RADAR KUDUS - Como langsung menciptakan kejutan besar pada penampilan perdananya di Liga Champions 2026/2027. Bermain di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Kamis (10/9/2026) dini hari WIB, klub Italia tersebut menghancurkan RB Leipzig dengan skor telak 4-1 dalam matchday pertama fase liga.
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin bagi Como. Laga tersebut menjadi pertandingan pertama sepanjang sejarah klub di kompetisi Eropa, sekaligus debut mereka di panggung Liga Champions. Como menjawab momen bersejarah itu dengan penampilan agresif, efektif, dan disiplin sejak menit awal.
Martin Baturina membuka keunggulan Como pada menit ke-15. Anastasios Douvikas kemudian menggandakan skor menjelang turun minum. Assane Diao memperlebar jarak pada menit ke-54 sebelum Andrija Maksimovic mencetak gol balasan untuk Leipzig empat menit kemudian. Como akhirnya memastikan kemenangan dengan gol Máximo Perrone pada menit ke-90.
Baca Juga: Cesc Fabregas Usai Como Hajar Leipzig 4-1: Bahagia Hanya Lima Menit, Setelah Itu Fokus Serie A
Hasil 4-1 tersebut menggambarkan betapa efektifnya Como dalam memanfaatkan peluang. Berdasarkan statistik pertandingan, kedua tim sama-sama melepaskan 14 tembakan dan menguasai 50 persen penguasaan bola. Namun, Como menghasilkan tujuh peluang besar, dibandingkan tiga milik Leipzig. Nilai expected goals (xG) Como juga mencapai 2,29, lebih tinggi daripada Leipzig yang berada di angka 1,42.
Dengan kata lain, Como tidak sekadar bertahan dan mengandalkan keberuntungan untuk mengalahkan lawannya. Mereka mampu menciptakan ancaman secara konsisten sekaligus mengonversi momen-momen penting menjadi gol.
Bagi klub yang baru beberapa tahun lalu masih berkompetisi di kasta bawah sepak bola Italia, kemenangan tersebut menjadi tonggak penting. UEFA mencatat Como baru berada di Serie D, atau kasta keempat Italia, pada musim 2018/2019. Musim lalu, mereka finis di posisi keempat Serie A 2025/2026, yang menjadi pencapaian tertinggi dalam sejarah klub sekaligus mengantarkan mereka ke Liga Champions untuk pertama kalinya.
Perjalanan singkat dari kasta keempat menuju kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu kini mendapatkan babak baru. Como bukan hanya hadir sebagai peserta, tetapi langsung mencatat kemenangan meyakinkan pada pertandingan debut.
Pertandingan di Sinigaglia sejak awal menunjukkan keberanian Como. Mereka tidak terlihat canggung menghadapi tim yang sudah memiliki pengalaman panjang di Liga Champions. Tekanan diberikan sejak fase awal pertandingan dan beberapa peluang berhasil diciptakan sebelum gol pembuka.
RB Leipzig sempat mendapatkan kesempatan melalui Antonio Nusa, tetapi Jean Butez mampu mengamankan gawang Como. Andrija Maksimovic dan Marc Guiu juga memperoleh peluang pada babak pertama, namun tidak mampu mengubah keadaan.
Di sisi lain, Como terus mencari celah melalui kombinasi permainan cepat dan serangan vertikal. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-15.
Baturina menjadi pemain yang mengawali pesta Como. Setelah situasi serangan berkembang, pemain tersebut mampu menemukan ruang dan melepaskan tembakan yang bersarang di sudut bawah gawang Maarten Vandevoordt.
Gol itu membuat Como semakin percaya diri. Leipzig memang sempat mencoba merespons, tetapi permainan mereka belum cukup konsisten untuk mengambil kendali pertandingan.
Menjelang akhir babak pertama, Como kembali mendapatkan hasil dari permainan menyerangnya. Baturina kali ini berperan sebagai pemberi umpan. Ia mengirim bola kepada Douvikas yang kemudian mampu menahan tekanan dari lini belakang Leipzig sebelum menyelesaikan peluang menjadi gol kedua pada menit ke-38.
Skor 2-0 bertahan sampai jeda. Statistik juga memperlihatkan dominasi Como dalam menciptakan peluang berbahaya, meski penguasaan bola secara keseluruhan akhirnya berimbang.
Leipzig mencoba mengubah situasi selepas turun minum. Tim asuhan Martín Demichelis tampil lebih berani membawa bola dan berusaha meningkatkan tekanan. Namun, perubahan pendekatan tersebut justru memberi ruang yang bisa dimanfaatkan Como dalam serangan balik.
