Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ini Alasan Wasit Anulir Gol Salto Pemain PSIR Rembang saat Lawan Persak Kebumen

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 11 Februari 2026 | 18:53 WIB
Tangkapan layar tendangan salto pemain PSIR Rembang yang berakibat kartu kuning
Tangkapan layar tendangan salto pemain PSIR Rembang yang berakibat kartu kuning

REMBANG – Sepak bola kerap menghadirkan momen yang membuat penonton terpaku.

Salah satunya adalah tendangan salto—gerakan akrobatik yang menuntut keberanian, kelenturan, dan timing presisi. Namun di level kompetisi resmi, keindahan tak selalu sejalan dengan keabsahan.

Itulah yang terjadi dalam leg pertama semifinal Liga 4 Jawa Tengah antara PSIR Rembang dan Persak Kebumen, Senin (9/2), di Stadion Sarwo Edhie Wibowo, Purworejo. Skor akhir 1-1 seolah menjadi catatan biasa, tetapi satu keputusan wasit mengubah laga ini menjadi bahan perdebatan luas.

Gol salto pemain PSIR, M. Ubaid, yang sempat mengguncang gawang Persak, dianulir. Tak berhenti di situ, Ubaid justru menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Reaksi publik pun terbelah—antara yang terpukau dan yang menuntut penegakan aturan.

Namun di balik hiruk-pikuk emosi, ada satu hal yang sering luput dibahas: logika keselamatan pemain dalam hukum permainan.


Salto Bukan Dilarang, Tapi Bersyarat

Dalam Laws of the Game, tendangan salto tidak pernah dilarang secara mutlak. Teknik ini sah dan legal selama tidak menimbulkan risiko cedera bagi pemain lain.

Masalah muncul ketika kaki pemain berada di ketinggian kepala lawan dalam jarak berbahaya. Di titik inilah wasit tak lagi menilai estetika, melainkan potensi risiko benturan, terutama terhadap kepala—bagian tubuh yang mendapat perlindungan ekstra dalam sepak bola modern.

???? Permainan berbahaya (dangerous play) didefinisikan sebagai upaya memainkan bola yang berpotensi mencederai orang lain, meskipun tanpa kontak fisik langsung.

Artinya, jika seorang bek harus menarik kepala atau menghindar karena kaki penyerang melayang terlalu dekat, wasit memiliki dasar kuat untuk menghentikan permainan.


Kenapa Tanpa Kontak Pun Bisa Dihukum?

Inilah aspek yang jarang dipahami publik. Banyak penonton beranggapan pelanggaran baru terjadi jika ada sentuhan fisik. Faktanya, reaksi pemain bertahan menjadi indikator penting.

Jika pemain bertahan:

maka situasi itu sudah masuk kategori membahayakan, walau sepatu penyerang tak menyentuh kepala sama sekali.

Dalam konteks laga PSIR vs Persak, wasit menilai posisi kaki Ubaid berada di zona berisiko tinggi dan melibatkan pemain belakang Persak dalam radius jangkauan. Dari sudut pandang regulasi, keputusan tersebut punya pijakan hukum.


Beda Situasi, Beda Putusan

Sebagai pembanding, salto bisa dinyatakan 100% sah jika:

Itulah mengapa dalam beberapa pertandingan internasional, gol salto tetap disahkan. Bukan karena wasit lebih “lunak”, melainkan karena konteks keamanannya berbeda.


Momen yang Mengubah Jalannya Laga

Sebelum insiden tersebut, PSIR Rembang sebenarnya berada dalam momentum positif. Setelah tertinggal lebih dulu, tim berjuluk Laskar Dampo Awang bangkit di babak kedua melalui gol penyeimbang Hairul “Panjul”.

Salto Ubaid sempat dianggap sebagai klimaks kebangkitan PSIR. Namun satu keputusan mengubah segalanya. Gol dianulir, kartu kuning kedua keluar, dan PSIR harus bertahan dengan 10 pemain hingga akhir laga.

Meski demikian, mereka mampu menjaga skor tetap imbang—sebuah hasil yang tetap bernilai jelang leg kedua di Rembang.


Reaksi Publik: Emosi vs Regulasi

Video insiden cepat menyebar di media sosial. Kolom komentar dipenuhi ekspresi kecewa, kagum, hingga kemarahan. Banyak yang menilai wasit “membunuh keindahan sepak bola”.

Namun sebagian lain mengingatkan bahwa keselamatan pemain adalah mandat utama wasit, bukan kepuasan visual penonton.

Perdebatan ini menunjukkan satu hal: edukasi tentang aturan permainan masih kalah cepat dibanding viralitas potongan video.


PSIR Merasa Dirugikan, Tapi Tetap Fokus

Manajer PSIR Rembang, Rasno, tak menutupi kekecewaannya. Ia menilai keputusan tersebut merugikan timnya secara teknis dan psikologis.

Namun di balik kritik itu, PSIR memilih menatap ke depan. Bermain imbang di kandang lawan dengan 10 pemain dianggap sebagai modal penting menuju leg kedua.

PSIR memastikan tetap mengedepankan sportivitas dan fokus pada permainan, bukan pada polemik.


Pelajaran Penting dari Kontroversi Ini

Kasus ini membuka ruang diskusi yang lebih luas:

Tendangan salto akan selalu memikat. Namun selama kaki masih berpotensi bertemu kepala, keputusan wasit hampir pasti berpihak pada keselamatan.

Editor : Mahendra Aditya
#Liga 4 Jateng #liga 3 #psir rembang #gol salto psir #Gol Salto #PSIR Rembang VS Persak Kebumen #liga 4 #liga nusantara