Di Balik Transfer Gila-gilaan Premier League: Tapi Kenapa Klub Bisa Rugi Hampir £1 Miliar?

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 07:31 WIB
Logo Liga Inggris
Logo Liga Inggris

RADAR KUDUS - Liga Primer Inggris berada di posisi yang sulit ditandingi dalam industri sepak bola dunia. Hak siarnya bernilai fantastis, sponsor berdatangan, stadion menghasilkan pendapatan besar, dan investor global berebut membeli saham klub.

Namun di balik gemerlap tersebut tersimpan paradoks besar: semakin besar uang yang berputar, semakin berat pula beban biaya yang harus ditanggung klub.

Inilah yang membuat sepak bola Inggris memasuki fase menarik sekaligus mengkhawatirkan. Liga Primer memang menjadi salah satu kompetisi paling kaya di dunia, tetapi kekayaan itu tidak otomatis membuat klub-klubnya sehat secara finansial.

Data terbaru Deloitte dalam Annual Review of Football Finance 2026 memperlihatkan gambaran yang cukup mengejutkan. Pendapatan kolektif klub Liga Primer Inggris pada musim 2024/25 meningkat 8 persen menjadi £6,8 miliar atau bertambah sekitar £490 juta dibandingkan musim sebelumnya yang mencapai £6,3 miliar.

Namun, peningkatan pendapatan tersebut tidak serta-merta menghasilkan keuntungan. Laba operasional gabungan justru turun £274 juta menjadi £263 juta. Lebih mencolok lagi, kerugian sebelum pajak melonjak dari £135 juta menjadi £948 juta. Hanya delapan klub yang mencatat laba operasional, turun dari 13 klub pada musim sebelumnya.

Jadi, kok bisa liga dengan pemasukan hampir £7 miliar justru mencatat kerugian sebelum pajak hampir £1 miliar?

Jawabannya berada pada satu persoalan klasik dalam sepak bola modern: pendapatan tumbuh, tetapi biaya untuk mengejar prestasi tumbuh sangat agresif.

Pengeluaran gaji menjadi salah satu beban terbesar. Deloitte mencatat total biaya gaji klub-klub Liga Primer pada 2024/25 mencapai rekor £4,4 miliar setelah meningkat £381 juta dalam setahun. Rasio gaji terhadap pendapatan secara agregat masih berada di sekitar 65 persen, tetapi nilai nominal yang dikeluarkan klub terus membesar.

Masalahnya tidak berhenti pada gaji pemain. Klub juga harus menanggung amortisasi transfer, biaya operasional stadion, staf, akademi, bunga pinjaman, investasi infrastruktur, serta berbagai biaya lain yang mengikuti ambisi mempertahankan posisi kompetitif.

Di Liga Primer, kegagalan meraih target olahraga dapat berakibat langsung terhadap kondisi keuangan. Klub yang gagal lolos kompetisi Eropa kehilangan potensi pendapatan tambahan. Sebaliknya, klub yang ingin mengejar tiket Liga Champions harus mengeluarkan modal besar untuk memperkuat skuad.

Muncullah lingkaran yang sulit diputus.

Untuk menang, klub membutuhkan pemain berkualitas. Untuk mendapatkan pemain berkualitas, klub harus membayar mahal. Setelah pemain datang, klub harus menyediakan gaji tinggi. Agar mampu membayar semua itu, klub membutuhkan pemasukan besar. Namun untuk memperoleh pemasukan lebih besar, klub kembali dituntut berprestasi.

Persaingan tersebut membuat klub Inggris terus berani mengeluarkan uang meski risiko finansial semakin besar.

Deloitte bahkan memperkirakan biaya terkait pemain kemungkinan kembali tinggi pada 2025/26 karena aktivitas transfer yang meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap laporan keuangan klub-klub Liga Primer.

Ironinya, pertumbuhan komersial Liga Primer sebenarnya sangat kuat.

Pendapatan komersial klub-klub Liga Primer pada 2024/25 meningkat 13 persen atau £278 juta menjadi £2,4 miliar. Pendapatan hari pertandingan juga naik 15 persen atau £133 juta hingga menembus £1 miliar untuk pertama kalinya. Sementara pendapatan hak siar meningkat 2 persen atau £80 juta menjadi £3,4 miliar.

Artinya, problem utama bukan karena uang tidak masuk.

Uang masuk dalam jumlah yang sangat besar. Persoalannya adalah uang tersebut juga keluar dengan kecepatan yang luar biasa.

Kondisi itu menjelaskan mengapa pernyataan bahwa sekitar 90 persen klub Inggris di empat divisi teratas berpotensi mengalami kerugian menjadi perhatian besar. Angka tersebut berasal dari proyeksi yang dikutip dalam materi sumber dan perlu dibaca sebagai estimasi, bukan berarti seluruh klub secara resmi telah membukukan kerugian.

