KUDUS – Perjalanan Agung Prio Apriliano hingga mencapai puncak prestasi di dunia downhill tidak diraih secara instan.
Berawal dari keterbatasan karena belum memiliki sepeda sendiri, pembalap asal Kediri itu kini berhasil menyandang gelar juara umum Men Elite 76 Ultimate Downhill 2026.
Bahkan, saat mengikuti kompetisi pertamanya, Agung harus menggunakan sepeda pinjaman milik teman.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah untuk terus mengembangkan kemampuan di olahraga balap sepeda ekstrem.
Kini, pembalap Astrindo Racing Team tersebut berhasil mengumpulkan 730 poin dari tiga seri 76 Ultimate Downhill 2026.
Perolehan itu mengantarkannya menjadi yang terbaik di kelas Men Elite.
Darah olahraga balap sepeda memang sudah mengalir dalam keluarga Agung. Ayahnya lebih dahulu menekuni dunia balap, meskipun memilih disiplin berbeda, yakni road bike.
Ketertarikan Agung terhadap olahraga sepeda tumbuh sejak usia dini. Namun, dia menemukan jalannya sendiri dengan memilih downhill.
Olahraga yang mengandalkan kecepatan, keterampilan, dan keberanian melintasi jalur menantang itu kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Perjalanan Agung sempat mengalami hambatan ketika pandemi Covid-19 melanda. Tidak adanya kejuaraan downhill membuat aktivitas balapnya terpaksa berhenti sementara.
Untuk tetap beraktivitas sekaligus mendapatkan penghasilan, Agung sempat menerima tawaran menjadi pembalap road bike.
Keputusan tersebut membuatnya mencoba disiplin balap yang berbeda dari olahraga yang selama ini digelutinya.
Akan tetapi, pengalaman di road bike justru menghadirkan tantangan tersendiri. Agung mengalami cedera serius berupa patah tulang tangan.
Cedera tersebut menjadi pengalaman baru yang belum pernah dialaminya selama menekuni downhill.
Peristiwa itu semakin menguatkan keinginannya untuk kembali ke olahraga yang telah dicintainya sejak kecil.
Agung akhirnya memutuskan meninggalkan road bike dan kembali fokus menekuni downhill.
Setelah kembali ke lintasan, dia terus berupaya meningkatkan kemampuan. Salah satu pengalaman penting diperolehnya ketika mendapat kesempatan belajar di Eropa pada 2023.
Pengalaman internasionalnya bertambah tahun ini setelah tim memberangkatkannya mengikuti satu seri kejuaraan World Cup.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mempelajari berbagai hal yang kemudian diterapkan dalam kompetisi nasional.
”Terus belajar dan evaluasi. Kebetulan saya sempat belajar di Eropa tahun 2023 dan tahun ini diberangkatkan tim untuk mengikuti World Cup satu seri. Saya banyak belajar dan ilmunya saya terapkan di kejuaraan ini,” tutur Agung kepada Radar Kudus.
Selain menambah pengalaman bertanding, Agung juga mengubah cara menghadapi perlombaan. Dia berusaha tampil lebih tenang dan tidak terlalu terbebani oleh target hasil akhir.
Fokusnya kini lebih diarahkan pada bagaimana melewati setiap bagian lintasan dengan tepat.
Menurutnya, pembalap harus mampu membaca karakter trek, menentukan waktu untuk menjaga kelancaran kayuhan, serta mengetahui kapan perlu memacu kecepatan.
”Yang membedakan mungkin saya lebih tenang dan tidak terlalu fokus ke hasil, tetapi fokus di treknya step by step, kapan harus mulus dan kapan harus kencang,” jelasnya.
Perubahan pendekatan tersebut turut membantu Agung menjaga konsistensi sepanjang musim.
Dari tiga seri yang berlangsung di Pasuruan, Yogyakarta, dan Kudus, dia berhasil mengumpulkan 730 poin sekaligus mengunci gelar juara umum Men Elite.
Agung unggul 220 poin atas Putra Ganda Arrozak yang harus puas berada di posisi kedua klasemen akhir.
Gelar tersebut terasa istimewa karena menjadi pencapaian yang telah dinantikan selama tujuh tahun berkarier di kelas Men Elite.
Perjuangan panjang yang dimulai dari sepeda pinjaman akhirnya berbuah prestasi di tingkat nasional.
Meski sudah meraih gelar juara umum, Agung belum ingin berhenti sampai di sini. Dia mulai membidik kesempatan tampil dalam kejuaraan tingkat Asia.
Selain ingin menambah pengalaman internasional, dia berharap dapat membuktikan kemampuan bersaing dengan pembalap dari negara lain.
Agung juga memasang harapan untuk membawa pulang prestasi dari kompetisi tersebut.
Dari keterbatasan fasilitas, sempat berpindah disiplin balap, hingga menghadapi cedera dan kembali ke downhill, perjalanan Agung menjadi bagian dari proses panjang menuju takhta Men Elite 76 Ultimate Downhill 2026. (dnl)
Editor : Ali Mustofa