Baca Juga: Como Hancurkan Leipzig 4-1, Martin Baturina dkk Tampil Meyakinkan di Liga Champions
Hanya sembilan menit setelah babak kedua dimulai, Como mencetak gol ketiga.
Nico Paz menjadi salah satu penghubung dalam proses serangan tersebut. Bola kemudian bergerak menuju Diao yang berhasil menyelesaikan peluang dengan tembakan ke sudut bawah gawang Leipzig pada menit ke-54.
Keunggulan 3-0 membuat Como berada dalam posisi sangat nyaman. Leipzig memang akhirnya menemukan gol melalui Maksimovic pada menit ke-58. Gol tersebut lahir dari penyelesaian first-time yang akurat setelah Christopher Nkunku memberikan bola di area depan kotak penalti.
Namun, gol itu tidak mengubah arah pertandingan secara signifikan. Leipzig mencoba menguasai bola lebih banyak, sementara Como memilih menurunkan intensitas dan menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik.
Situasi tersebut membuat Leipzig kesulitan menemukan gol kedua. Beberapa pergantian pemain dilakukan Demichelis, termasuk memasukkan Tidiam Gomis, Assan Ouédraogo dan Ezechiel Banzuzi pada menit ke-60.
Como juga melakukan sejumlah pergantian untuk menjaga energi dan struktur permainan. Douvikas, Baturina, Lucas Da Cunha dan Diao akhirnya ditarik keluar secara bertahap.
Meski Leipzig memiliki peluang untuk memperkecil ketertinggalan, pertahanan Como mampu mempertahankan keunggulan. Pada fase akhir laga, justru tuan rumah yang kembali memberikan ancaman.
Paz masih sempat menciptakan peluang melalui serangan balik. Pada akhirnya, pemain asal Argentina tersebut ikut terlibat dalam gol keempat Como yang dicetak Perrone pada menit ke-90.
Perrone menerima umpan dari Paz dan menyelesaikannya menjadi gol. Skor berubah menjadi 4-1 dan praktis mengakhiri perlawanan Leipzig.
Kemenangan itu juga memperlihatkan efektivitas Como dalam memanfaatkan ruang di belakang pertahanan lawan. Dari 14 tembakan, enam di antaranya tepat sasaran. Leipzig memiliki empat tembakan tepat sasaran dari jumlah percobaan yang sama, tetapi hanya mampu menghasilkan satu gol.
Como juga unggul dalam jumlah peluang besar, tujuh berbanding tiga. Mereka turut mencatat 53 duel yang dimenangkan, lebih banyak daripada Leipzig yang memenangkan 38 duel.
Keberhasilan tersebut membuat malam di Sinigaglia menjadi semakin istimewa. Stadion yang berkapasitas 13.602 penonton itu mencatat kehadiran 10.198 penonton dalam pertandingan debut Como di Liga Champions.
Atmosfer tersebut mengiringi sebuah kemenangan yang kemungkinan akan menjadi salah satu pertandingan paling penting dalam sejarah klub.
Salah satu pemain yang paling menonjol adalah Baturina. Gelandang Como tersebut bukan hanya mencetak gol pembuka, tetapi juga memberikan assist untuk gol Douvikas. Perannya membuat lini tengah dan serangan Como lebih hidup sepanjang pertandingan.
Baturina bahkan dinobatkan sebagai Man of the Match oleh Flashscore. Performa tersebut melanjutkan tren positifnya pada awal musim 2026/2027. Sebelum menghadapi Leipzig, ia juga sudah mencetak gol ketika Como mengalahkan Napoli dan Genoa di Serie A.
Douvikas juga kembali menunjukkan kontribusinya di lini depan. Gol ke gawang Leipzig menjadi bagian dari start positif Como pada musim ini, sementara Diao menambah satu gol lagi setelah sebelumnya tampil produktif ketika menghadapi Genoa.
Bagi Cesc Fàbregas, kemenangan tersebut menjadi pembuka yang sangat kuat dalam petualangan Como di Liga Champions. UEFA mencatat Fàbregas sebelumnya memiliki pengalaman panjang sebagai pemain di kompetisi tersebut bersama Arsenal, Barcelona dan Chelsea dengan total 104 penampilan. Kini, ia membawa Como menjalani debut klub sebagai peserta kompetisi elite Eropa.
Perjalanan Como menuju titik ini berlangsung sangat cepat. Setelah kembali ke Serie A, mereka mampu mengamankan posisi empat besar pada musim 2025/2026. Posisi tersebut menjadi pencapaian tertinggi dalam sejarah klub dan sekaligus membuat Como menjadi salah satu dari empat debutan pada fase liga Liga Champions musim ini.
