JAKARTA – Sepuluh tahun lalu, Lionel Messi berdiri di titik terendah dalam karier internasionalnya. Setelah kegagalan Argentina di final Copa America 2016 melawan Chile, sang kapten mengumumkan keputusan mengejutkan yang mengguncang dunia sepak bola: pensiun dari tim nasional.
Saat itu, Messi merasa seluruh usahanya belum cukup untuk membawa Argentina menjadi juara. Rentetan kegagalan di final membuatnya kehilangan harapan.
"Bagi saya, tim nasional sudah berakhir. Saya sudah melakukan semua yang saya bisa," ucap Messi kala itu.
Namun sejarah ternyata memiliki rencana berbeda. Satu dekade kemudian, tepat menjelang ulang tahunnya yang ke-39, Messi tidak hanya masih mengenakan seragam Argentina, tetapi juga mencatatkan namanya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Keputusan untuk membatalkan pensiun pada 2016 kini dikenang sebagai salah satu titik balik terbesar dalam sejarah sepak bola modern.
Baca Juga: Rekor Piala Dunia Miliknya Tumbang, Miroslav Klose Justru Beri Hormat Tinggi kepada Lionel Messi
Dari Kekecewaan Menjadi Era Keemasan Argentina
Sejak kembali membela Argentina, Messi berhasil mengubah narasi karier internasionalnya secara dramatis. Bersama pelatih Lionel Scaloni, Argentina menjelma menjadi salah satu tim paling dominan dalam sepak bola dunia.
La Albiceleste sukses menjuarai Copa America 2021 dan 2024, sekaligus mengakhiri puasa gelar internasional yang berlangsung selama puluhan tahun.
Puncaknya terjadi pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Messi memimpin Argentina meraih gelar juara dunia ketiga sepanjang sejarah setelah mengalahkan Prancis dalam final yang disebut sebagai salah satu pertandingan terbaik sepanjang masa.
Pada turnamen tersebut, Messi mencetak tujuh gol, termasuk dua gol di partai final yang mengukuhkan statusnya sebagai legenda sepak bola dunia.
Rekor yang Mengguncang Piala Dunia 2026
Kini, di Piala Dunia 2026, Messi kembali mencuri perhatian dunia. Dalam kemenangan 2-0 Argentina atas Austria pada laga Grup J, ia mencetak dua gol yang membuat koleksi golnya di putaran final Piala Dunia mencapai 18 gol.
Catatan tersebut melampaui rekor 16 gol milik legenda Jerman, Miroslav Klose, yang bertahan lebih dari satu dekade.
Ironisnya, malam bersejarah itu tidak dimulai dengan sempurna. Messi sempat gagal mengeksekusi penalti pada menit-menit awal pertandingan. Namun kegagalan tersebut justru menjadi awal kebangkitannya.
Menjelang akhir babak pertama, Messi mencetak gol pembuka lewat penyelesaian khas kaki kirinya. Kemudian pada masa injury time babak kedua, ia kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan bola liar di depan gawang Austria.
Dua gol tersebut memastikan Argentina lolos ke babak 32 besar sekaligus mengantarkan Messi ke singgasana baru sebagai raja gol Piala Dunia sepanjang masa.
Baca Juga: Usia Hampir 39 Tahun, Lionel Messi Cetak Sejarah Baru dan Lampaui Rekor Miroslav Klose
Statistik yang Sulit Dinalar
Pencapaian Messi semakin luar biasa ketika melihat bagaimana ia menciptakan rekor tersebut.
Piala Dunia 2026 menjadi turnamen keenam yang diikutinya sejak debut pada edisi 2006 di Jerman. Dari total 18 gol yang dicetak, sebanyak 13 gol lahir setelah dirinya sempat mengumumkan pensiun dari tim nasional pada 2016.
Lebih mencengangkan lagi, 12 dari 18 gol tersebut dicetak setelah Messi berusia 35 tahun. Sebuah usia yang biasanya menjadi masa akhir bagi mayoritas pesepak bola profesional.
Hingga fase grup berlangsung, Messi juga telah mengoleksi lima gol dan menjadi pemimpin daftar top skor sementara Piala Dunia 2026.
Tak hanya produktif mencetak gol, Messi juga tercatat sebagai pemain dengan jumlah peluang tercipta terbanyak dalam sejarah Piala Dunia. Visi bermain, kecerdasan membaca ruang, serta kemampuan mengatur tempo pertandingan membuatnya tetap menjadi pusat permainan Argentina.
GOAT yang Terus Menulis Sejarah
Banyak mantan pemain dan pengamat sepak bola dunia kembali mengangkat perdebatan mengenai status Greatest of All Time (GOAT) setelah melihat performa Messi di usia yang hampir menyentuh 39 tahun.
Mantan bek Wales Ashley Williams menyebut dunia mungkin baru saja menyaksikan pemain terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepak bola.
Pendapat serupa datang dari mantan gelandang Inggris Danny Murphy yang menilai kecerdasan sepak bola Messi berada di level yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sementara itu, juara dunia bersama Prancis pada 2018, Olivier Giroud, menilai gaya hidup sehat dan disiplin tinggi menjadi salah satu faktor utama yang membuat Messi tetap kompetitif di level tertinggi.
Argentina dan Ketergantungan pada Messi
Di balik gemerlap rekor tersebut, muncul satu pertanyaan besar. Apakah Argentina terlalu bergantung kepada Messi?
Faktanya, seluruh lima gol Argentina di Piala Dunia 2026 sejauh ini lahir dari kaki sang kapten. Kontribusi luar biasa tersebut memang membawa Argentina melaju mulus ke fase gugur, tetapi sekaligus menunjukkan betapa sentralnya peran Messi dalam permainan tim.
Namun bagi banyak penggemar sepak bola, ketergantungan itu bukanlah masalah selama Messi masih mampu menghadirkan keajaiban.
Karena hingga hari ini, satu dekade setelah sempat meninggalkan tim nasional, Lionel Messi terus membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemain hebat. Ia adalah sosok yang mengubah sejarah, memecahkan batas usia, dan menciptakan warisan yang mungkin tak akan terulang dalam waktu yang sangat lama.
Editor : Mahendra Aditya