DLSS MFG Mod Bikin RTX 30 Makin Responsif, Latensi Turun hingga 35 Persen

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 18:50 WIB
NVIDIA GeForce RTX 20-series.
NVIDIA GeForce RTX 20-series.

RADAR KUDUS - Modifikasi DLSS Multi Frame Generation (MFG) untuk kartu grafis NVIDIA GeForce RTX 30-series kembali mendapat pembaruan besar. Versi terbaru dilaporkan mampu memangkas input latency hingga 35 persen dibandingkan versi awal sekaligus memperluas kompatibilitas ke GPU RTX 20-series berbasis arsitektur Turing.

Pembaruan tersebut berasal dari pengembangan komunitas pada modifikasi tidak resmi dlssg_for_sm86. Mod ini dirancang untuk memungkinkan fitur Frame Generation NVIDIA berjalan pada kartu grafis yang secara resmi tidak mendapatkan dukungan fitur tersebut.

Peningkatan latensi menjadi salah satu perubahan paling penting dalam versi terbaru. Berdasarkan pengujian yang dilaporkan, respons sistem kini lebih cepat dibandingkan build publik pertama, sehingga peningkatan jumlah frame tidak hanya berorientasi pada angka frame rate, tetapi juga berusaha mengurangi jeda respons yang dirasakan pengguna.

Mod tersebut memanfaatkan kemampuan tensor cores pada arsitektur Ampere yang digunakan RTX 30-series. Sistem kemudian menerjemahkan permintaan dari pustaka Frame Generation resmi agar dapat diproses oleh GPU yang menjadi target modifikasi.

Baca Juga: RTX 20-Series Bisa Jalankan DLSS Frame Generation, Modder Buktikan di RTX 2060

Dengan pendekatan itu, teknologi Frame Generation dapat memberikan tambahan frame pada game modern yang menggunakan DirectX 12. Dalam kondisi tertentu, hasil akhirnya disebut mampu meningkatkan kelancaran permainan secara signifikan.

Yang membuat pembaruan ini semakin menarik adalah munculnya dukungan awal untuk RTX 20-series. GPU berbasis arsitektur Turing seperti GeForce RTX 2060 Super dan RTX 2070 kini dilaporkan dapat menjalankan mod dalam mode penggandaan frame 2X.

Sebelumnya, NVIDIA memang membatasi dukungan resmi Frame Generation pada generasi GPU yang lebih baru. Salah satu alasan yang berkaitan dengan implementasi tersebut adalah kebutuhan terhadap perangkat keras tertentu, termasuk akselerator optical flow. Modifikasi komunitas mencoba mencari cara agar fitur tersebut tetap dapat berjalan pada arsitektur GPU yang lebih lama.

Meski berhasil diaktifkan, kemampuan RTX 20-series tidak sepenuhnya sama dengan GPU generasi yang lebih baru. Arsitektur Turing membutuhkan overhead pemrosesan yang lebih tinggi untuk setiap frame. Karena itu, keberhasilan menjalankan fitur tidak otomatis berarti performanya akan menyamai kartu grafis yang sejak awal mendapat dukungan resmi.

Pengujian pengguna menunjukkan mod versi terbaru dapat digunakan pada sejumlah game keluaran relatif baru dengan syarat base frame rate berada di kisaran 50–60 FPS atau lebih. Kondisi tersebut penting karena teknologi Frame Generation bekerja dengan menambahkan frame di antara frame yang dihasilkan GPU secara normal.

Dalam profil pengujian tertentu, peningkatan frame rate akhir disebut dapat mencapai sekitar dua kali lipat. Angka tersebut membuat teknologi ini cukup menarik bagi pemilik GPU lama yang ingin mendapatkan pengalaman bermain lebih mulus tanpa harus langsung mengganti kartu grafis.

Namun, manfaat tersebut tidak datang tanpa batasan. Pengguna yang mencoba mode interpolasi lebih agresif, terutama 3X dan 4X, melaporkan munculnya sejumlah gangguan visual. Artefak gambar dan kedipan pada tampilan menjadi persoalan yang masih terlihat pada mode tersebut.

Karena itu, mode 2X sejauh ini menjadi salah satu konfigurasi yang paling realistis untuk perangkat keras lama. Penambahan frame memang dapat meningkatkan kelancaran, tetapi semakin tinggi tingkat interpolasi, semakin besar pula tantangan dalam menjaga kualitas gambar dan stabilitas hasil.

Masalah lainnya berkaitan dengan kompatibilitas. Pengembang komunitas masih mengerjakan dukungan untuk berbagai konfigurasi perangkat lunak, termasuk persoalan yang muncul ketika mod digunakan bersama sistem anti-cheat pada game online.

Hal ini menjadi perhatian penting karena modifikasi pada komponen grafis dapat berinteraksi dengan sistem keamanan permainan. Dukungan yang belum matang berarti pengguna tidak bisa menganggap seluruh game akan berjalan dengan cara yang sama.

Pengembangan juga disebut masih diarahkan untuk memperluas dukungan terhadap graphics API. Artinya, proyek tersebut belum berhenti pada peningkatan performa yang sudah dicapai saat ini, tetapi masih terus dikembangkan untuk memperluas penggunaan pada lebih banyak kondisi.

