RADAR KUDUS - Perusahaan energi raksasa Shell memproyeksikan bahwa permintaan global untuk liquefied natural gas (LNG) akan melonjak hingga 60% pada tahun 2040.
Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi di Asia, dampak teknologi kecerdasan buatan (AI), serta upaya global untuk mengurangi emisi di sektor industri berat dan transportasi.
Laporan tahunan Shell yang dirilis pada Selasa (25/2/2025) menyoroti peran kunci Asia dalam mendorong permintaan LNG di masa depan.
Asia: Pendorong Utama Pertumbuhan LNG
Menurut laporan Shell, Asia akan menjadi pusat pertumbuhan permintaan LNG global.
China dan India, dua raksasa ekonomi Asia, tengah memperluas infrastruktur LNG mereka untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.
-
China, sebagai importir LNG terbesar di dunia, mencatat impor gas alam sebesar 131,69 juta ton pada tahun lalu, dengan 76,65 juta ton di antaranya adalah LNG. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 2013.
-
India diprediksi akan mengalami lonjakan konsumsi gas alam sebesar 60% antara tahun 2023 dan 2030. Kebutuhan impor LNG India diperkirakan akan berlipat ganda karena produksi domestik tidak mampu mengimbangi permintaan yang melonjak.
Selain China dan India, negara-negara seperti Aljazair, Mesir, Malaysia, dan Indonesia juga mengalami peningkatan permintaan gas alam.
Namun, produksi domestik di negara-negara tersebut diprediksi akan menurun hingga 50 juta ton dalam 15 tahun ke depan, mengurangi pasokan gas yang tersedia untuk ekspor.
Permintaan Global: Antara Transisi Energi dan Pertumbuhan Ekonomi
Shell mencatat bahwa permintaan global untuk LNG akan mencapai 630 juta hingga 718 juta ton per tahun pada 2040.
Angka ini lebih tinggi dari proyeksi tahun lalu, yang memperkirakan permintaan LNG global pada 2040 sebesar 625 juta hingga 685 juta ton per tahun.
Tom Summers, Wakil Presiden Senior Shell untuk Pemasaran dan Perdagangan LNG, menjelaskan, "Peningkatan permintaan gas alam diperlukan untuk memenuhi tujuan pembangunan dan dekarbonisasi, terutama di sektor pembangkit listrik, pemanasan, industri, dan transportasi."
Pasokan LNG: Tantangan dan Peluang
Di sisi pasokan, Shell memperkirakan lebih dari 170 juta ton pasokan LNG baru akan tersedia pada 2030.
Namun, waktu operasional proyek-proyek LNG baru masih belum pasti karena berbagai tantangan, termasuk ketegangan geopolitik, hambatan regulasi, kekurangan tenaga kerja, dan gangguan rantai pasokan.
Beberapa proyek LNG telah mengalami penundaan selama dua tahun terakhir, yang menyebabkan keterlambatan pasokan sekitar 30 juta ton—setara dengan volume impor LNG India—hingga 2028.
Pada tahun 2024, perdagangan LNG global hanya meningkat 2 juta ton menjadi 407 juta ton, menandai peningkatan tahunan terkecil dalam satu dekade terakhir.
Eropa dan Amerika Serikat: Pemasok Utama LNG
Sementara Asia menjadi pusat permintaan, Amerika Serikat dan Qatar diprediksi akan mendominasi pasokan LNG global.
-
Amerika Serikat diperkirakan akan menghasilkan 180 juta ton LNG per tahun pada 2030, mencakup sepertiga dari pasokan global.
-
Qatar, dengan proyek ekspansi North Field yang akan beroperasi pada 2026, akan menjadi pemasok utama lainnya. Bersama Amerika Serikat, kedua negara ini diprediksi akan menyediakan 60% pasokan LNG global pada 2035.
Di Eropa, permintaan LNG diperkirakan akan terus tumbuh hingga 2030-an, terutama untuk menyeimbangkan peningkatan penggunaan energi terbarukan yang bersifat intermiten.
Infrastruktur gas alam yang ada di Eropa juga berpotensi dialihfungsikan untuk mengimpor bio-LNG atau synthetic LNG, serta hidrogen hijau di masa depan.
Dampak Teknologi AI dan Dekarbonisasi
Laporan Shell juga menyoroti peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi LNG.
Selain itu, upaya global untuk mengurangi emisi karbon di sektor industri berat dan transportasi turut mendorong permintaan LNG sebagai sumber energi yang lebih bersih dibandingkan batu bara dan minyak.
Kesimpulan: Masa Depan Cerah untuk LNG
Dengan proyeksi pertumbuhan permintaan yang signifikan, terutama dari Asia, serta peningkatan pasokan dari Amerika Serikat dan Qatar, masa depan industri LNG terlihat cerah.
Namun, tantangan seperti penundaan proyek dan ketidakpastian geopolitik perlu diatasi untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga LNG di pasar global.
Shell menegaskan bahwa LNG akan terus memainkan peran kunci dalam transisi energi global, terutama sebagai jembatan menuju energi terbarukan yang lebih berkelanjutan.(*)
Editor : Mahendra Aditya