PARIS — Salahdine Parnasse membuat debutnya di UFC dengan cara yang spektakuler.
Tampil di hadapan publik Prancis dalam UFC Fight Night: Hooker vs Parnasse di Accor Arena, Paris, Minggu (6/9/2026) dini hari WIB, Parnasse menghentikan veteran Dan Hooker melalui TKO pada ronde pertama.
Pertarungan kelas ringan yang semula diprediksi menjadi ujian besar bagi Parnasse justru berakhir cepat.
Wasit menghentikan duel pada menit 2:35 ronde pertama setelah Parnasse menjatuhkan Hooker dengan serangan ke tubuh yang kemudian disusul rentetan pukulan.
Kemenangan tersebut memperpanjang rekor Parnasse menjadi 24-2, sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu prospek paling berbahaya di kelas lightweight UFC. Sementara bagi Hooker, kekalahan ini membuat rekornya menjadi 24-15 dan memperpanjang rentetan kekalahan menjadi tiga pertandingan beruntun.
Power Parnasse Langsung Terbukti
Parnasse memasuki UFC dengan reputasi besar. Petarung asal Aubervilliers, Prancis, itu sebelumnya merupakan juara dua divisi KSW, yakni featherweight dan lightweight. Ia juga dikenal sebagai petarung komplet dengan kemampuan striking serta grappling yang sama-sama berbahaya.
Sebelum debut di UFC, Parnasse memiliki rekor 23-2 dengan delapan kemenangan KO/TKO dan tujuh kemenangan submission. Ia juga datang dengan lima kemenangan beruntun.
Namun, penampilan di Paris menunjukkan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik.
Parnasse tampil tenang sejak awal. Ia menggunakan low kick dan feint untuk membaca respons Hooker sebelum menemukan celah di pertahanan lawannya. Setelah serangan ke tubuhnya masuk, Parnasse segera meningkatkan tekanan.
Body kick ke arah liver menjadi titik balik pertarungan. Hooker terlihat kesulitan menahan serangan tersebut, sebelum Parnasse melanjutkannya dengan serangan kaki dan pukulan kiri keras. Wasit akhirnya menghentikan pertandingan setelah Hooker tidak mampu memberikan respons yang cukup.
Kombinasi tersebut memperlihatkan salah satu kekuatan utama Parnasse: kemampuan mencampur serangan kaki, pukulan, feint, serta perubahan tempo dalam satu rangkaian serangan.
Histori Dan Hooker: Veteran dengan Pengalaman Elite
Dan Hooker datang ke pertarungan ini dengan pengalaman jauh lebih panjang di UFC. Petarung Selandia Baru berjuluk The Hangman tersebut melakukan debut UFC pada 2014 dan telah menghadapi sejumlah nama elite.
Hooker pernah berhadapan dengan Dustin Poirier, Michael Chandler, Islam Makhachev, Arnold Allen, Jalin Turner, Mateusz Gamrot, Arman Tsarukyan dan Benoît Saint Denis.
Ia juga dikenal sebagai salah satu striker paling berpengalaman di kelas ringan. Rekor UFC mencatat Hooker memiliki 11 kemenangan KO dan tujuh kemenangan submission, dengan 12 kemenangan lewat penyelesaian pada ronde pertama.
Salah satu kemenangan pentingnya terjadi ketika menghadapi Mateusz Gamrot pada UFC 305. Hooker memenangkan pertarungan tersebut melalui split decision pada 2024.
Namun setelah kemenangan itu, karier Hooker kembali menghadapi jalan terjal. Ia kalah dari Arman Tsarukyan melalui arm-triangle choke pada November 2025, kemudian dihentikan Benoît Saint Denis lewat pukulan pada ronde kedua Januari 2026.
Duel melawan Parnasse seharusnya menjadi kesempatan Hooker untuk kembali membangun momentum. Sayangnya, ia justru kembali dihentikan sebelum mampu mengeluarkan seluruh pengalaman dan kemampuan striking-nya.
