Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kemiskinan di Indonesia: Antara Anugerah dan Petaka

R
Adnan Ahmad
Adnan Ahmad

Advertisement

Oleh: Adnan Ahmad, Dosen FUHUM UIN Walisongo Semarang

 

Kemiskinan merupakan salah satu persoalan sosial yang tidak pernah benar-benar selesai dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Advertisement

Dari waktu ke waktu, pemerintah telah melaksanakan berbagai program untuk mengurangi angka kemiskinan, mulai dari bantuan sosial, subsidi, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pembangunan infrastruktur, hingga berbagai program perlindungan sosial.

Namun, kemiskinan masih menjadi realitas yang dapat kita jumpai di berbagai daerah.

Di balik angka-angka statistik(BPS dan Bank Dunia), terdapat wajah manusia yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, menyekolahkan anak, mendapatkan layanan kesehatan, dan mempertahankan harapan untuk hidup yang lebih baik.

Advertisement

Pertanyaan yang menarik untuk direnungkan adalah: kemiskinan di Indonesia merupakan anugerah atau petaka? Pertanyaan ini tentu bukan untuk membenarkan kemiskinan, apalagi menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang harus dipelihara.

Sebaliknya, pertanyaan tersebut mengajak kita melihat kemiskinan secara lebih mendalam. Apakah kemiskinan hanya persoalan kekurangan pendapatan, ataukah di dalamnya terdapat pelajaran moral, sosial, dan spiritual yang dapat membangun karakter bangsa?

Jika kemiskinan dilihat hanya sebagai angka seperti yang sedang viral di media sosial (BPS 8,7% dan Bank Dunia 64%), kita mungkin akan kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Tetapi jika kemiskinan dianggap sebagai takdir yang tidak perlu diubah, kita juga dapat terjebak pada sikap pasrah yang justru melanggengkan ketidakadilan.

Advertisement

Artikel Terkait

Politik Adu Domba di Media Sosial: Ancaman Serius bagi Keutuhan NKRI

Politik Adu Domba di Media Sosial: Ancaman Serius bagi Keutuhan NKRI

Politik adu domba bekerja dengan memanfaatkan kelemahan psikologis manusia, terutama kecenderungan untuk lebih mudah merespons informasi yang membangkitkan emosi daripada mempertimbangkan penjelasan yang objektif.

Imperialisme Baru di Perguruan Tinggi: Ketika Dosen Menjadi Pelayan Administrasi

Imperialisme Baru di Perguruan Tinggi: Ketika Dosen Menjadi Pelayan Administrasi

Perguruan tinggi semestinya menjadi rumah bagi kebebasan berpikir, ruang bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan, dan tempat persemaian gagasan-gagasan kritis untuk menjawab persoalan masyarakat.

Ahmad Luthfi Saksikan Drama Fahmil Al-Qur’an Puteri Jateng Lolos Semifinal

Ahmad Luthfi Saksikan Drama Fahmil Al-Qur’an Puteri Jateng Lolos Semifinal

Sebagai tuan rumah, keberhasilan regu Fahmil Al-Qur’an puteri Jawa Tengah turut menjaga asa Jawa Tengah untuk berbicara lebih jauh dalam MTQ Nasional XXXI.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer