Keluhkan Mual hingga Diare, 27 Siswa MAN Lasem Jalani Penanganan Medis, Bupati Turun Tangan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 12:08 WIB
KOORDINASI: Bupati Rembang Harno (bertopi) berkoordinasi dengan Kepala Dinkes dr Ali Syofi’i di Puskemas Lasem kemarin sore. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)
KOORDINASI: Bupati Rembang Harno (bertopi) berkoordinasi dengan Kepala Dinkes dr Ali Syofi’i di Puskemas Lasem kemarin sore. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG - Bupati Rembang Harno mendatangi Puskesmas Lasem pada Selasa sore untuk melihat langsung kondisi siswa MAN 2 Rembang atau MAN Lasem.

Yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Harno datang bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang, dr Ali Syofi’i.

Dalam kunjungannya, Bupati Rembang menyempatkan diri menjenguk para siswa yang menjalani penanganan medis.

Ia juga berkeliling melihat kondisi ruangan hingga masuk ke ruang Kepala Puskesmas Lasem, dr Joko Paryanto, yang berada di lantai II.

Dalam kesempatan tersebut, Harno menyampaikan keprihatinannya atas kejadian yang menimpa para siswa MAN Lasem.

Ia meminta seluruh sumber daya yang tersedia, mulai dari tenaga kesehatan, peralatan medis hingga obat-obatan, disiapkan secara maksimal untuk menangani para korban.

Perhatian juga diarahkan pada pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan MBG tersebut.

“Kami merasa prihatin adanya musibah ini. Semua yang terdampak yang masuk di Puskesmas Lasem, saya berharap ditangani secara maksimal, agar cepat pulih,” kata Harno.

Kepala Dinkes Rembang dr Ali Syofi’i mengatakan, pihaknya telah menerima laporan mengenai sejumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan layanan MBG.

Hingga pukul 14.47, tercatat terdapat 27 pasien yang mendapatkan penanganan di Puskesmas Lasem.

Dari jumlah tersebut, 13 pasien diputuskan menjalani rawat inap, sementara 14 lainnya masih menjalani observasi.

“13 diputuskan untuk dirawat inap dan 14 observasi. Kalau ada peningkatan gejala mungkin dirawat. Kalau terkendali bisa dipulangkan,” jelas Ali.

Sementara itu, siswa yang mengalami gejala ringan maupun yang tidak menunjukkan gejala masih didata oleh tim Dinkes Kabupaten Rembang di sekolah.

Perkembangan kondisi para siswa nantinya akan disampaikan lebih lanjut.

Dugaan gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan MBG yang disajikan pada 7 September dan dikonsumsi para siswa sekitar pukul 12.00 WIB.

Beberapa siswa mulai merasakan gejala pada hari yang sama sekitar pukul 18.00 WIB. Keluhan yang muncul pada sejumlah pasien antara lain mual, muntah, nyeri perut, diare, dan lemas.

“Sebagian yang dirawat di sini ketika bertemu dengan kami, keluhannya mual, muntah, nyeri perut, diare, dan lemas,” terangnya.

Untuk memastikan penyebab kejadian tersebut, petugas Dinkes tidak hanya melakukan pemeriksaan terhadap para siswa.

Tim juga turun langsung ke sekolah serta melakukan inspeksi terhadap SPPG yang berkaitan dengan penyediaan makanan MBG.

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses memasak, rantai pasokan bahan pangan, penyimpanan, pengemasan atau packing, hingga proses pemorsian makanan.

Selain itu, Dinkes juga mengumpulkan berbagai bukti yang diperlukan untuk mengetahui sumber persoalan.

Sampel makanan dan bahan makanan turut diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap sampel muntahan maupun feses korban.

Ali menjelaskan, proses pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu sehingga penyebab kejadian tidak bisa langsung disimpulkan.

“Butuh waktu. Sebagaimana kasus sebelumnya, butuh 14 hari untuk tahu hasil labnya. Baru kami simpulkan,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar bagi Dinkes untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa MAN Lasem serta menentukan langkah penanganan selanjutnya. (noe)

Editor : Ali Mustofa
MAN 2 rembang bupati rembang harno program mbg MAN Lasem