Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Google Kian Ditinggalkan, Pengguna Berbondong-Bondong Beralih ke Alternatifnya

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 25 Juni 2025 | 18:24 WIB
Kantor Pusat google yang berada di California, Amerika Serikat
Kantor Pusat google yang berada di California, Amerika Serikat

RADAR KUDUS - Kedekatan para pemimpin perusahaan teknologi asal Amerika Serikat dengan pemerintahan Presiden Donald Trump membuat banyak masyarakat Eropa beralih dari produk-produk asal Silicon Valley seperti Gmail, Starlink, dan Instagram.

Akibatnya, layanan serupa buatan perusahaan Eropa justru mengalami lonjakan jumlah pengguna.

Laporan dari Reuters mengungkapkan bahwa meningkatnya sentimen negatif terhadap AS turut mendorong peningkatan pencarian daring di Eropa untuk layanan email, pesan instan, serta mesin pencari yang dikembangkan oleh negara di luar Amerika.

Baca Juga: Sepakat Lakukan Gencatan Senjata: Iran Apresiasi Qatar, Israel Berterima Kasih kepada Trump

"Masalahnya adalah perusahaan-perusahaan AS mendominasi segalanya. Dahulu, hanya mereka yang peduli terhadap perlindungan data pribadi yang mencari alternatif. Sekarang, mereka yang sadar politik juga mulai terlibat," ujar Michael Wirths, pendiri Topio.

Topio sendiri merupakan perusahaan yang membantu warga Eropa memasang sistem operasi Android bebas layanan Google pada ponsel mereka.

Menurut data dari Similarweb, jumlah permintaan pencarian di Ecosia—mesin pencari asal Jerman yang mirip Google—naik hingga 27 persen.

Ecosia kini mengklaim telah menguasai 1 persen pasar pencarian daring di Jerman.

Namun, peningkatan tersebut belum cukup signifikan untuk menyaingi dominasi Google.

Dalam 27 negara anggota Uni Eropa, Ecosia hanya mencatatkan 122 juta kunjungan, jauh dibandingkan Google yang mencapai 10,3 miliar kunjungan.

Dominasi Google turut menyumbang pendapatan sebesar US\$ 100 miliar bagi induk perusahaannya, Alphabet, di wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sepanjang tahun 2024. Sebaliknya, Ecosia hanya meraih pendapatan US\$ 3,65 juta pada bulan April.

Baca Juga: 5 Perangkat Xiaomi Segera Diluncurkan: Termasuk Ponsel Flagship dan Tablet Terbaru

Christian Kroll, pendiri Ecosia, mengakui bahwa meningkatnya ketidakpercayaan terhadap AS menjadi dorongan positif, sebab warga Eropa kini mulai mencari alternatif dari Google dan Bing milik Microsoft.

"Semakin besar kekhawatiran, semakin menguntungkan bagi kami," ujarnya.
Para eksekutif perusahaan teknologi AS bahkan terlihat duduk di barisan depan saat pelantikan Presiden Donald Trump.

Wacana "kedaulatan digital" yang semakin menguat di Eropa ikut mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan layanan selain buatan Amerika, karena kekhawatiran terhadap sikap AS yang makin mengedepankan kepentingan nasional dianggap bisa membahayakan stabilitas ekonomi dan keamanan Eropa.

“Orang biasa yang sebelumnya tidak memikirkan layanan digital asal AS kini mulai bertanya. Penata rambut saya saja mulai tanya, layanan apa yang bisa menggantikan Gmail,” kata Maria Farrell, pakar internet asal Inggris.

Layanan surat elektronik asal Swiss, ProtonMail, juga mengalami lonjakan pengguna hingga 11,7 persen.

Baca Juga: Makna Bulan Suro: Sejarah, Tradisi Jawa, dan Keistimewaan 10 Muharram

Sementara Gmail yang dikelola Alphabet mengalami penurunan pangsa pasar sebesar 1,9 persen, menjadi 70 persen.

Kekhawatiran warga Eropa juga dipicu oleh pernyataan beberapa raksasa teknologi Amerika yang menyatakan bahwa aturan ketat Uni Eropa terkait internet merugikan mereka.

Meta, perusahaan induk Instagram dan WhatsApp, menilai aturan Digital Services Act dari Uni Eropa merupakan bentuk sensor.

Digital Services Act sendiri adalah kebijakan Uni Eropa yang bertujuan untuk membatasi dominasi perusahaan digital besar dan mendorong mereka untuk mengambil tanggung jawab dalam menangani konten ilegal dan ujaran kebencian di platform mereka.

Di sisi lain, Amerika Serikat memiliki undang-undang yang dinilai memberi kewenangan besar kepada pemerintah untuk mengakses data digital dengan alasan keamanan nasional.

Greg Nojeim, Direktur Program Keamanan dan Pemantauan di Center for Democracy and Technology, menyatakan bahwa kekhawatiran warga Eropa terhadap potensi akses pemerintah AS terhadap data pribadi mereka adalah hal yang wajar.

"Undang-undang di AS memberi wewenang pada pemerintah untuk memeriksa ponsel siapa pun yang masuk ke wilayah AS. Bahkan data milik warga Eropa yang disimpan oleh perusahaan Amerika atau dikirim melalui layanan komunikasi AS pun bisa diakses," jelas Nojeim.

Sementara itu, pemerintah Jerman mulai mengambil langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asal Amerika.

Baca Juga: Parade Squid Game 3 akan digelar, Bertabur Bintang!

Salah satunya adalah dengan memprioritaskan penggunaan perangkat lunak open-source dan memanfaatkan layanan cloud lokal.

Pemerintah kota Schleswig-Holstein yang terletak di perbatasan Jerman-Denmark bahkan telah mewajibkan seluruh sistem teknologi informasi mereka menggunakan software open-source.

Selain itu, pemerintah Jerman memilih menggunakan layanan internet satelit dari Eutelsat, perusahaan asal Prancis, daripada Starlink milik Elon Musk. (Octa Afriana A)

Editor : Ali Mustofa
#gmail #konten ilegal #internet #komunikasi #google #amerika #Pangsa Pasar #ujaran kebencian #uni eropa #Perusahaan digital