti bertemu dengan makhluk halus atau merasakan energi negatif saat mendaki.

Beberapa pendaki bahkan mengaku melihat penampakan sosok Prabu Brawijaya V di sekitar puncak gunung.

Hal ini semakin memperkuat kepercayaan masyarakat akan sumpah yang diucapkan oleh raja terakhir Majapahit tersebut.

Gunung Lawu: Destinasi Pendakian dan Ziarah

Meski dihantui oleh cerita mistis, Gunung Lawu tetap menjadi destinasi populer bagi para pendaki.

Gunung ini termasuk dalam 7 Summit of Java dan menawarkan pemandangan alam yang memukau. Selain itu, Gunung Lawu juga menjadi tempat ziarah dan ritual spiritual bagi sebagian orang.

Bagi warga Cepu, Blora, dan Bojonegoro, mendaki Gunung Lawu bukan sekadar tantangan fisik, tetapi juga ujian keberanian melawan keyakinan turun-temurun.

Meski demikian, tidak semua warga percaya pada sumpah tersebut. Beberapa bahkan berani mendaki dan membuktikan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi.

Warisan Sejarah yang Tetap Hidup

Larangan mendaki Gunung Lawu bagi warga Cepu dan sekitarnya adalah salah satu contoh bagaimana sejarah dan mitos dapat menyatu dalam budaya masyarakat.

Sumpah Prabu Brawijaya V bukan hanya sekadar cerita, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi para penikmat sejarah dan budaya, kisah ini menawarkan wawasan tentang bagaimana legenda dan kepercayaan lokal dapat memengaruhi kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Kesimpulan

Gunung Lawu tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga cerita-cerita yang penuh makna.

Sumpah Prabu Brawijaya V menjadi bukti bahwa sejarah dan mitos dapat hidup berdampingan, membentuk tradisi dan keyakinan yang unik.

Bagi Anda yang tertarik mendaki Gunung Lawu, selalu ingat untuk menghormati budaya dan kepercayaan lokal. Siapa tahu, di balik puncak gunung ini, tersimpan lebih banyak cerita yang menunggu untuk diungkap.(*)

Editor : Mahendra Aditya
#puncak gunung lawu #Kisah mistis Gunung Lawu #bojonegoro #Raja Prabu Brawijaya V #Larangan Mendaki Gunung Lawu #Pendaki Gunung Lawu #Keturunan Prabu Brawijaya V #cepu #Prabu Brawijaya V #blora #Mitos Larangan Mendaki Gunung Lawu #Misteri di balik keindahan gunung lawu #Warga Cepu Dilarang Mendaki Gunung Lawu