Radar Kudus - Platform berbasis video seperti TikTok kini tak hanya dimanfaatkan untuk hiburan, tetapi juga untuk penyebaran edukasi kesehatan.
Tren ini dinilai membawa dampak positif, terutama dalam meningkatkan perhatian perempuan terhadap pentingnya skrining kanker serviks.
Hal tersebut diungkapkan dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Health Communication.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konten TikTok dapat mendorong perempuan melakukan pap smear, yaitu metode pemeriksaan standar dalam deteksi dini kanker serviks.
Data Globocan 2020 mencatat bahwa dari total 396.914 kasus kanker di Indonesia, kanker serviks menempati posisi kedua terbanyak dengan 36.633 kasus atau sekitar 9,2 persen.
Baca Juga: Cegah Lebih Dini Kanker Serviks
TikTok Jadi Akses Informasi Kesehatan Baru
Peneliti sekaligus asisten profesor dari University of Nebraska–Lincoln, Ciera Kirkpatrick, memaparkan bahwa banyak pengguna—khususnya generasi muda—mulai memanfaatkan TikTok sebagai sumber informasi kesehatan.
Sementara itu, LaRissa Lawrie dari University of Missouri menambahkan bahwa video edukasi mengenai pap smear di platform tersebut membantu meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pencegahan kanker serviks.
"Tes pap smear sebaiknya dilakukan setiap tiga tahun karena kanker serviks dapat berkembang tanpa gejala," ungkap Kirkpatrick.
Baca Juga: Tampil Beda, Lee Jaein Buat Takjub Penggemar Lewat Still Cuts Film Barunya 'Concrete Market'
Proses Riset
Studi ini melibatkan 636 perempuan berusia 21–29 tahun. Mereka diminta menonton konten TikTok bertema pap smear dari berbagai narasumber, baik dokter maupun teman sebaya.
Setelah itu, peserta menilai efektivitas pesan, kredibilitas sumber, dan apakah konten tersebut memengaruhi niat mereka melakukan skrining.
Hasilnya, video dari tenaga medis dinilai lebih meyakinkan dan lebih mampu mendorong perempuan untuk melakukan pap smear dibandingkan konten yang dibuat oleh pengguna biasa.
Namun begitu, pesan yang disampaikan teman sebaya tetap dinilai memiliki pengaruh emosional, terutama karena pengalaman personal dapat membuat penonton merasa lebih terhubung.
Kredibel dan Relatable, Kombinasi Efektif
Menurut Kirkpatrick, kombinasi konten edukasi oleh ahli dan pengguna umum merupakan pendekatan komunikasi kesehatan yang ideal di era digital.
"Masyarakat ingin informasi yang akurat, tetapi juga ingin mendengarnya dari orang yang pernah mengalami hal serupa," ujarnya.
Saat ini, tim peneliti masih mendalami alasan semakin banyak perempuan muda memilih TikTok sebagai referensi kesehatan.
"Kami ingin memahami motivasi mereka menggunakan platform ini serta bagaimana mereka menilai kualitas informasi yang diterima," tambah Kirkpatrick.(laura)
Editor : Mahendra Aditya