RADAR KUDUS - Era Pep Guardiola bersama Manchester City resmi berakhir dengan cara yang emosional sekaligus menyakitkan. Dalam pertandingan terakhirnya sebagai pelatih The Citizens, Guardiola harus menyaksikan timnya kalah 1-2 dari Aston Villa di Etihad Stadium pada pekan terakhir Premier League 2025/2026.
Laga tersebut bukan sekadar pertandingan biasa. Ini menjadi penampilan ke-593 Guardiola bersama Manchester City sekaligus penutup perjalanan salah satu era paling dominan dalam sejarah sepak bola Inggris.
Selama hampir satu dekade menangani City, Guardiola berhasil mempersembahkan 20 trofi besar, termasuk empat gelar Premier League beruntun yang membuat Manchester City menjadi kekuatan utama sepak bola Eropa.
Atmosfer haru sudah terasa sejak sebelum kick-off. Para suporter memenuhi Etihad Stadium untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pelatih asal Spanyol itu. Namun skenario indah yang diharapkan publik tuan rumah justru berubah menjadi malam penuh drama.
Manchester City sebenarnya memulai pertandingan dengan sangat baik. Mereka berhasil unggul lebih dulu lewat Antoine Semenyo yang mencetak gol melalui tendangan voli memanfaatkan situasi sepak pojok. Gol tersebut membuat stadion bergemuruh dan sempat memunculkan keyakinan bahwa Guardiola akan menutup kariernya di City dengan kemenangan manis.
Namun Aston Villa tampil luar biasa setelah turun minum.
Tim asuhan Unai Emery menunjukkan mentalitas kuat dan permainan disiplin yang perlahan mengubah arah pertandingan. Ollie Watkins kembali menjadi sosok pembeda bagi Villa.
Penyerang Timnas Inggris itu sukses mencetak gol penyama kedudukan setelah memanfaatkan kesalahan John Stones dalam mengantisipasi bola di kotak penalti. Watkins bergerak cepat sebelum menaklukkan James Trafford dan membuat skor berubah menjadi 1-1.
Momentum pertandingan langsung berbalik memihak Aston Villa.
Watkins kembali menghukum Manchester City pada pertengahan babak kedua. Striker berusia 30 tahun itu berhasil lolos dari pengawalan lini belakang City sebelum melepaskan penyelesaian dingin ke gawang Trafford.
Sempat dianulir karena dianggap offside, VAR akhirnya mengesahkan gol tersebut setelah Ruben Dias dinilai membuat Watkins berada dalam posisi onside. Gol itu memastikan Aston Villa berbalik unggul 2-1.
Manchester City mencoba bangkit di sisa waktu pertandingan. Phil Foden sempat membuat Etihad Stadium meledak setelah mencetak gol spektakuler yang menghantam mistar sebelum masuk ke gawang. Namun kegembiraan itu hanya berlangsung sesaat karena VAR kembali bekerja dan menganulir gol akibat offside.
Momen emosional juga terjadi ketika Bernardo Silva menjalani laga terakhirnya bersama Manchester City. Gelandang asal Portugal itu mendapat standing ovation dari seluruh stadion saat ditarik keluar. Guardiola terlihat memeluk Silva dengan mata berkaca-kaca di pinggir lapangan.
John Stones juga menjalani pertandingan perpisahan bersama City, sementara Erling Haaland hanya duduk di bangku cadangan demi menjaga kebugaran jelang agenda internasional bersama Norwegia.
Meski kalah, para suporter Manchester City tetap bertahan di stadion setelah peluit akhir berbunyi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Guardiola. Tepuk tangan panjang dan nyanyian dari tribune menjadi penutup emosional bagi pelatih yang telah mengubah sejarah klub.
Di sisi lain, kemenangan ini semakin menegaskan kebangkitan Aston Villa di bawah arahan Unai Emery. Setelah sukses menjuarai Liga Europa dan memastikan tiket Liga Champions musim depan, Villa kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan baru sepak bola Inggris.
Ollie Watkins kembali membuktikan dirinya sebagai striker paling konsisten di Premier League musim ini. Dua gol ke gawang Manchester City membuatnya kini mencetak delapan gol dalam 10 laga terakhir liga.
Saat Manchester City menutup era Guardiola dengan air mata, Aston Villa justru melanjutkan perjalanan penuh ambisi menuju level tertinggi sepak bola Eropa.
Editor : Mahendra Aditya