Namun, data aktual Deloitte untuk klub Liga Primer dan EFL menunjukkan bahwa tekanan keuangan memang nyata. Di Championship, misalnya, kerugian operasional klub-klub meningkat 5 persen menjadi £436 juta pada 2024/25. Kerugian sebelum pajak naik 12 persen menjadi £355 juta, dengan hanya dua klub yang mencatat laba sebelum pajak.

Dengan kata lain, persoalan finansial bukan hanya milik klub-klub kecil.

Liga Primer sebagai kompetisi paling atas juga menghadapinya.

Perbedaannya adalah klub-klub Liga Primer memiliki sumber pemasukan jauh lebih besar sehingga masih mampu bertahan dalam perlombaan tersebut. Namun, besarnya pemasukan justru menciptakan ekspektasi yang semakin tinggi.

Klub yang menerima ratusan juta pound dari hak siar tidak bisa begitu saja duduk santai. Fans menuntut perekrutan pemain top, pemilik ingin klub kompetitif, pelatih membutuhkan skuad berkualitas, sementara pesaing terus meningkatkan kekuatan.

Inilah yang membuat bursa transfer Inggris selalu menjadi pusat perhatian.

Pada musim panas 2026, dominasi finansial Inggris kembali terlihat dari aktivitas transfer. Liga Primer tetap menjadi pasar dengan daya beli terbesar dibandingkan lima liga top Eropa lainnya.

Namun, belanja besar bukan selalu tanda bahwa sebuah klub sehat.

Justru sebaliknya, belanja besar dapat menjadi salah satu sumber risiko apabila tidak diimbangi pendapatan dan pengelolaan biaya yang memadai.

Karena itulah mulai musim 2026/27 Liga Primer menerapkan sistem finansial baru bernama Squad Cost Ratio (SCR). Aturan tersebut membatasi pengeluaran terkait skuad hingga 85 persen dari pendapatan sepak bola klub ditambah keuntungan atau kerugian bersih dari penjualan pemain. Klub juga memiliki ruang tambahan tertentu melalui mekanisme allowance multi-tahun, tetapi penggunaan ruang tersebut memiliki konsekuensi finansial.

Jadi, angka 85 persen bukan berarti klub hanya boleh menggunakan 85 persen pendapatannya untuk seluruh kebutuhan. SCR secara khusus mengatur biaya yang berkaitan dengan performa di lapangan.

Aturan tersebut dibuat karena Liga Primer menyadari bahwa pertumbuhan pendapatan saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan kompetisi.

Ada alasan lain yang membuat persoalan ini semakin rumit: kesenjangan kemampuan finansial antarklub.

Klub-klub papan atas memiliki basis penggemar global, kontrak sponsor besar, stadion berkapasitas tinggi, dan akses lebih luas ke kompetisi Eropa. Mereka mampu menghasilkan pemasukan yang jauh lebih besar dibandingkan klub yang baru promosi.

Ketika klub kaya mengeluarkan uang besar untuk pemain, klub lain sering dipaksa ikut bereaksi agar tidak tertinggal.

Inilah efek domino dari kompetisi.

Sebuah klub tidak selalu membeli pemain karena benar-benar memiliki ruang finansial yang ideal. Mereka bisa membeli karena merasa tidak boleh kalah dari rival. Ketika satu klub menaikkan standar transfer dan gaji, klub lain harus mempertimbangkan langkah serupa.

Pada akhirnya, harga pemain dan gaji ikut terdorong naik.

Liga Primer menjadi contoh paling jelas mengenai fenomena tersebut. Pendapatan terus meningkat, tetapi biaya kompetitif juga terus mengikuti.

Menariknya, pada saat klub-klub menghadapi tekanan laporan keuangan, investor justru semakin tertarik masuk.

Kasus Liverpool menjadi salah satu contoh terbaru. Konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia dan didukung keluarga Mittal dilaporkan sedang dalam pembicaraan dengan Fenway Sports Group mengenai investasi minoritas di Liverpool. Potensi transaksi tersebut dapat memberikan valuasi klub di atas US$6 miliar. FSG sendiri telah mengonfirmasi adanya ketertarikan untuk investasi strategis minoritas, meski kesepakatan belum final.

Di sinilah paradoks sepak bola Inggris semakin terlihat.

Klub dapat mengalami tekanan dalam laporan keuangan, tetapi nilai asetnya tetap melonjak.

Mengapa?

Karena investor tidak semata-mata membeli laporan laba rugi satu musim. Mereka membeli merek global, basis penggemar, hak komersial, aset stadion, potensi media, dan posisi klub dalam ekosistem sepak bola dunia.

