RADAR KUDUS - Perjalanan Tim Nasional Argentina menuju puncak Piala Dunia 2026 tidak bisa dilepaskan dari hubungan erat antara Lionel Scaloni dan Lionel Messi.
Di balik kesuksesan Albiceleste dalam beberapa tahun terakhir, keduanya menjadi sosok sentral yang mengubah wajah Argentina dari tim yang sempat diragukan menjadi kembali diperhitungkan sebagai kekuatan utama sepak bola dunia.
Kini, Argentina hanya selangkah lagi menuju sejarah baru. Setelah memastikan tempat di partai final Piala Dunia 2026, Albiceleste berpeluang mempertahankan gelar yang diraih pada edisi 2022 sekaligus menambah koleksi trofi dunia menjadi empat.
Jika mampu menuntaskan misi tersebut, Lionel Scaloni berpeluang mencatatkan namanya sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Piala Dunia.
Kesuksesan tersebut lahir dari proses panjang yang dimulai jauh sebelum Scaloni menjadi pelatih kepala. Hubungan keduanya sudah terjalin ketika masih sama-sama mengenakan seragam Timnas Argentina sebagai pemain.
Baca Juga: Prancis vs Inggris Perebutkan Peringkat Ketiga Piala Dunia 2026, Mbappe dan Kane Bidik Sepatu Emas
Pada 17 Agustus 2005, Lionel Messi menjalani debut bersama tim senior Argentina dalam laga uji coba melawan Hungaria. Meski pertandingan itu hanya berlangsung singkat bagi Messi karena menerima kartu merah beberapa detik setelah masuk lapangan, Scaloni menjadi salah satu pemain senior yang memberikan dukungan kepada talenta muda tersebut.
Kebersamaan mereka kembali terlihat pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Saat Messi mencetak gol pertamanya di ajang Piala Dunia ketika menghadapi Serbia dan Montenegro, Scaloni menjadi pemain pertama yang menghampiri dan memberikan ucapan selamat kepada rekan mudanya tersebut. Momen-momen sederhana itu menjadi awal hubungan yang terus berkembang selama bertahun-tahun.
Meski terpaut usia sekitar sembilan tahun, keduanya membangun hubungan yang tidak hanya sebatas pemain dan rekan setim. Banyak pengamat sepak bola Argentina menilai komunikasi yang terjalin di antara mereka menyerupai hubungan kakak dan adik. Kedekatan tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Scaloni dipercaya menangani tim nasional.
Argentina sempat mengalami salah satu periode paling sulit setelah Piala Dunia 2018 di Rusia. Di bawah kepemimpinan Jorge Sampaoli, Albiceleste gagal memenuhi ekspektasi. Mereka hanya mampu bermain imbang melawan Islandia, kalah telak dari Kroasia di fase grup, dan akhirnya tersingkir pada babak 16 besar setelah dikalahkan Prancis yang kemudian menjadi juara dunia.
Kegagalan tersebut memunculkan krisis kepercayaan terhadap tim nasional. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) kemudian menunjuk Lionel Scaloni sebagai pelatih sementara. Keputusan itu sempat dipandang sebelah mata karena pengalaman Scaloni sebagai pelatih kepala masih sangat minim. Sebelumnya ia lebih banyak berperan sebagai asisten pelatih serta menangani kelompok usia muda Argentina.
Di tengah keraguan publik, Scaloni memilih membangun fondasi baru. Ia melakukan regenerasi skuad dengan memadukan pemain senior dan generasi muda, sekaligus menciptakan suasana ruang ganti yang lebih harmonis. Salah satu langkah terpentingnya adalah meyakinkan Lionel Messi agar tetap bertahan membela Argentina.
Setelah kegagalan di Copa America 2016 dan Piala Dunia 2018, Messi sempat mempertimbangkan untuk menjauh dari tim nasional. Namun Scaloni bersama staf kepelatihannya, termasuk Pablo Aimar, terus menjalin komunikasi dengan sang kapten. Mereka memaparkan visi jangka panjang mengenai pembangunan tim yang lebih kompetitif dan solid.
Kepercayaan yang diberikan kepada Messi akhirnya menjadi titik balik kebangkitan Argentina. Di bawah arahan Scaloni, Albiceleste meraih gelar Copa America 2021, kemudian menjuarai Finalissima 2022, sebelum akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan menjadi juara Piala Dunia 2022 di Qatar.
Prestasi tersebut tidak hanya mengembalikan kejayaan Argentina, tetapi juga memperkuat posisi Scaloni sebagai salah satu pelatih terbaik generasi saat ini. Filosofinya yang sederhana namun efektif membuat Argentina tampil lebih seimbang dalam bertahan maupun menyerang.
Pada Piala Dunia 2026, hubungan harmonis antara pelatih dan kapten kembali menjadi salah satu kekuatan utama Argentina. Messi tetap menjadi pemimpin di lapangan, sementara Scaloni menjaga stabilitas tim dari sisi teknis maupun mental. Kombinasi keduanya membawa Argentina kembali menembus final setelah melewati berbagai tantangan, termasuk kemenangan dramatis atas Inggris di babak semifinal.
Di luar lapangan, Scaloni dikenal sebagai sosok yang tenang dalam menghadapi tekanan. Salah satu kalimat yang sering ia sampaikan adalah bahwa "matahari akan tetap terbit esok hari", sebuah filosofi yang mencerminkan ketenangan dan keyakinannya dalam menghadapi situasi sulit. Namun, pada Piala Dunia 2026, emosinya beberapa kali terlihat, termasuk saat Argentina memastikan tiket ke final hingga membuatnya sulit menyembunyikan rasa haru ketika diwawancarai.
Apabila Argentina berhasil mengangkat trofi dunia untuk kedua kalinya secara beruntun, Scaloni akan mengukir sejarah sebagai pelatih kedua yang mampu memenangkan dua gelar Piala Dunia setelah Vittorio Pozzo bersama Italia pada edisi 1934 dan 1938. Sementara bagi Lionel Messi, keberhasilan itu akan semakin melengkapi warisan luar biasa yang telah ia tinggalkan sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Duet Scaloni dan Messi menjadi bukti bahwa kesuksesan besar tidak hanya dibangun oleh kualitas individu, tetapi juga oleh kepercayaan, komunikasi, dan visi yang sama. Dari masa-masa sulit selepas Piala Dunia 2018 hingga kini berdiri di ambang sejarah baru, keduanya telah mengubah Argentina menjadi simbol konsistensi dan kekuatan sepak bola dunia.
Editor : Mahendra Aditya