Semarang – Pertandingan Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC melawan Dewa United berubah ricuh setelah terjadi insiden kekerasan di lapangan.
Laga yang digelar di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4), itu diwarnai aksi tak sportif yang memicu kehebohan di kalangan pecinta sepakbola nasional.
Keributan bermula dari gol Dewa United yang diprotes kubu Bhayangkara karena dinilai berada dalam posisi offside.
Protes yang tak kunjung mereda membuat suasana pertandingan memanas hingga akhirnya memicu bentrokan antarpemain.
Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, sejumlah pemain dari kedua tim terlihat saling kejar dan terlibat aksi kekerasan.
Bahkan, beberapa di antaranya terekam melakukan tendangan keras menyerupai kungfu ke arah lawan.
Salah satu pemain Bhayangkara, Fadly Alberto Hengga, menjadi sorotan setelah aksinya menendang pemain lawan dari belakang viral di internet.
Aksi tersebut menuai kritik tajam dari publik, yang menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap profesional, terlebih di level pembinaan usia muda.
Namun, versi lain juga muncul dari pihak Bhayangkara.
Manajemen klub menyebut bahwa pemain mereka terpancing emosi akibat dugaan ucapan tidak pantas dari lawan.
Meski begitu, klub tetap menegaskan tidak membenarkan tindakan kekerasan tersebut dan akan melakukan evaluasi internal.
Di sisi lain, Dewa United menyampaikan kecaman keras terhadap insiden tersebut.
Mereka menilai tindakan kekerasan dalam kompetisi usia muda merupakan pelanggaran serius terhadap nilai sportivitas dan berpotensi merusak proses pembinaan pemain.
PSSI pun langsung merespons cepat kejadian ini.
Sekjen Yunus Nusi memastikan bahwa kasus tersebut akan segera diproses oleh Komite Disiplin.
Ia menegaskan bahwa sanksi berat akan dijatuhkan kepada pihak-pihak yang terbukti bersalah.
“Ini menjadi perhatian serius. Kami tidak mentoleransi tindakan kekerasan di sepakbola, apalagi di level usia muda,” ujarnya.
Dampak dari insiden ini juga dirasakan langsung oleh Fadly Alberto.
Ia dilaporkan dicoret dari skuad Timnas Indonesia U-20 serta kehilangan dukungan dari sponsor pribadinya.
Melalui media sosial, Fadly telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan siap menerima konsekuensi atas perbuatannya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak tentang pentingnya menjaga sportivitas dan emosi di lapangan, terutama dalam kompetisi yang bertujuan membina generasi muda sepakbola Indonesia.
Editor : Iwan Arfianto