RADAR KUDUS – Apakah dalam waktu dekat kamu berencana untuk wisata ke Dieng, Jawa Tengah?
Dataran tinggi di Indonesia yang terletak di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara memang menjadi magnet bagi wisatawan. Tak hanya pengunjung lokal, bahkan mancanegara.
Keindahan wisata alam Dieng juga telah menarik warga negara Belanda pada zaman dahulu.
Setelah ke Dieng, beberapa warga berkebangsaan Belanda bahkan ikut mempromosikan keindahan Dataran Tinggi Dieng ke Negara-negara Eropa.
Dibalik keindahan alamnya, Dieng ternyata pernah menyimpan fakta sejarah yang kelam.
Baca Juga: Inilah Penampakan Embun Upas atau Embun Es yang Selemuti Dieng Wonosobo, Dingin dan Cantik Banget
Baca Juga: 10 Rekomendasi Wisata Terhits di Semarang yang Wajib Dikunjungi saat Libur Sekolah
Masyarakat mengenalinya sebagai “Tragedi Sinila 1979”. Akibat tragedi ini di sekitar lokasi kejadian dibuatlah monumen batu sinila sebagai peringatan bahwa kejadian itu benar terjadi di Kawasan Dieng.
Apa Tragedi Berikutnya 1979?
sama kita tahu Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif karena terdapat beberapa kawah aktif di dalamnya, seperti Kawah Sikidang, Kawah Sileri dan Kawah Candradimuka, Kawah Timbang dan Kawah Sinila.
Melansir dari Portal Literasi Sejarah Bencana BNPB , terjadi letusan besar di Kawah Sinila pada tanggal 20 Februari 1979.
Sebelum letusan, muncul gempa vulkanik yang cukup kuat dan terus menerus selama beberapa hari yang disertai dengan suara dentuman keras.
Baca Juga: REKOMENDASI 3 Tempat Camping di Jepara dengan Panorama Gunung Muria, Dijamin Cantik Banget
Baca Juga: REKOMENDASI Wisata Waterpark yang Seru di Kudus, Cocok Dikunjungi Saat Weekend
Letusan ini ternyata membuat Kawah Timbang yang berdekatan dengan Kawah Sinila reaktif.
Saat ini banyak yang tidak tahu bahwa Kawah Timbang mengandung gas beracun, yaitu hidrogen sulfida atau metana konsentrasi tinggi.
Erupsi Kawah Sinila membuat warga Desa Kepucukan berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Sekadar informasi, Desa Kepucukan adalah desa yang berjarak kurang dari 1 km dari Kawah Sinila.
Warga Desa Kepucukan menyelamatkan diri ke arah barat menghindari letusan Kawah Sinila.
Namun naas, dalam perjalanan menyelamatkan diri mereka justru terjebak oleh gas hidrogen sulfida. Gas ini berasal dari rekahan disekitar Kawah Timbang.
Baca Juga: Cocok Jadi Tempat Nge-date, Ini Rekomendasi Wisata Museum yang Aesthetic di Semarang!
Baca Juga: Rekomendasi 7 Wisata di Bandung yang Murah dan Instagramable, Ada yang Gratis
Rekahan ini terjadi karena gempa yang berasal dari Kawah Sinila tadi. Akibat gas hidrogen sulfida tersebut, sebanyak 147 orang meninggal dunia dalam perjalanan menyelamatkan diri.
Disebutkan banyak mayat bergelimpangan di jalan akibat keracunan gas tadi.
Saking mengerikannya kejadian ini, Presiden yang menjabat saat itu—Suharto sampai berkunjung ke lokasi kejadian untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam tragedi yang memilukan ini.
Baca Juga: Rekomendasi Wisata Aesthetic di Semarang, Cocok Jadi Tempat Berburu Foto!
Baca Juga: 8 Rekomendasi Wisata Hits di Jogjakarta, Tiket Masuknya Cuma Seribu, Ada yang Gratis
Pakar menyebut, hidrogen sulfida (H2S) adalah gas yang tidak berwarna, berbau seperti telor busuk, bersifat iritan pada mata dan saluran pernafasan. Gas ini bisa mematikan syaraf penciuman sehingga tidak tercium baunya.
Pada konsentrasi yang tinggi, H2S sangat berbahaya jika terhirup karena dapat menyebabkan kematian.
Setelah kejadian ini, Desa Kepucukan dikosongkan dan warganya diminta oleh pemerintah untuk bertransmigrasi ke Pulau Sumatera.
Editor : Noor Syafaatul Udhma