Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

OpenAI Tunda IPO, Bidik Valuasi Fantastis US$1 Triliun Sebelum Melantai di Bursa

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 28 Juni 2026 | 17:51 WIB
Open AI
Open AI

JAKARTA – Rencana penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) OpenAI diperkirakan tidak akan berlangsung tahun ini. Perusahaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang melahirkan ChatGPT itu disebut tengah mempertimbangkan menunda debutnya di bursa hingga 2027 demi mengejar valuasi yang lebih tinggi, bahkan menembus US$ 1 triliun.

Laporan The New York Times yang dikutip Yahoo Finance menyebutkan manajemen OpenAI sedang mengevaluasi dua skenario besar. Pertama, tetap melantai di bursa pada 2026 dengan valuasi di bawah US$1 triliun. Kedua, menunda IPO hingga tahun depan dengan harapan nilai perusahaan meningkat hingga mencapai tonggak psikologis US$1 triliun atau sekitar Rp17.840 triliun (asumsi kurs Rp17.840 per dolar AS).

Keputusan tersebut dinilai sangat strategis mengingat OpenAI saat ini merupakan salah satu perusahaan teknologi swasta dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Dokumen IPO Sudah Masuk SEC

Meski belum menentukan jadwal resmi, OpenAI sebenarnya telah mengajukan dokumen Form S-1 secara rahasia kepada Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat pada 8 Juni 2026.

Pengajuan secara tertutup merupakan prosedur yang lazim dilakukan perusahaan besar sebelum resmi menawarkan saham kepada publik. Melalui mekanisme ini, regulator dapat meninjau laporan keuangan dan berbagai dokumen perusahaan tanpa harus langsung dipublikasikan kepada investor.

Dalam pernyataan resminya, OpenAI mengaku belum menetapkan waktu pelaksanaan IPO.

"Masih ada sejumlah langkah strategis yang lebih mudah dilakukan ketika perusahaan tetap berstatus swasta. Namun pengajuan ini memberi kami fleksibilitas apabila nantinya IPO menjadi pilihan terbaik."

Dengan kata lain, perusahaan tetap membuka peluang mempercepat IPO apabila kondisi pasar dinilai semakin kondusif.

Ingin Menyusul Klub Elit Bernilai US$1 Triliun

Pada putaran pendanaan terakhir yang diumumkan Maret 2026, OpenAI memperoleh valuasi sekitar US$852 miliar, menjadikannya salah satu startup dengan nilai tertinggi di dunia.

Namun angka tersebut masih berada di bawah pesaing utamanya, Anthropic, yang menurut laporan terbaru memiliki valuasi sekitar US$965 miliar setelah berhasil meraih pendanaan baru dan juga telah mengajukan IPO secara rahasia pada awal Juni.

Selisih valuasi yang tidak terlalu jauh membuat OpenAI diyakini masih memiliki peluang besar menjadi perusahaan AI pertama yang menembus kapitalisasi US$1 triliun sebelum melantai di bursa.

Kondisi Pasar Jadi Pertimbangan Utama

Selain persoalan valuasi, kondisi pasar modal Amerika Serikat juga menjadi faktor penting dalam penentuan jadwal IPO.

Laporan tersebut menyebutkan OpenAI ikut mencermati respons investor terhadap perusahaan teknologi besar yang baru saja memasuki pasar saham.

Pergerakan harga saham SpaceX, misalnya, sempat melonjak tajam setelah debut publik, namun kemudian mengalami koreksi signifikan hanya dalam waktu singkat. Fluktuasi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa minat investor terhadap saham teknologi bernilai jumbo masih sangat dipengaruhi sentimen pasar.

Manajemen OpenAI disebut tidak ingin terburu-buru melakukan IPO apabila kondisi pasar belum mampu memberikan valuasi optimal.

Karyawan Berpeluang Menjual Saham

Di tengah penundaan IPO, OpenAI juga dikabarkan tengah menyiapkan program tender offer yang memungkinkan karyawan menjual sebagian saham mereka kepada investor.

Langkah ini bertujuan memberikan likuiditas bagi para pegawai sekaligus mengurangi tekanan agar perusahaan segera melantai di bursa.

Program tersebut juga menjadi strategi yang umum digunakan perusahaan teknologi swasta bernilai tinggi agar karyawan tetap memperoleh manfaat finansial sebelum IPO terlaksana.

Didukung Bank Investasi Kelas Dunia

Dalam proses persiapan menuju perusahaan publik, OpenAI menggandeng sejumlah bank investasi papan atas Wall Street, termasuk Goldman Sachs dan Morgan Stanley.

Kedua institusi tersebut bertugas membantu penyusunan dokumen IPO, koordinasi dengan regulator, hingga proses penawaran saham apabila perusahaan akhirnya memutuskan melantai di pasar modal.

Persaingan Industri AI Semakin Ketat

Popularitas ChatGPT sejak diluncurkan pada akhir 2022 telah membawa OpenAI menjadi pemain dominan di industri kecerdasan buatan global.

Platform tersebut kini dilaporkan melayani lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan, menjadikannya salah satu layanan AI dengan pertumbuhan tercepat sepanjang sejarah industri teknologi.

Namun dominasi tersebut mulai mendapat tekanan dari sejumlah kompetitor besar seperti Anthropic dengan model Claude, Google melalui keluarga model Gemini, Meta dengan Llama, hingga xAI milik Elon Musk yang mengembangkan chatbot Grok.

Persaingan memperebutkan pangsa pasar AI generatif inilah yang membuat OpenAI berusaha memastikan setiap langkah bisnisnya, termasuk IPO, dilakukan pada momentum yang paling menguntungkan.

Apabila valuasi US$1 triliun berhasil dicapai sebelum IPO, OpenAI diproyeksikan masuk jajaran perusahaan teknologi paling bernilai di dunia dan mencatat salah satu debut bursa terbesar dalam sejarah pasar modal global.

Editor : Mahendra Aditya
#IPO OpenAI #OpenAI IPO 2026 #valuasi OpenAI #ChatGPT OpenAI #saham OpenAI