Bagi pemilik RTX 30-series, penurunan latensi hingga 35 persen menjadi salah satu perkembangan paling menarik. Frame Generation sebelumnya kerap diperdebatkan bukan hanya dari sisi peningkatan FPS, tetapi juga mengenai tambahan latensi yang dapat memengaruhi respons permainan.

Peningkatan frame rate yang tinggi belum tentu selalu menghasilkan pengalaman bermain yang lebih baik jika respons input menjadi terlalu lambat. Karena itu, upaya mengurangi latensi menjadi bagian penting dalam pengembangan mod ini.

Jika hasil tersebut dapat dipertahankan pada lebih banyak game dan konfigurasi sistem, pembaruan tersebut berpotensi membuat penggunaan Frame Generation pada RTX 30-series terasa lebih responsif dibandingkan versi awal mod.

Di sisi lain, RTX 20-series menghadapi tantangan yang lebih besar. Arsitektur Turing memang mampu menjalankan mode 2X pada beberapa GPU yang diuji, tetapi beban pemrosesannya lebih tinggi dibandingkan chip generasi modern.

Dengan kata lain, mod ini tidak serta-merta mengubah RTX 20-series menjadi setara RTX 40 atau RTX 50-series. Teknologi tersebut lebih tepat dipandang sebagai eksperimen komunitas yang memperluas kemampuan GPU lama di luar batas dukungan resmi NVIDIA.

Pemilik RTX 2060 Super dan RTX 2070 menjadi salah satu kelompok yang paling menarik untuk melihat perkembangan proyek ini. Jika kompatibilitas terus diperbaiki, GPU yang sudah berusia beberapa generasi tersebut berpotensi mendapatkan tambahan kemampuan untuk memainkan game modern dengan frame rate yang lebih tinggi.

Tetapi pengguna tetap perlu memperhatikan bahwa hasil mod dapat berbeda-beda. Performa dasar GPU, game yang digunakan, driver, API grafis, konfigurasi sistem dan penerapan mod dapat memengaruhi hasil akhir.

Persyaratan base frame rate sekitar 50–60 FPS juga menunjukkan bahwa Frame Generation bukan solusi untuk memperbaiki performa dasar GPU yang terlalu rendah. Teknologi ini bekerja lebih efektif ketika GPU sudah mampu menghasilkan frame secara cukup stabil sebelum frame tambahan diterapkan.

Karena itu, peningkatan hingga dua kali lipat dalam pengujian tidak seharusnya dimaknai sebagai jaminan bahwa semua game akan mendapatkan FPS dua kali lebih tinggi. Angka tersebut bergantung pada skenario pengujian dan konfigurasi yang digunakan.

Hal serupa berlaku pada mode 3X dan 4X. Secara teori, interpolasi yang lebih tinggi dapat menghasilkan lebih banyak frame tambahan. Namun, laporan mengenai artefak dan flickering menunjukkan bahwa kualitas visual masih menjadi tantangan ketika jumlah frame hasil rekonstruksi ditingkatkan.

Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan besarnya peran komunitas modder dalam mengeksplorasi kemampuan perangkat keras yang sudah tidak menjadi prioritas dukungan resmi. Ketika produsen membatasi fitur tertentu pada generasi GPU terbaru, komunitas mencoba mencari kemungkinan teknis untuk menjalankannya pada perangkat keras lama.

Meski begitu, hasil eksperimen komunitas tidak dapat disamakan dengan implementasi resmi. NVIDIA memiliki kontrol penuh terhadap pengembangan, optimasi dan dukungan DLSS pada GPU yang kompatibel secara resmi. Sementara mod bergantung pada pengembangan pihak ketiga dan dapat mengalami perubahan atau masalah kompatibilitas sewaktu-waktu.

Bagi gamer yang masih menggunakan RTX 20-series atau RTX 30-series, perkembangan ini tetap menjadi kabar menarik. RTX 30-series mendapat peningkatan respons melalui penurunan latensi yang dilaporkan mencapai 35 persen, sementara RTX 20-series mulai menunjukkan kemampuan menjalankan Frame Generation 2X.

Namun, kualitas hasil masih menjadi faktor penentu. Mode 2X terlihat paling masuk akal berdasarkan laporan awal, sedangkan mode 3X dan 4X masih menghadapi gangguan visual. Pengembangan terhadap kompatibilitas game, anti-cheat dan API grafis juga masih berlangsung.

Pada akhirnya, pembaruan dlssg_for_sm86 memperlihatkan bahwa perjalanan DLSS MFG pada GPU lama masih jauh dari selesai. Penurunan latensi pada RTX 30-series dan dukungan awal untuk RTX 20-series menjadi dua perkembangan penting, tetapi keduanya belum cukup untuk menyebut mod ini sebagai pengganti dukungan resmi NVIDIA.

Jika pengembang berhasil mengatasi artefak, memperluas kompatibilitas dan menjaga latensi tetap rendah, mod tersebut berpotensi memberikan umur lebih panjang bagi sejumlah GPU RTX generasi lama. Untuk saat ini, hasilnya masih paling tepat dilihat sebagai perkembangan eksperimental yang menarik untuk diikuti, bukan jaminan performa seragam di semua perangkat dan game.

Editor : Mahendra Aditya
DLSS MFG mod RTX 30 Frame Generation RTX 20 Frame Generation RTX 2060 Super DLSS Multi Frame Generation