Histori Parnasse: Dari KSW ke Panggung UFC
Berbeda dengan Hooker yang sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari UFC, Parnasse memasuki Octagon dengan status pendatang baru.
Tetapi istilah "debutan" tidak sepenuhnya menggambarkan pengalamannya.
Parnasse telah menjalani karier profesional sejak 2015. Ia pernah memenangkan gelar featherweight KSW, kemudian naik kelas dan menguasai lightweight. Ia tercatat sebagai mantan juara dua divisi KSW dan telah menjalani banyak pertarungan perebutan gelar.
Parnasse juga memiliki kemenangan atas sejumlah petarung yang kemudian dikenal di UFC, termasuk Morgan Charriere dan William Gomis.
Menariknya, Parnasse juga memiliki pengalaman tinju profesional. Pada Oktober 2025, ia meraih kemenangan KO pada ronde kedua dalam pertandingan tinju.
Dengan latar belakang tersebut, tidak mengherankan jika UFC langsung memberinya pertarungan utama saat debut.
Perbandingan Power Kedua Fighter
Jika melihat karakter permainan, Hooker sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan.
Hooker memiliki tinggi sekitar 183 cm dengan reach 190 cm, sedangkan Parnasse berada di sekitar 178 cm dengan reach 181 cm. Artinya, Hooker memiliki keuntungan panjang tubuh dan jangkauan.
Hooker juga mempunyai kemampuan striking yang sudah teruji menghadapi elite UFC. Statistik UFC mencatat ia mendaratkan rata-rata 4,82 significant strikes per menit dengan akurasi 48 persen. Ia juga memiliki pertahanan takedown 77 persen.
Namun, Parnasse memiliki keunggulan dalam variasi serangan.
Ia tidak hanya mengandalkan pukulan. Low kick, body kick, high kick, perubahan level, clinch, dan submission menjadi bagian dari arsenal-nya.
Salah satu fakta paling menarik adalah Parnasse memiliki 15 kemenangan melalui KO/TKO atau submission, dari total 23 kemenangan sebelum debut UFC. Delapan kemenangan datang lewat KO/TKO dan tujuh melalui submission.
Itulah yang membuat Parnasse sangat sulit ditebak.
Lawan tidak bisa hanya berkonsentrasi menghadapi pukulan karena serangan kaki dan kemampuan grappling-nya sama berbahayanya.
Paris Menjadi Panggung Pernyataan Parnasse
Pertarungan ini awalnya dipandang sebagai ujian untuk menjawab apakah dominasi Parnasse di luar UFC bisa diterjemahkan ke level tertinggi MMA dunia.
Jawabannya datang hanya dalam waktu 2 menit 35 detik.
Parnasse tidak sekadar menang. Ia menghentikan seorang veteran yang sudah menghadapi banyak nama besar di UFC.
Kemenangan tersebut juga menjadi pernyataan bahwa Parnasse tidak membutuhkan masa adaptasi panjang untuk bersaing di kelas lightweight UFC.
Usai kemenangan, Parnasse langsung menyebut dirinya sebagai petarung terbaik di dunia dan mengincar pertarungan berikutnya melawan nama besar seperti Max Holloway atau petarung top-five.
Dengan kemenangan spektakuler di depan publik Prancis, Parnasse kini memiliki modal besar untuk segera masuk dalam persaingan papan atas lightweight UFC.
Sementara bagi Hooker, kekalahan ini menjadi salah satu titik paling sulit dalam kariernya. Tiga kekalahan beruntun membuat masa depannya di divisi lightweight kembali dipertanyakan.
Yang pasti, UFC Paris bukan lagi sekadar panggung debut bagi Parnasse.
Ini adalah pernyataan bahwa "Lion of Atlas" datang ke UFC bukan untuk belajar, melainkan untuk memburu para petarung terbaik.
Editor : Mahendra Aditya