Liverpool, Manchester United, Manchester City, Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur dan klub-klub besar lainnya bukan hanya organisasi olahraga. Mereka telah berkembang menjadi merek hiburan global.

Itulah sebabnya nilai klub bisa meningkat meski laporan keuangan menunjukkan kerugian.

Deloitte mencatat pendapatan Liga Primer bahkan diperkirakan menembus lebih dari £7 miliar pada 2025/26 setelah adanya peningkatan nilai hak siar dan performa klub-klub Inggris di kompetisi Eropa.

Namun, pertanyaan pentingnya bukan lagi berapa banyak uang yang bisa dihasilkan Liga Primer.

Pertanyaannya adalah berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan status tersebut.

Jika pendapatan tumbuh 8 persen tetapi biaya gaji meningkat ratusan juta pound dan kerugian sebelum pajak melebar hingga £948 juta, maka model bisnis tersebut jelas menghadapi tekanan.

Liga Primer masih sangat kuat. Tidak ada tanda bahwa daya tarik komersialnya akan runtuh dalam waktu dekat.

Justru sebaliknya.

Kompetisi ini semakin bernilai bagi investor, sponsor, pemegang hak siar, dan penggemar di seluruh dunia.

Tetapi semakin besar nilainya, semakin besar pula tuntutan untuk mengelolanya secara berkelanjutan.

Aturan SCR yang mulai diterapkan musim 2026/27 merupakan salah satu respons terhadap masalah tersebut. Liga Primer ingin klub tetap kompetitif tanpa membiarkan biaya skuad berkembang tanpa kendali.

Tantangannya adalah menjaga keseimbangan.

Jika aturan terlalu longgar, klub dapat terjebak dalam perlombaan pengeluaran yang berisiko. Jika terlalu ketat, klub bisa kehilangan fleksibilitas untuk berinvestasi dan meningkatkan kualitas kompetisi.

Karena itu, masa depan Liga Primer bukan hanya tentang siapa yang membeli pemain termahal.

Pertarungan sebenarnya akan berlangsung di ruang keuangan klub.

Siapa yang mampu menghasilkan pendapatan organik paling besar? Siapa yang bisa mengelola gaji dengan efisien? Siapa yang mampu mengembangkan akademi dan menjual pemain dengan nilai tinggi? Siapa yang bisa membangun stadion dan bisnis komersial tanpa menambah beban utang secara berlebihan?

Klub yang mampu menjawab pertanyaan tersebut akan memiliki keunggulan jangka panjang.

Sebaliknya, klub yang hanya mengandalkan suntikan modal dan belanja transfer berisiko menghadapi persoalan ketika performa olahraga tidak sesuai harapan.

Data Deloitte memperlihatkan bahwa masalah tersebut sudah terjadi dalam skala besar. Pada 2024/25, hanya delapan klub Liga Primer yang mencatat laba operasional, sedangkan kerugian sebelum pajak secara kolektif mendekati £1 miliar.

Jadi, mengapa Liga Primer yang disebut-sebut sebagai liga terkaya justru bisa mengalami kerugian?

Karena menjadi liga terkaya tidak berarti menjadi liga dengan biaya termurah.

Semakin besar uang yang tersedia, semakin tinggi pula harga untuk bersaing.

Hak siar yang fantastis menaikkan pendapatan. Sponsor global memperbesar pemasukan. Tiket dan hospitality menghasilkan miliaran. Investor menaikkan valuasi klub.

Namun pada saat yang sama, gaji pemain, harga transfer, biaya operasional, amortisasi, bunga, investasi infrastruktur, dan tuntutan prestasi ikut melonjak.

Itulah wajah sebenarnya sepak bola modern Inggris: bukan kekurangan uang, melainkan terlalu mahal untuk menang.

Liga Primer mungkin tetap menjadi kompetisi paling bernilai di dunia. Tetapi di balik stadion penuh, kontrak televisi bernilai miliaran, transfer fantastis, dan klub-klub yang dihargai miliaran dolar, terdapat persoalan yang tidak bisa lagi diabaikan.

Uang memang terus mengalir ke sepak bola Inggris.

Pertanyaannya, apakah klub-klubnya mampu membuat uang tersebut bekerja lebih cepat daripada biaya yang mereka keluarkan untuk mengejar kemenangan?

Jika tidak, maka paradoks Liga Primer akan terus berulang: liga semakin kaya, tetapi klub-klubnya justru semakin sibuk mencari cara agar tidak merugi.

Editor : Mahendra Aditya
Liga Primer Inggris kerugian klub Liga Inggris keuangan Premier League aturan finansial Premier League premier league