RADAR KUDUS - Sunderland AFC menghadirkan kejutan besar bagi dunia sepak bola lewat peluncuran jersey tandang musim 2026/2027 yang tak biasa.
Klub berjuluk The Black Cats tersebut resmi memperkenalkan seragam terbaru mereka hasil kolaborasi unik dengan Elvis Presley Estate dan Authentic Brands Group, menjadikannya kolaborasi pertama semacam ini di Liga Primer Inggris.
Jersey yang diproduksi oleh Hummel ini tampil mencolok dengan perpaduan warna pink dan hitam, jauh berbeda dari desain jersey sepak bola pada umumnya.
Pemilihan warna tersebut terinspirasi dari era awal karier Elvis Presley, khususnya masa penampilannya di acara radio Louisiana Hayride pada 1954, sekaligus terinspirasi gaya ikonik Cadillac dan lemari pakaian sang legenda musik.
Momen simbolis: diluncurkan tepat di hari peringatan konser terakhir Elvis
Peluncuran jersey ini digelar di Empire Theatre, Sunderland, pada Kamis, 26 Juni 2026, tanggal yang dipilih secara khusus.
Karena bertepatan dengan peringatan penampilan panggung terakhir Elvis Presley di Indianapolis pada 1977, sekitar 49 tahun sebelumnya.
Elvis kala itu menutup konser terakhirnya dengan menyanyikan lagu "Can't Help Falling in Love With You" lagu yang kini justru menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Sunderland.
Ikatan emosional antara klub dan lagu tersebut bermula sejak 1977, ketika para suporter Sunderland dan Hull City bernyanyi bersama menyanyikan lagu itu hanya beberapa minggu setelah kepergian Elvis, dalam laga pembuka musim kala itu.
Sejak saat itu, "Can't Help Falling in Love" menjadi lagu wajib yang dinyanyikan suporter Sunderland setiap sebelum pertandingan dimulai, baik di kandang maupun tandang, selama hampir lima dekade.
Detail desain penuh makna
Di bagian dalam kerah jersey, tercetak lirik lagu legendaris tersebut, berdampingan dengan lambang klub dan replika tanda tangan asli Elvis Presley.
Jersey ini juga dihiasi motif emboss halus terinspirasi estetika desain era 1950-an, lengkap dengan detail inisial SAFC yang tersebar di seluruh permukaan kain, sementara lambang klub dan logo Hummel di bagian depan turut dibalut warna pink senada.
Kepala Komersial Sunderland, Scott McCubbin, menjelaskan makna mendalam di balik kolaborasi ini.
"Hubungan antara Sunderland dan Elvis tidak seperti hubungan lainnya di dunia sepak bola. Selama hampir lima dekade, 'Can't Help Falling In Love' telah menjadi lagu pengiring beberapa momen paling berkesan kami dan sentimennya melambangkan hubungan antara klub dan para pendukung kami. Kolaborasi ini memungkinkan kami untuk merayakan warisan tersebut dengan cara yang kreatif, berani, dan otentik," ujar McCubbin.
Bagian dari kerja sama jangka panjang, dijual hingga ke Graceland
Kolaborasi ini bukan sekadar proyek satu kali, melainkan awal dari kerja sama multi-tahun antara Sunderland dan Elvis Presley Estate, yang disebut klub sebagai "episode satu" dari rangkaian kolaborasi yang akan terus berlanjut.
Jersey "Sunderland x Elvis Hummel Away Shirt 2026-27" ini tersedia dalam berbagai varian, mulai dari ukuran dewasa, perempuan, anak-anak, hingga versi lengan panjang, lengkap dengan koleksi pakaian latihan terinspirasi tema film Blue Hawaii.
Yang membuat peluncuran ini semakin istimewa, jersey tersebut turut dijual di Graceland, kediaman legendaris Elvis Presley di Memphis, Amerika Serikat sebuah langkah yang diyakini menjadi pertama kalinya dalam sejarah merchandise olahraga dunia.
Peluncuran jersey unik ini turut menjadi penanda kebangkitan Sunderland setelah kembali berlaga di kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 53 tahun terakhir, usai finis di posisi ketujuh Premier League musim lalu yang memastikan tiket ke Liga Europa.
Pencapaian ini menjadi kisah comeback luar biasa bagi klub yang sempat terdampar delapan tahun di luar kasta teratas Liga Inggris, termasuk empat musim di League One.
Meski desain nyentrik ini mendapat respons yang cukup beragam dari sebagian suporter, tak sedikit pula penggemar yang menyambutnya dengan antusias sebagai bentuk penghormatan otentik terhadap sejarah dan identitas klub yang jarang ditemui di dunia sepak bola modern. (wa)
Editor : Ali Mustofa