Paris - Kegagalan total Timnas Portugal di panggung Piala Dunia 2026 terus berbuntut panjang.
Mantan penyerang legendaris Prancis, Youri Djorkaeff, melemparkan kritik tajam dengan menuding bahwa para penggawa Selecao das Quinas sengaja melakukan boikot tak terlihat terhadap kapten mereka sendiri, Cristiano Ronaldo.
Langkah Portugal di turnamen sepak bola terakbar sejagat itu harus terhenti prematur di babak 16 besar setelah ditumbangkan tetangga serumpun mereka, Spanyol, dengan skor tipis 0-1.
Hasil minor ini mengulangi memori kelam edisi 2010 dan 2018, di mana Portugal juga terdepak di fase gugur pertama.
Sepanjang turnamen, performa Ronaldo sejatinya tidak bisa dibilang buruk.
Megabintang pemilik lima gelar Ballon d'Or tersebut selalu dipercaya turun sebagai starter dalam lima pertandingan dan sukses membukukan tiga gol.
Kendati demikian, publik tetap terbelah; sebagian menilai eksistensi Ronaldo di lini depan justru menghambat kedinamisan taktik tim, sementara sebagian lain pasang badan membelanya.
Djorkaeff berada di barisan yang membela CR7. Pemenang trofi Piala Dunia 1998 bersama Les Bleus ini meyakini bahwa mandeknya produktivitas Portugal bukan murni kesalahan Ronaldo, melainkan dampak dari keengganan para pemain lain untuk mengalirkan bola kepadanya.
"Jika Anda memutuskan untuk membawa Cristiano Ronaldo ke dalam skuad, maka seluruh tim harus bermain dan melayani Cristiano Ronaldo. Namun, hal itu sama sekali tidak terlihat di lapangan," cetus Djorkaeff saat berbicara kepada media Prancis, Radio RMC Sport.
"Bagi saya jelas sekali bahwa dia diboikot oleh rekan setimnya sendiri. Mereka tidak memberikan dukungan yang layak dan tidak menempatkannya dalam posisi ideal untuk mencetak gol," lanjut mantan bintang Inter Milan dan Paris Saint-Germain tersebut.
Tuntut Pemain Muda Ambil Tanggung Jawab
Lebih lanjut, Djorkaeff menilai ada standar ganda yang diterapkan oleh skuad asuhan pelatih Portugal saat ini.
Menurutnya, mustahil mengharapkan pemain veteran seperti Ronaldo mengubah karakteristik bermainnya yang sudah teruji selama puluhan tahun secara instan.
"Kita semua tahu bagaimana gaya main Cristiano, dia selalu bermain dengan cara yang sama sejak dulu. Apa yang mereka harapkan dari dia sekarang? Berubah dalam semalam? Pilihannya mudah: jangan panggil dia sekalian, atau cadangkan dia. Tapi jika Anda memilih memasukannya ke lapangan, Anda wajib membangun skema permainan di sekelilingnya."
Djorkaeff juga menyoroti mentalitas para pemain generasi baru Portugal yang dianggap terlalu berlindung di balik nama besar sang kapten saat tim mengalami kebuntuan.
"Apa yang membuat saya tidak sreg dengan skuad Portugal saat ini adalah, meski mereka dihuni talenta-talenta luar biasa, semua orang seolah-olah melempar beban tanggung jawab hanya ke pundak Cristiano," kritik Djorkaeff.
"Untuk ke depannya, nama-nama seperti Vitinha, Bruno Fernandes, dan pemain pilar lainnya harus berani mengambil alih tanggung jawab. Anda tidak bisa terus-menerus mendesak Cristiano melakukan segalanya sendirian. Dia bukan satu-satunya aktor yang berkewajiban membuat perbedaan di tim itu," pungkasnya.
Pasca-ketersinggapan tragis di babak 16 besar tersebut, Cristiano Ronaldo sendiri telah mengonfirmasi secara emosional bahwa Piala Dunia 2026 ini akan menjadi panggung Piala Dunia terakhir dalam karier profesionalnya.
Sepanjang sejarah keikutsertaannya, prestasi tertinggi Ronaldo bersama Portugal di turnamen empat tahunan ini adalah menduduki peringkat keempat pada debutnya di Piala Dunia Jerman 2006 silam.
Editor : Iwan Arfianto