UEFA juga mencatat Como menjadi klub Italia ke-12 yang tampil di Liga Champions. Mereka merupakan satu-satunya debutan musim ini yang lolos otomatis ke fase liga, bukan melalui babak kualifikasi.
Sebaliknya, kekalahan tersebut menjadi pukulan berat bagi Leipzig. Klub asal Jerman itu sebenarnya sudah memiliki pengalaman jauh lebih banyak di kompetisi Eropa. Leipzig menjalani musim Liga Champions kedelapan sepanjang sejarah klub pada 2026/2027. Mereka sebelumnya pernah mencapai semifinal pada musim 2019/2020.
Namun, perjalanan mereka pada kompetisi musim ini dimulai dengan kekalahan telak. Hasil tersebut juga menjadi kekalahan kedua secara beruntun setelah sebelumnya Leipzig takluk 1-3 dari Werder Bremen di Bundesliga.
Bek Leipzig David Raum mengakui penampilan timnya jauh dari harapan. Dalam wawancara dengan DAZN seusai pertandingan, Raum mengatakan, “Rasanya benar-benar buruk sekarang. Hari ini kami benar-benar mendapat pukulan telak. Secara keseluruhan, ini bukan penampilan yang bagus dari kami.” Pernyataan tersebut menggambarkan kekecewaan Leipzig setelah gagal memberikan respons yang diharapkan pada laga pembuka Liga Champions.
Sebelum pertandingan, Demichelis memang mengharapkan respons dari timnya setelah kekalahan dari Bremen. Namun, Como justru mampu mengendalikan babak pertama dan membuat Leipzig kesulitan mengembangkan permainan. Laporan pascapertandingan mencatat Leipzig hanya menguasai sekitar 40 persen bola pada babak pertama.
Masalah Leipzig bukan hanya soal penguasaan bola. Mereka juga kesulitan meningkatkan kecepatan sirkulasi dan koordinasi antarpemain ketika Como menaikkan intensitas. Setelah tertinggal dua gol, mereka memang tampil lebih baik pada awal babak kedua, tetapi gol ketiga Como datang dari serangan balik yang cepat.
Kondisi itu memperlihatkan salah satu kekuatan utama Como malam tersebut. Ketika Leipzig mencoba mengambil kendali, tim tuan rumah tidak memaksakan diri untuk terus mendominasi bola. Como mampu menunggu, merebut ruang, kemudian menyerang dengan cepat.
Setelah skor berubah menjadi 3-1, Leipzig sebenarnya memiliki peluang untuk membuat pertandingan kembali terbuka. Namun, Como mampu mempertahankan struktur pertahanannya. Mereka tidak memberikan terlalu banyak kesempatan bersih hingga akhirnya Perrone mencetak gol keempat.
Hasil tersebut sekaligus melanjutkan awal musim Como yang belum terkalahkan setelah empat pertandingan kompetitif. Sebelum menghadapi Leipzig, mereka bermain imbang 1-1 melawan Udinese, menang 2-1 atas Napoli dan mengalahkan Genoa 4-1. UEFA mencatat Como datang ke Liga Champions dengan catatan tersebut setelah memulai musim domestik secara positif.
Jadwal berikutnya akan memberikan ujian berbeda. Setelah menghadapi Leipzig, Como dijadwalkan bertandang ke markas Feyenoord pada 14 Oktober, kemudian menjamu Manchester United pada 21 Oktober. Mereka selanjutnya menghadapi Lens, AEK Athens, Real Betis, Paris Saint-Germain dan Barcelona dalam fase liga.
Karena itu, kemenangan atas Leipzig belum menentukan perjalanan Como di Liga Champions. Namun, tiga poin tersebut memberikan fondasi penting sekaligus menunjukkan bahwa debutan asal Italia itu mampu bersaing ketika menghadapi lawan yang lebih berpengalaman di Eropa.
Malam di Sinigaglia akhirnya bukan hanya menjadi catatan tentang pertandingan pertama Como di Liga Champions. Skor 4-1, performa Baturina, kontribusi Douvikas, Diao dan Perrone, serta kemampuan mereka meredam respons Leipzig membuat debut tersebut menjadi salah satu awal paling mencolok dalam perjalanan klub di panggung Eropa.
Como kini memiliki modal tiga poin dari pertandingan pertama fase liga. Sementara Leipzig harus segera mencari respons setelah membuka kompetisi dengan kekalahan telak. Pada malam ketika sejarah seharusnya menjadi beban bagi Como, justru klub Italia tersebut tampil tanpa rasa gentar dan menjadikan debut Liga Champions sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa mereka datang bukan sekadar sebagai pelengkap.
Editor : Mahendra Aditya